8.6.08

Nikmatnya Hidup Tanpa Membenci

Saya ingin mendeklarasikan diri bahwa saya tidak mempunyai musuh. Saya kan bukan politikus atau preman. Seringnya, sekedar sebal-sebalan sesaat. Ingin membenci, tapi jadinya malah sedih. Saya kerap sedih karena orang-orang yang saya percaya malah berkhianat. Dampaknya saya malas sekali berhubungan dengan mereka lagi.

Insyaallah, sebisa mungkin saya memaafkan. Memaafkan adalah hal yang paling mudah dilakukan. Tapi untuk melupakan, rasanya perlu waktu dan keinginan dari yang bersangkutan untuk memperbaiki. Namun herannya, orang-orang tersebut berlaku seolah tidak ada apa-apa. Oh, kalau begitu, memang sudah sifat mereka. Tinggal saya sendiri yang perlu bekerja keras memaafkan dan melupakan. Ingat anjuran para ustadz, hati harus dijaga agar jauh dari penyakit hati. Biar selamat dunia dan akhirat.

Bila dipikir-pikir, sangatlah sulit menjauhkan diri dari 'gesekan' dengan orang lain. Di tempat kerja, dalam organisasi, bertetangga, bahkan dalam pertemanan, kita sering kali terlibat dalam berbagai masalah yang berpotensi retaknya hubungan. Kadang dalam sekejap bisa teratasi, kadang rumitnya bukan main.

Sejujurnya, saya manusia yang enggan berkonflik. Ketika dalam organisasi terjadi konflik hebat, saya mungkin lebih senang mengundurkan diri dari pada pura-pura happy padahal hati mendongkol. Setelah lama terjadi konflik yang tidak sehat di suatu kantor di mana saya bekerja, saya memilih mundur. Dan ternyata, hingga bertahun-tahun saya keluar, konflik-konflik sama terus terjadi. Saya berkesimpulan karena orang-orang yang biasa berkonflik masih bercokol di sana dengan mempertahankan pola pikir yang klasik.

Ketika saya berbisnis dengan seorang sahabat yang ternyata dia berperilaku tidak adil, saya memilih keluar dari hubungan bisnis itu. Saya tidak tega membiarkan hati saya nelangsa. Tak mau mengasihani diri dengan terus-terusan dianiaya.

Mungkin saya bukan orang yang tegar. Namun biarlah. Saya hanya tak ingin membenci.


Andai Saya Penganut Ahmadiyah

Ketika sebagian masyarakat Indonesia akhir-akhir ini ramai meminta pemerintah agar Ahmadiyah dibubarkan, mungkin saya naif. Saya sama sekali tidak tergerak untuk mencari tahu mengapa kelompok ini harus dibubarkan? Apa yang salah dengan Ahmadiyah? Apa beda Ahmadiyah dengan Muhammadiyah? Begitulah kira-kira pertanyaan yang ada di benak saya sekarang.

Dan saya belum tergerak mencari tahu apa yang menjadikan Ahmadiyah harus dibubarkan.

Sejak saya sangat kecil, tak jauh dari rumah orang tua di Bogor, berdiri sebuah mushola bercat putih dengan papan nama di depannya: bla bla bla... Ahmadiyah. Ibu pernah memberitahu bahwa Ahmadiyah semacam aliran. Ibu juga menyebutkan siapa saja tetangga yang masuk dalam kelompok ini. Setahu saya, kami hidup berdampingan sangat damai. Bahkan tanpa gesekan sama sekali. Ibu menambahkan, Ahmadiyah itu semacam Muhammadiyah, Syiah, Suni, dan lain-lain. Setiap aliran biasanya meyakini sesuatu yang kadang berbeda dan mungkin bertentangan dengan aliran lain. Sungguh saya lupa Ibu pernah bicara apa lagi tentang apa yang membedakan aliran ini dengan aliran lainnya. Bagi saya saat itu, silakan berbeda. Tokh resiko dan tanggung jawab mestinya ditanggung oleh setiap makhluk. Seperti juga bagi penganut keyakinan lain seperti Budha, Hindu, Kristen...

Waktu saya di sekolah lanjutan atas, saya memiliki seorang sahabat yang juga berasal dari kelompok ini. Karena rumahnya jauh dari sekolah, ia menginap di asrama mesjid milik kelompok Ahmadiyah. Saya sering bermain ke mesjid di mana dia tinggal dan menumpang sholat. Saya tak pernah bertanya ini-itu. Bagi saya waktu itu, bersahabat dengan dia adalah hal yang sangat wajar.

Saat-saat ini banyak pihak menginginkan Ahmadiyah dibubarkan. Saya langsung memikirkan bagaimana dengan mushola bercat putih dekat rumah saya? Bagaimana dengan para tetangga, sahabat saya, dan keluarganya?

Bayangkan. Jika saya berada dalam keluarga penganut aliran Ahmadiyah yang sejah kecil sudah dididik dan meyakini hal-hal yang paling benar terdahap sesuatu. Lalu tiba-tiba setelah saya dewasa, orang-orang menunjuk hidung saya bahwa semua yang telah saya lakukan dan yakini adalah keliru dan sesat!

Apakah saya lalu akan merubah keyakinan saya dan mengganti dengan sesuatu yang bagi saya baru? Atau bertahan dan berjuang? Entahlah. Yang jelas pastilah bingung.

