11/28/2016

Kembali Ke Solo

Kembali ke Solo. Kali ini untuk sebuah tugas kantor yang sangat tidak biasa.

The New York Public Library - Front Side

Gedung the New York Public Library ini terletak di kawasan Bryant Park, 5th Avenue. Pada bagian depannya, dijaga sepasang patung singa. Anak-anak tangga untuk masuk menuju lobby ramai dijadikan tempat beristirahat para pengunjung. Pada halaman depan, banyak kursi besi berserak.





Website sang Habib



Dari beberapa portal berita, disebutkan kalau web habib galak ini ditutup. Ternyata, baik lewat wifi maupun XL, web ini masih bisa diakses. Saya setuju jika web ini ditutup karena isinya penuh dengan kebencian. Sepertinya, agenda dia hanya satu: Ahok harus dipenjara! 

Bicara maksiat yang menjadi fokus utama gerakan habib ini, seolah apapun yang berhubungan dengan Ahok adalah maksiat. Melihat simbol senjata tajam di salah satu logo yang tercantum, tak heran jika kekerasan menjadi andalannya.

11/27/2016

Go South

Terbangun. Saya berada di sebuah tempat antah barantah. Terbang menuju selatan. Mencari jalan ke Gunung Salak. Rintangan. Hambatan. 

11/23/2016

The Killer

Terbangun. Pagi itu, di sebuah rumah, saya berantem dengan sorang pria yang tak saya kenal. Saya menusukkan pisau ke perutnya. Dia meninggal. Bingung, harus bagaimana? Haruskah melapor polisi? Menelpon keluarga? Mutilasi? Terbayang bagaimana hidup saya setelah kejadian itu. Saya berharap itu cuma mimpi. Tapi ternyata bukan.

Masih dalam keadaan bingung, saya bungkus mayat pria itu dengan kain, lalu saya masukkan dalam bath tub. Seharian bingung, saya isi dengan fokus pada kertas-kertas kerja. Sorenya, saya tersadar dengan peristiwa yang terjadi di pagi hari. Pembunuhan itu. Segera saya ke kamar mandi untuk melihat si mayat. Eh, mayat yang terbungkus kain itu bergerak-gerak. Ketika saya buka kainnya, dia masih hidup! Dia, tidak mati! Oalah senangnya.

11/04/2016

Kemana keberpihakan ABRI dalam Pilkada DKI 2017?

Pilkada DKI semacam panas. Begini yang terbaca:
- Netral. Tapi, mungkinkah?
- Memihak Agus. Agus digunakan oleh SBY untuk memojokkan Jokowi, karena seperti banyak dugaan banyak orang, Jokowi sangat mendukung Ahok. Selain itu, ABRI menilai bahwa Jokowi terlalu berpihak pada Cina, sementara ABRI sangat tidak suka dengan Cina. SBY dan ABRI bekerja sama agar Agus bisa menang dalam pilkada ini
- Sangat tidak memihak Agus. Agus dianggap sebagai contoh buruk bagi rekrutmen militer dan ini mempermalukan ABRI. Untuk itu, militer sangat tidak suka jika ada anggotanya yang keluar dari kesatuan, dan berhasil di luar kesatuannya. Ingat kasus Norman Kamaru? Dia keluar, dari POLRI mati-matian menutup jalan untuk kemajuan karirnya. Akhirnya, sengsaralah dia.

Spekulasi semata.

11/03/2016

Perang Kuda

Begini yang terbaca di media: Jokowi dan Megawati menginginkan Ahok kembali jadi gubernur DKI. SBY menginginkan Agus jadi gubernur DKI. Prabowo menginginkan Anies jadi gubernur DKI. Lalu semuanya jadi absurd. 

