1/08/2017

Resolusi pada Bulan Kelahiran

Orang-orang menandai sesuatu yang baru, entah itu resolusi, harapan, doa, dan lain-lain, mengikuti pergantian tahun. Lalu banyak harapan dan resolusi berhamburan di bulan Desember atau Januari. Tapi tidak semua orang lahir di bulan Desember dan Januari. Untuk itu, hal yang logis membuat resolusi adalah ketiga bulan kehadiran hadir. So, bulan depan ketika saya berulang tahun, saya akan membuat resolusi-resolusi tahun 2017 ini. 

Dari Bawah, untuk Terlihat, Terdengar, dan Terus Ada.

Ada seorang dosen perempuan yang suatu hari datang ke kantor menemui saya untuk sebuah urusan. Dia memuji beberapa hal mengenai cara saya bekerja. Lama tak berjumpa, tiba-tiba papasan di luar kantor. Saya sempat lupa karena memang tak begitu mengenal orang itu. Dia bercerita ingin berhenti sebagai dosen. Ia, waktu itu, sudah memiliki pekerjaan lain yang menghasilkan lebih banyak uang. Saya terkejut, tentu. Beberapa hari setelah pertemuan itu, percakapan dengan ibu itu masih terngiang di telinga: ia ingin berhenti menjadi dosen dan memilih bekerja di tempat lain, sebagai agen asuransi. 
Tidak mudah bagi saya memahami cara pemikirannya.

Beberapa lama kemudian, saya mengiktui sebuah program TV tentang kontes menyanyi. Seorang peserta, pria, berpenampilan sederhana meskipun oleh pembawa acara berwajah ganteng dan oleh para juri dibilang bersuara merdu, di tengah pertarungan, memutuskan untuk mundur. Hal yang membuat para pembawa acara dan juri gusar dan kesal. Kontestan ini menyisihkan sejumlah peserta demi tampil live di TV nasional dan ia telah mendapatkannya lalu menyia-nyiakannya. Sungguh hal yang sulit diterima. Orang itu malah ingin mengejar mimpinya untuk menjadi seorang guru. Seorang guru!

Lalu tahun lalu, seorang tentara anak mantan presiden, mundur dari karir militernya demi mengikuti pemilihan gubernur Jakarta yang belum tentu dimenanginya. Ngok. Semua orang kaget, sulit memahami keputusan yang tak biasa ini.

Tiga contoh di atas mungkin memang sulit dipahami oleh orang-orang yang tak berada pada posisi di mana orang-orang di atas berada. Seorang dosen yang menjadi agen asuransi, seorang calon penyanyi yang memilih jadi guru, dan seorang tentang yang memilih jadi politikus. Keputusan besar, keputusan sulit mungkin. Mungkin keputusan yang sama besarnya ketika saya memutuskan untuk menjadi dosen beberapa tahun lalu. Berubah arah, memulai dari bawah. Lalu, berusaha sekuat tenaga untuk terlihat, terdengar, dan terus ada.



1/06/2017

Menjadi PTNBH?

Belum lama ini saya ngobrol dengan seorang sahabat saya dari Universitas Diponegoro. Mereka baru saja mendapatkan status baru sebagai PTNBH, perguruan tinggi negeri dengan status badan hukum. Untuk menjadi sebuah PTNBH, salah satu syaratnya adalah jumlah publikasi pada jurnal yang bereputasi. 

Sahabat saya juga bercerita tentang dosen-dosen di sana yang mendapatkan penghargaan sebagai dosen produktif dalam publikasi. Lalu saya penasaran, melacak daftar publikasi dari nama-nama dosen yang disebutkan. Wow, memang luar biasa. Setahun bisa belasan hingga puluhan publikasi. Sinting. Saya jadi terganggu. Ingin juga seproduktif itu. 

Apakah UNJ tidak tertarik untuk menjadi PTNBH? Cita-cita ada, tapi apa daya, tidak ada usaha untuk mewujudkannya. Tak banyak dosen yang berminat meneliti dan mempublikasikan karyanya. Selain itu, sistem yang terbentuk saat ini, masih payah. 

1/03/2017

Rencana Tahun Ini: Menyelesaikan Hal-hal yang Sudah Dimulai di Tahun Lalu

Libur panjang tahun baru. Banyak waktu saya habiskan di rumah. Saya memang agak trauma dengan kemacetan. Maka, saya banyak menulis, membereskan paper-paper yang sudah mendekati deadline, paper-paper yang saya harapkan bisa saya kirim ke berbagai jurnal di tri wulan pertama tahun baru ini. Selain menulis, minggu ini akan saya sibukkan dengan mengejar jadwal mengajar dan ujian akhir, memeriksa hasil ujian akhir, dan mengumumkannya ke mahasiswa. 

