Skip to main content

Posts

Andai Prabowo Menang

Saya membayangkan jika benar, apa yang dilakukan oleh lembaga-lembaga survei itu adalah kebohongan. Mereka berkonspirasi untuk membentuk sebuah opini bahwa paslon nomor 01 yang benar-benar menang. Lalu di mana akal sehat?
Jika benar paslon 02 yang menang, perang semacam apa yang akan terjadi di jalanan-jalanan? Akankah para pendukung paslon 01 diam ketika gegap gempita kemenangan berbalik jadi ode yang menyakitkan?
Sementara itu, paslon 02 tetap dengan halusinasinya. Lalu apa yang dilakukannya orang-orang terdekatnya yang seolah hilang kewarasan tidak percaya hasil hitung cepat? Wake me up.
Recent posts

Lalu, Sebagai Wadek

Entah, ini minggu ke berapa saya duduk sebagai Wakil Dekan Bidang Akademik. Pekerjaan setumpuk yang perlu perhatian dan penanganan. Persoalan akademik, satu per satu datang, yang memerlukan pemecahan segera dan tepat. Kadang harus pening memutar kepala mencari solusi untuk satu dua persoalan. Satu per satu juga pergi. Satu pergi, datang seribu. 
Sesuai dengan amanat, saya hanya setahun menjabat posisi ini. Tapi waktu hanyalah waktu. Meskipun pendek, saya tetap harus bekerja baik agar hasilnya baik. Tidak saja bagi saya, tapi juga bagi orang lain dan lembaga. Supaya orang-orang memberikan amanat ke saya tidak sia-sia. Insyaallah.

Berkunjung ke IGD

Di dalam kuping bagian kanan, rasanya ada sesuatu yang mendesak. Sore ini saya niatkan pulang cepat, mampir ke RS Islam. Maksud hati berkunjung ke THT, ternyata dokter yang bertugas sudah pulang. Akhirnya saya ke IGD, ditangani oleh dokter umum di sana. 
Saya bercerita, beberapa hari lalu saya naik pesawat ke dan dari Medan. Pada perjalanan pulang, bahkan hingga saya keluar dari pesawat, kuping berasa sakit. Peristiwa umum saat kita naik pesawat, kuping mendapat tekanan udara. Tapi rasa sakit ini terasa hingga saya turun. Nah, sebagian rasa sakit itu saya rasakan hari ini.
Setelah diperiksa, alhamdulillah, kuping saya aman. Mudah-mudahan memang aman.

Medical Check Up

Hari ini dan kemarin ada jadwal medical check up di kampus. Pulang dari Depok, mungkin terlalu siang. Tiba di kampus, saya mampir ke tempat di mana medical check up berlangsung. Saat akan mengambil darah, petugasnya mengatakan bahwa puasa yang saya ambil terlalu lama. Lewat dari 12 jam. Ngok. 
Untungnya, saya masih bisa memanfaatkan kunjungan itu untuk memeriksa hal lain, seperti mata, jantung, dan hal-hal lain. Pagi ini kembali untuk melanjutkan. Saya periksa darah, dan rontgen. Sebetulnya, kemarin saya masih galau dengan rontgen karena dua minggu lalu saya melakukan foto rontgen di RS Islam. Tapi pagi ini mantap saya memutuskan untuk kembali mengambil rontgen. Untuk melihat beda sebelum dan sesudah pengobatan.
Konon, hasil pemeriksaan kesehatan ini baru akan selesai dua minggu lagi. Mudah-mudahan tak ada yang serius. Minggu lalu, saya sudah berencana melakukan medical check up, sudah berbincang serius dengan istri saya. Tinggal menunggu waktu. Tiba-tiba kampus menyelenggarakannya, …

Satu Presiden dan Mantan Bertamu ke Rumah Saya

Saya di rumah Bogor. Tetiba ada rombongan Pak Jokowi dan istri datang ke rumah saya. Tak begitu lama, rombongan Pak SBY dan istri datang juga. Sementara tamu yang lain sibuk dengan orang tua saya, Bu Ani menghampiri saya. Beliau berbicara panjang lebar. Hal yang menarik perhatian saya adalah wajah beliau merah-merah seperti pupur yang menutupi seluruh wajahnya. 
#mimpitadimalam #semogalekassembuhbuani
Ketika bangun, saya berdoa semoga ada sesuatu yang menggembirakan datang di hari ini dan esok hari. Sore harinya, saya mendapat surat pengangkatan saya untuk posisi baru.

Dilema Scopus di Awal Tahun

Pagi ini membuka email. Ada pemberitahuan dari sebuah jurnal bahwa artikel saya diterima dengan revisi. Ada rasa syukur, tentu. Tapi ada juga sedikit mengeluh. Artikel ini adalah hasil dari sebuah hibah penelitian yang saya menangkan. Tuntutan dari hibah ini adalah publikasi. Saya mengirimkan ke sebuah jurnal terindeks Scopus 3. Tapi melihat prosesnya yang lama, saya kemudian mengirimkan juga ke sebuah jurnal terindeks Scopus yang kelasnya lebih rendah. Artikel ini diterima dan terbitlah. Saya memilih yang kedua karena lebih cepat terbit. Tentu saja, diterbitkannya artikel ini membuat laporan penelitian saya menjadi lancar. Begitulah. Jika mau sabar, hasilnya akan lebih baik. Tapi sistem Dikti tidak menganut sabar-sabaran. Harus cepat sesuai dengan tenggang waktu yang telah ditentukan. 
So, tarik nafas panjang. Lepaskan. 
Email kedua yang saya baca adalah, hasil review untuk artikel saya yang lain dari sebuah jurnal terindeks Scopus yang lain. Keputusannya, ditolak. Tak apa. Komentar…

Nursery Time, Serpong

Pagi ini saya ke UMN Serpong untuk mengambil berkas UAS. Jalanan masih lengang. Orang masih pada libur kayaknya. Sepertinya ini kunjungan terakhir saya untuk sementara waktu. Saya mundur tak akan lagi mengajar di sana. Terlalu jauh dan ada hal lain yang tak saya bisa ungkap di sini. Masuk dengan baik, selesai dengan baik.
Hari masih pagi. Dari kampus UMN, saya sempatkan mampir ke sebuah nursery di Serpong yang pernah saya kunjungi sebelumnya. Saya masih perlu sejumlah tanaman untuk mengisi sejumlah bagian dari kebun saya.