Skip to main content

Posts

Satu Presiden dan Mantan Bertamu ke Rumah Saya

Saya di rumah Bogor. Tetiba ada rombongan Pak Jokowi dan istri datang ke rumah saya. Tak begitu lama, rombongan Pak SBY dan istri datang juga. Sementara tamu yang lain sibuk dengan orang tua saya, Bu Ani menghampiri saya. Beliau berbicara panjang lebar. Hal yang menarik perhatian saya adalah wajah beliau merah-merah seperti pupur yang menutupi seluruh wajahnya. 
#mimpitadimalam #semogalekassembuhbuani
Ketika bangun, saya berdoa semoga ada sesuatu yang menggembirakan datang di hari ini dan esok hari. Sore harinya, saya mendapat surat pengangkatan saya untuk posisi baru.
Recent posts

Dilema Scopus di Awal Tahun

Pagi ini membuka email. Ada pemberitahuan dari sebuah jurnal bahwa artikel saya diterima dengan revisi. Ada rasa syukur, tentu. Tapi ada juga sedikit mengeluh. Artikel ini adalah hasil dari sebuah hibah penelitian yang saya menangkan. Tuntutan dari hibah ini adalah publikasi. Saya mengirimkan ke sebuah jurnal terindeks Scopus 3. Tapi melihat prosesnya yang lama, saya kemudian mengirimkan juga ke sebuah jurnal terindeks Scopus yang kelasnya lebih rendah. Artikel ini diterima dan terbitlah. Saya memilih yang kedua karena lebih cepat terbit. Tentu saja, diterbitkannya artikel ini membuat laporan penelitian saya menjadi lancar. Begitulah. Jika mau sabar, hasilnya akan lebih baik. Tapi sistem Dikti tidak menganut sabar-sabaran. Harus cepat sesuai dengan tenggang waktu yang telah ditentukan. 
So, tarik nafas panjang. Lepaskan. 
Email kedua yang saya baca adalah, hasil review untuk artikel saya yang lain dari sebuah jurnal terindeks Scopus yang lain. Keputusannya, ditolak. Tak apa. Komentar…

Nursery Time, Serpong

Pagi ini saya ke UMN Serpong untuk mengambil berkas UAS. Jalanan masih lengang. Orang masih pada libur kayaknya. Sepertinya ini kunjungan terakhir saya untuk sementara waktu. Saya mundur tak akan lagi mengajar di sana. Terlalu jauh dan ada hal lain yang tak saya bisa ungkap di sini. Masuk dengan baik, selesai dengan baik.
Hari masih pagi. Dari kampus UMN, saya sempatkan mampir ke sebuah nursery di Serpong yang pernah saya kunjungi sebelumnya. Saya masih perlu sejumlah tanaman untuk mengisi sejumlah bagian dari kebun saya.

Mal Taman Anggrek yang Sekarat

Tiba di Mal Taman Anggrek (TA) sekitar jam makan siang. Tapi kami tak kuatir harus makan siang dulu karena dalam perjalanan tadi, menyempatkan makan dulu begitu bertemu rumah makan Padang. Harus ngirit. Hari ini kami ke TA dengan tujuan utama untuk mengajak anak-anak bermain ice skating. Saya membayangkan harga masuknya akan mahal. Maka, makan siangnya harus ngirit. 
Saya dikagetkan dengan kondisi mal yang melompong di sayap timur. Toko-toko yang tadinya terisi para tenant, kini sunyi. Galeria Matahari telah pergi sejak November lalu, kata seorang pegawai Metro. 
Apa yang terjadi dengan Matahari?
Saya lalu curiga. Jangan-jangan, tempat ice skating sudah tak ada lagi? Tapi ternyata tidak. Antrian panjang menunjukkan bahwa tempat ini masih memiliki penggemar. Dan anak-anak senang bisa bermain dua jam di sana. 

Giant Pasaraya Tutup

Pagi itu mengajak anak-anak ke Gramedia Matraman. Dari Gramedia, makan siang di Soto Bogor, Manggarai. Hari ini tidak punya jadwal pasti mau ke mana saja. Sekedar menyenangkan anak-anak saja keluar rumah. 
Istri saya ingin membeli sesuatu di Pasaraya Manggarai, lalu kami mampir ke sana. Ketika istri saya sibuk mencari barang yang dia mau, saya sibuk mengamati kondisi Pasaraya. Lantai dasar melompong lengang. Tak banyak barang yang dijual. Saya juga menemukan salah satu eskalator ke lantai atas ditutup. Saya baru tahu juga ketika saya naik ke lantai kedua, ruangan disekat dua. Penasaran dengan lantai ketiga, saya kembali naik eskalator. Masih disekat dua, saya menemukan hanya satu tenan yang menyewa separuh lantai itu. Matahari sudah setahun pergi. 
Apa yang terjadi dengan Pasaraya?
Lebih mengejutkan lagi, ketika saya turun ke lantai lower ground. Giant supermarket sedang bersiap tutup. "Besok adalah hari terakhir kami buka", kata salah seorang karyawan yang bicara lantang m…

Saya Meninggal

Mimpi. Saya sedang berada di antara mahasiswa-mahasiswa dalam sebuah ruangan. Bukan kelas. Sepertinya kantor. Mereka sedang sibuk beres-beres. Saya berdiri, berjalan, tiba-tiba terjatuh. Sepertinya pinsan. Saya mencoba membuka mata, yang saya lihat adalah kegelapan. Lalu sebuah sensasi yang saya rasakan ketika saya tertarik masuk ke sebuah lorong kosong dengan garis-garis cahaya yang tak jelas. Lalu saya menyadari mahahasiswa-mahasiswa yang tak saya kenali satu per satu itu berhimpun mengelilingi saya, membaca doa. Saya tak berhenti bershahadat.

Saya masih terbujur. Kaku. Meninggal. 
Astagfirullah.

Malam Jalang

Kepada malam aku bercerita
Pada helai-helai harap aku menuliskan
Lalu kau datang

Dan udara yang terlepas dari setiap akar yang meranggas
Lalu kau datang

Masih rindu yang sama
Rindu pada butir gerimis dini hari
Rindu pada gemercik putik yang terlambat disiangi

Masih harap yang sama
Harap tentang khilap yang mungkin kau lakukan