Kembali ke urusan tulis menulis paper, selama liburan natal dan tahun baru, saya membaca kembali puluhan jurnal, mempelajari kelebihan dan kekurangan mereka supaya saya bisa leluasa bermanuver melakukan olah data dan mempresentasikannya. Dan, semakin yakin saya dengan kekurangan yang saya miliki. Pertama, bahasa Inggris saya masih belum dapat diandalkan. Kedua, keterampilan saya mendiskusikan hasil penelitian dengan teori-teori yang sudah ada, masih belum layak. Ketiga, topik saya dari Sabang sampai Merauke, masih terlalu luas. Saya belum bisa membatasi bidang penelitian pada satu topik saja. Saya mudah bosan. Itu alasannya. 

Tantangan saya ke depan, dapatkah saya fokus pada satu topik tertentu saja? Misalnya, perilaku turis. Hmmm, saat ini saya pastikan belum bisa. Entahlah jika tahun-tahun depan. Mungkin saja bisa. Tahun ini, sama seperti tahun-tahun sebelumnya, saya masih tertarik menulis tentang tourism, sharing economy, financial literacy, mobile money, social marketing, selfie, entrepreneurship, sharia marketing, service marketing, media consumption... Riweuh. 

Mungkin tahun depan, saya bisa fokus memilih satu topik saja: tourism? Ah, sungguh pilihan sulit. Kecuali, saya menggabungkan topik-topik yang banyak itu dengan pilihan utama saya. Misalnya, tourism dan sharing economy, tourism dan selfie, tourism dan sharia marketing, tourism dan financial literacy, tourism dan media consumption... Baiklah, saya akan pikirkan nanti saja.

Saat ini, fokus menyelesaikan puluhan draft paper, dan juga buku, yang sudah mulai dibuat. Selesaikan apa yang sudah saya mulai. Bismillah. Ambisi politik? I would if I chosen. 

Ahok pada Polling Merdeka.com



Dari portal Merdeka.com, polling masih menunjukkan Ahok nomor satu, jauh dari para penantangnya. Hasil ini sangat berbeda dengan survei-survei yang dilakukan oleh lembaga survei. Tentu saja, karena online, semua orang meskipun mereka bukan warga DKI Jakarta, bisa mengikuti polling ini. 

12/30/2016

Two Deadlines for Book Chapters!

Saat ini saya sedang menghadapi dua deadline yang jatuh secara bersamaan. Keduanya book chapter, yang tentu saja sangat saya idam-idamkan untuk bisa berkontribusi di dalamnya. Paper pertama tentang Belitung, pulau yang termasyur gegara sebuah film. Paper kedua tentang selfi berbusana traditional di tempat wisata. Perlu konsentrasi luar biasa untuk bisa menyelesaikan keduanya. Masih ada dua minggu. Fokus! Fokus! Namun semakin berusaha fokus, semakin banyak godaan yang mampir. 

12/27/2016

20 Paper pada 2025!

Diam-diam, saya punya obsesi untuk dapat mempublikasikan karya yang dapat diterlusuri online sebanyak 100 buah pada 2025. Possible? Possible. Tapi, tahun 2025 saya belum pensiun kan? Beginilah, jika berkarir menjadi dosen tapi terlambat. Saya harus mulai dari nol di usia yang tidak lagi muda, mempelajari banyak hal baru, dan berusaha eksis sebagai pengajar sekaligus peneliti. 

Katakan, tahun ini saya punya 18 publikasi publikasi, lalu, setiap tahun berikutnya saya punya 10 buah publikasi. Maka, niscaya jika saya tertib dan disiplin menulis, insyaallah, obsesi 100 judul di tahun 2025 bisa tercapai. Untuk itu, saya harus dapat bekerja cerdas. Misalnya, cari co-author yang dapat meringankan beban. Selain itu, melihat jurnal dari kiri ke kanan, dari atas ke bawah. Tak boleh keukeuh harus jurnal terindeks Scopus, jurnal-jurnal kampus yang terakreditasi atau yang baru pun, selama mereka bisa online, saya rasa oke juga. Maklum, saya pun kesulitan sangat untuk menghasilkan karya-karya baik. Sekedar ala kadarnya. Ayo, bismillah. 

12/10/2016

Tektek Bengek

Riweuh bagi waktu untuk mengajar dan segala tektek bengeknya, menulis paper dan publikasinya, urusan ini dan segala tektek bengeknya, urusan itu dan segala tektek bengeknya...

Self-Portrait






Mahasiswa MM saya minta untuk membuat lukisan wajahnya sendiri, sebagai bagian dari aktivitas perkuliahan.

11/28/2016

Kembali Ke Solo

Kembali ke Solo. Kali ini untuk sebuah tugas kantor yang sangat tidak biasa.

USM UNS UNSRAT?




Saya berkunjung ke Solo untuk sebuah pekerjaan yang tak bisa saya sebutkan di sini. Ada kebingungan. Dulu sekali, jaman saya cari-cari tempat kuliah, yang saya kenal adalah UNSRAT, kependekakan dari Universias Sebelas Maret. Kemudian berubah menjadi UNS, kependekan dari Universitas Negeri Solo. Saat ini, mereka pun ternyata bingung. Mereka sepertinya belum sadar pentingnya sebuah nama. Well, pasti mereka sedang atau sudah melakukan sesuatu. Tapi karena ini kampus negeri, prosedurnya kemungkinan ribet. 