Ahok menyebut Surat Almaida pada sebuah kunjungan kerja. Lalu heboh, karena diinterpretasi berbeda oleh sejumlah pihak. Dianggap melecehkan Islam. Di tempat berbeda, isteri Munir minta penyelesaian kasus suaminya diusut tuntas. Lalu, pihak istana menyebarkan info jika dokumen investigasi Munir hilang. Ada info dari BIN kalau SBY terlibat. SBY tersudut. Lalu, mengundang sejumlah ulama, membahas kasus Ahok. Ada rencana untuk membalas Jokowi, dengan mengorbankan Ahok. Muncul gelombang pengusutan kasus Ahok, di sejumlah tempat di Indonesia, sangat sistematis.

Lalu, Jokowi bertemu Prabowo. Mereka yang pernah berseteru dalam pemilu lalu, bersekutu melawan SBY, dengan simbolisasi kuda. SBY angkat bicara: Ahok harus dituntut, jangan sampai menunggu lebaran kuda!



10/25/2016

Mulai Lagi...

Minggu pagi, seperti biasa, saya mengantar anak-anak les berenang di velodrom, Rawamangun. Sementara isteri saya menjaga mereka, saya ambil sepatu olah raga dan mulai mengukur jalan. Saya bejalan, dan terus berjalan hingga ke Kawasan Industri Pulo Gadung. Lumayan, sekitar sembilan kilometer. Well, tentu saja badan kaget. Tapi insyaallah akan saya terus kerjakan. Saya sudah mulai panik dengan berat badan saya yang 86 kg ini. 

Sebetulnya, sudah banyak usaha sudah saya lakukan. Tapi tidak bisa awet. Kecuali, sudah sebulan lebih, saya tidak makan nasi. Badan mulai ringan, perut mulai bisa ditarik, tapi berat badan masih. Target saya, akhir tahun ini, saya bisa menurunkan berat badan hingga 75 kg. Possible? It is possible. Dan, masih cara jalan lain untuk mencapai target ini.

10/23/2016

Sepuluh Paper, dalam Sepuluh Bulan!


Hingga Oktober ini, alhamdulillah saya telah menyelesaikan 10 paper. Sebagian sudah terpublikasikan, sebagian lainnya menunggu jadwal publikasi. Mungkin tahun ini, mungkin tahun depan, mungkin  tahun depannya lagi. Berikut adalah judul-judul dari karya yang saya tulis, baik sendiri maupun berkelompok dengan rekan dosen dan mahasiswa:

1. Predicting Customers’ Intention to Revisit A Vintage-Concept Restaurant
2. Giving Over Taking/Receiving in Volunteer Tourism
3. Entrepreneurial Education and Taking/Receiving & Giving (TRG) Motivations on Vocational School Students’ Entrepreneurial Intention 
4. Extending the Shapero’s Model: Entrepreneurial Education Can Predict Entrepreneurial Intention of Vocational School Students?
5. Investigating the White Collars’ Intention to Visit a Sharia Compliant Hotel: They Should Be Religious? 
6. Is Physical Environment Important to Influence Japanese Restaurants’ Customer Satisfaction? Evidence from Indonesia 
7. Investigating the Impulse Buying of Young Online Shoppers
8. Indonesian Consumers against Israeli Products: Animosity on Product Judgement, Motivation, and Boycott Intention
9. Favourable and Unfavourable Attitudes of Young Female Residents toward Middle Eastern Male Tourists 
10. The Impact of Attitude, Subjective Norm, and Motivation on the Intention of Young Female Hosts to Marry with a Middle Eastern Tourist: A Projective Technique Relating to Halal Sex Tourism in Indonesia
11. The Impact of Financial Literacy on Saving Intention and Saving Behaviour of
Student Teachers


Untuk saat ini, hal yang terpenting yang saya lakukan adalah produktif menulis, urusan terbit di mana, itu urusan kedua. Sebuah proses, perlu perjuangan. 

Publication Career Ladder

Saya menyebutknya 'publication career ladder'. Bahwa setiap dosen wajib melakukan penelitian dan mempublikasikan hasil penelitiannya, baik melalui seminar maupun jurnal. Saya sudah melakukan keduanya. Apakah sudah cukup? Ternyata belum.