The New York Public Library - Front Side

Gedung the New York Public Library ini terletak di kawasan Bryant Park, 5th Avenue. Pada bagian depannya, dijaga sepasang patung singa. Anak-anak tangga untuk masuk menuju lobby ramai dijadikan tempat beristirahat para pengunjung. Pada halaman depan, banyak kursi besi berserak.





Website sang Habib



Dari beberapa portal berita, disebutkan kalau web habib galak ini ditutup. Ternyata, baik lewat wifi maupun XL, web ini masih bisa diakses. Saya setuju jika web ini ditutup karena isinya penuh dengan kebencian. Sepertinya, agenda dia hanya satu: Ahok harus dipenjara! 

Bicara maksiat yang menjadi fokus utama gerakan habib ini, seolah apapun yang berhubungan dengan Ahok adalah maksiat. Melihat simbol senjata tajam di salah satu logo yang tercantum, tak heran jika kekerasan menjadi andalannya.

11/27/2016

Go South

Terbangun. Saya berada di sebuah tempat antah barantah. Terbang menuju selatan. Mencari jalan ke Gunung Salak. Rintangan. Hambatan. 

11/23/2016

The Killer

Terbangun. Pagi itu, di sebuah rumah, saya berantem dengan sorang pria yang tak saya kenal. Saya menusukkan pisau ke perutnya. Dia meninggal. Bingung, harus bagaimana? Haruskah melapor polisi? Menelpon keluarga? Mutilasi? Terbayang bagaimana hidup saya setelah kejadian itu. Saya berharap itu cuma mimpi. Tapi ternyata bukan.

Masih dalam keadaan bingung, saya bungkus mayat pria itu dengan kain, lalu saya masukkan dalam bath tub. Seharian bingung, saya isi dengan fokus pada kertas-kertas kerja. Sorenya, saya tersadar dengan peristiwa yang terjadi di pagi hari. Pembunuhan itu. Segera saya ke kamar mandi untuk melihat si mayat. Eh, mayat yang terbungkus kain itu bergerak-gerak. Ketika saya buka kainnya, dia masih hidup! Dia, tidak mati! Oalah senangnya.

11/04/2016

Kemana keberpihakan ABRI dalam Pilkada DKI 2017?

Pilkada DKI semacam panas. Begini yang terbaca:
- Netral. Tapi, mungkinkah?
- Memihak Agus. Agus digunakan oleh SBY untuk memojokkan Jokowi, karena seperti banyak dugaan banyak orang, Jokowi sangat mendukung Ahok. Selain itu, ABRI menilai bahwa Jokowi terlalu berpihak pada Cina, sementara ABRI sangat tidak suka dengan Cina. SBY dan ABRI bekerja sama agar Agus bisa menang dalam pilkada ini
- Sangat tidak memihak Agus. Agus dianggap sebagai contoh buruk bagi rekrutmen militer dan ini mempermalukan ABRI. Untuk itu, militer sangat tidak suka jika ada anggotanya yang keluar dari kesatuan, dan berhasil di luar kesatuannya. Ingat kasus Norman Kamaru? Dia keluar, dari POLRI mati-matian menutup jalan untuk kemajuan karirnya. Akhirnya, sengsaralah dia.

Spekulasi semata.

11/03/2016

Perang Kuda

Begini yang terbaca di media: Jokowi dan Megawati menginginkan Ahok kembali jadi gubernur DKI. SBY menginginkan Agus jadi gubernur DKI. Prabowo menginginkan Anies jadi gubernur DKI. Lalu semuanya jadi absurd. 

Ahok menyebut Surat Almaida pada sebuah kunjungan kerja. Lalu heboh, karena diinterpretasi berbeda oleh sejumlah pihak. Dianggap melecehkan Islam. Di tempat berbeda, isteri Munir minta penyelesaian kasus suaminya diusut tuntas. Lalu, pihak istana menyebarkan info jika dokumen investigasi Munir hilang. Ada info dari BIN kalau SBY terlibat. SBY tersudut. Lalu, mengundang sejumlah ulama, membahas kasus Ahok. Ada rencana untuk membalas Jokowi, dengan mengorbankan Ahok. Muncul gelombang pengusutan kasus Ahok, di sejumlah tempat di Indonesia, sangat sistematis.

Lalu, Jokowi bertemu Prabowo. Mereka yang pernah berseteru dalam pemilu lalu, bersekutu melawan SBY, dengan simbolisasi kuda. SBY angkat bicara: Ahok harus dituntut, jangan sampai menunggu lebaran kuda!



10/31/2016

Bertemu Prof Sasa



 Saya diundang untuk menguji thesis anak-anak London School. Satu panel dengan Prof Sasa Djuarsa, dosen saya sewaktu di UI.