Untuk kenaikan pangkat di bawah golongan empat, yang pengurusannya masih dilakukan di tingkat universitas, sekedar jurnal internasional saja sudah cukup. Namun jika publikasi itu ditujukan untuk kenaikan pangkat ke golongan empat, apalagi guru besar, maka jurnal internasional bereputasi ini sangat penting. Maksud bereputasi ini adalah jurnal yang terindeks oleh Scopus atau Thompson Reuters, dua lembaga pengindeks jurnal yang dianggap adidaya, yang memiliki index factor tinggi. Konon, sekedar teridenks oleh kedua lembaga ini saja tidak cukup.

Adapun untuk dapat menulis sebuah paper dan dapat diterbitkan pada jurnal terindeks Scopus atau Thompson Reuters, tidak mudah. Sekalipun bagi saya. Selain perlu kemampuan menulis dengan bahasa Inggris yang baik, pun metodologi yang digunakan harus benar, serta segala sesuatu yang dibahas harus sesuai dengan kaidah penulisan sebuah paper kelas tinggi. Ngap-ngapan.

Kendala ini sangat besar, sehingga banyak dosen yang tidak melakukan apapun. Namun saya bukan kelompok yang tidak melakukan apapun. Saya juga bukan dosen yang dengan mudah bisa menuliskan karya dan menerbitkannya pada jurnal terindeks Scopus atau Thomson. Hal yang saya lakukan adalah menulis dan terus menulis. Ada beberapa sasaran yang saya tuju:

- Seminar internasional, dan berharap karya saya dapat dipublikasikan, baik di web penyelenggara, maupun diarahkan untuk terbit pada jurnal, baik yang terindeks Scopus atau Thompson, maupun jurnal lokal
- Jurnal nasional/internasional, yang tidak terindeks pun tidak apa-apa, selama karya saya bisa online
- Jurnal nasional terakreditasi Dikti. Hal ini selain diminta oleh Dikti, juga karena karya saya bisa online
- Jurnal terindeks Scopus, tapi yang dikelola universitas baik di Indonesia maupun di luar negeri.

Beberapa karya sudah terbit dan dapat ditemukan online, beberapa lagi segera dalam tahun ini. 

Inilah perjuangan. Tak ada Scopus, akar pun jadi. Selama karya saya dapat dipublikasikan online, selama masih bisa muncul di Google Scholars, tetap akan saya lakukan. Saya jadikan perjalanan ini adalah sebuah proses untuk mengasah kemampuan saya untuk menulis. Karena saya kurang pandai, karena saya lihai. Maka, saya jadikan 'publication career ladder' ini sebagai tangga menuju kesempurnaan karya. 



10/19/2016

Dipagut Ular

Sudah cukup lama tidak bermimpi apa-apa. Barusan terbangun.

Saya sedang berjalan di sebuah gang. Sunyi. Tiba-tiba ular sebesar pergelangan tangan mematuk jari telunjuk kanan dan memagutnta kencang. Saya kibas-kibas, tak juga mau lepas. Sampai saya lemas. Innalillahi. Ada apakah?

9/28/2016

OktoberFest, Sebentar Lagi

Minggu pertama Oktober, ada deadline paper dan laporan penelitian, banyak banget! Padahal saya sangat moody. Sudah tahu deadline, kalau mood sedang off, sulit untuk diajak kompromi. Well, ada dua laporan penelitin yang harus selesai. Ada empat konferensi yang juga menagih untuk paper. Semua menumpuk di Oktober minggu pertama! Benar-benar OktoberFest.

9/19/2016

Susahnya Cari Makan di Shanghai



Susah mencari makanan yang pas buat saya makan. Ada restoran Jepang yang saya jajal siang tadi. Menunya ternyata banyak mengandung babi atau bebek. Makanan Jepang yang biasa tampak di restoran Jepang di Jakarta, nyaris tidak ada. Well, akhirnya pilihan jatuh le udang goreng tepung.

Malam ini, saya keluar rumah. Niat hati mencari makan. Kembali mengunjungi mall yang sebelumnya saya kunjungi. Setelah menelurusi setiap lantai di mall itu, akhirnya saya memutuskan untuk memesan jentang goreng saja, di McD. Cari aman.

Tentang Membenci Ahok

Beberapa waktu lalu, beredar video-video yang dibuat mahasiswa berisi ajakan untuk menolak Ahok karena dianggap kafir. Mereka benar, jika Quran menyatakan agar umat Muslim untuk tidak memilih pemimpin non-Muslim. Mereka bilang, mereka sedang berdakwah.

Bagi saya, mahasiswa-mahasiswa itu, lupa, bahwa di bawah Quran, ada Pancasila dan UUD 45 karena mereka tinggal di Indonesia. Hukum di mana mereka berada, mengikat. Mereka harus patuh pada hukum yang berlaku. Kita tidak hidup sekedar untuk beragama saja, tapi untuk juga bernegara dan bermasyarakat.

Bayangkan, seorang mahasiswa ilmu keperawatan berapi-api membenci manusia yang berbeda suku. Bayangkan, seorang mahasiswa kependidikan menghujat manusia lain yang berbeda keyakinan. Bayangkan jika mereka kelak terjun ke masyarakat mengamalkan ilmunya. Bayangkan, jika orang-orang seperti mereka ada di tengah masyarakat kita yang multikultur.

Hujan-hujanan

video

video
Waktu tadi pagi pamit mau jalan, nyonya rumah nawarin payung tapi saya tolak. Ketika ternyata hujan tak ada putusnya, saya merasa bodoh sekali. Semua orang di jalan yang saya temui pakai payung semua. Mungkin begini musim hujan di Tiongkok. Saya hanya mengandalkan jaket untuk nutupin badan biar tidak terlalu basah, dan tidak tembus tas karena betisi laptop.

Tahun Seminar

Begitu seorang sahabat saya tahu saya sedang di Tiongkok untuk sebuah seminar, dia bertanya: "Nggak bosen ikut seminar?"

Saya hanya tertawa. Tentu, tidak bosan. Bagi saya, tahun ini adalah tahun seminar. Saya memiliki pulhan draft paper yang harus dipublikasikan. Tak apa saya bekerja sangat keras, tak apa saya mengeluarkan uang yang banyak untuk ini. So, selama ini sudah enam seminar saya ikuti:
- Bandung dua kali, Oktober nanti akan ada satu kali lagi
- Surabaya, mengantar enam orang mahasiswa
- Bali, panitia penyelenggara
- Yogyakarta satu kali, akan ada satu kali lagi
- Malang

Tahun ini, sembilan kali saya rasa sudah cukup. Sebelumnya, saya tak pernah sekalipun ikut seminar di dalam negeri. Tahun inilah saya ingin fokus di sini, biar lebih murah, biar bisa lebih banyak seminar yang bisa saya ikuti. Jika pun seminar yang di Tiongkok inj saya hadiri, ini karena biaya tiket dan hotel ditanggung panitia.

Tak Ada Google dan Facebook di Tiongkok

Begitu tmendarat di Tiongkok, saya disambut hujan. Hal penting yang saya pikirkan adalah segera membeli nomor lokal.

9/18/2016

People I Met in Shanghai







The Bund



Penasaran dengan the Bund. Maka ketika diajak oleh teman saya ke sana, tentu saja saya setuju. So, setelah makan malam di restoran Jepang, kami berempat ke sana. Ternyata, sebuah pinggiran sungai yang karena pemandangan di seberangnya menarik, berupa landscape kota, banyak orang datang untuk melihat. Tak heran begitu banyak orang yang datang.