Lagian, mengapa baru sekarang Ahamdiyah dihujat salah?

5.6.08

Kisah Segelas Kopi



Saya bukan peminum kopi. Tapi suatu malam saya mimpi. Dalam mimpi itu, saya minum secangkir kopi yang rasanya nikmaaat sekali. Keesokan harinya, sepulang berenang saya mampir ke sebuah minimarket untuk membeli beberapa sachet kopi. Karena setelah itu banyak urusan, niat menikmati kopi belum terlaksana.

Sore itu saya harus berkemas menuju sebuah meeting di kantor seorang sahabat. Saya minta disuguhi kopi! Hmm. Saya coba merasakana sensasi segelas kopi. Nikmat betul memang.

Dan malamnya, hingga hampir subuh saya tak bisa tidur.

3.6.08

Apa yang Perlu Dilakukan terhadap FPI?

Ketika kejadian penyerangan FPI terhadap peserta ... ditayangkan di sejumlah acara berita, saya langsung berkomentar pedas. Saya tidak perlu lagi bertanya apa tujuan dari arak-arakan yang diserang itu. Penganiayaan dan pemukulan orang bukanlah tindakan yang bijak.

Tapi istri saya tak sependapat. Ia tak mengijinkan saya berkomentar apa pun tentang kasus tersebut. Katanya: Habib itu orang yang harus dihormati". Nah, kalau habib mencederai dan atau menyuruh untuk mencederai orang, apa masih harus dihormati?"

FPI hebat benar jika ternyata polisi tak berani 'menyentuh'-nya.

28.5.08

Diperas Tetangga: Sebuah Modus Operandi

Lepas magrib, seorang ibu dengan segerombol pasukan yang jarak rumahnya sekitar seratusan meter dari tempat tinggal saya menggedor pintu rumah. Dia menuntut pertanggungjawaban karena katanya, saya telah melindas kaki anaknya dengan kendaraan yang saya kendarai.

Langsung lusinan pertanyaan keluar dari mulut saya:
Kapan?
Tadi
Jam berapa?
Pokoknya tadi
Kenapa tadi pas kejadian tak teriak?
Ibu siapanya korban?
Teman
Tadi katanya anak?
Di sebelah mana kejadiannya?
Di sana, jalan ini dekat itu...
Bye. Saya tidak lewat jalan itu.

Katanya ada saksi juga, seorang perempuan muda berparas cantik. Pertanyaan sama saya ulangi.
Tadi, barusan.
Tadi apa barusan?
Iya, tadi.
Tadi apa barusan?
Iya, barusan.Ciri-ciri yang menyopir mobil?
Perempuan. Berjilbab.
Bye...

21.5.08

Baca Tarot: Apakah Pemerintah Akan Jadi Menaikkan Harga BBM?

Demo anti kenaikan harga BBM memancing keisengan saya untuk membaca kartu tarot. Apakah Pemerintah berani menurunkan harga BBM?

Yes. Harga BBM akan dinaikkan. Tapi jadualnya akan diundur, bukan akhir Mei. Naiknya pun tidak akan sebesar 30%, kemungkinan di bawah itu.

Apakah SBY akan aman hingga akhir masa jabatannya gara-gara menaikkan harga BBM? Kemungkinan masih, meskipun babak belur dihajar berbagai hujaman kritik.

Ah, namanya juga ramalan iseng.

20.5.08

Ketika Tokoh-tokoh Negara Wafat, Kemana Mewagati?

Megawati sama sekali tidak menunjukkan belasungkawa ketika Soeharto meninggal dunia. Padahal hampir semua elemen bangsa muncul ke permukaan sekedar untuk mengekspresikan penghormatan terakhir pada mantan presiden itu. Megawati sepertinya belum menyembuhkan luka hatinya atas perbuatan Soeharto di masa lampau kepada Bapaknya. Padahal Soeharto telah berbaik hati tak menyeret Soekarno ke pengadilan.
Saat Sophan Sophian wafat pun, Megawati menenggelamkan diri. Kita tahu bagaimana Sophan pernah mendukung Megawati di partai kepala banteng. Padahal presiden kita yang sedang menjabat saja menyisihkan waktu untuk hadir. Lagi, Megawati belum menyembuhkan luka hatinya karena Sophian pernah bersebrangan prinsip dengannya.

Pemimpin adalah simbol. Ia perlu pura-pura tersenyum meskipun hatinya sedih dan marah. Pura-pura legawa meskipun kalah dan berdarah-darah.

Mega tak pernah mau menyembuhkan luka hatinya. Ia bawa luka hatinya dari masa ke masa, dari jaman ke jaman. Bahkan, kini ia mencalonkan diri untuk menjadi calon presiden pun sesungguhnya sekedar untuk menunjukkan bahwa ia punya luka. Lukanya sangat dalam hingga penuh dendam. Ia tak rela telah dikalahkan. Ia ingin menjadi presiden bukan untuk menyelamatkan bangsa, tapi sekedar untuk menunjukkan ia lebih kuat dari yang lain.

Indonesia Can-lah

Menyambut peringatan seabad hari Kebangkitan Nasional, bangsa kita menciptakan slogan yang sangat singkat dan padat: Indonesia BISA. Sepertinya mengekor pada dua negara tetangga kita yang telah terlebih dahulu melahirkan sloga-slogan yang pendek. Malaysia pernah mempopulerkan Malaysia BOLEH dan Singapore mengibarkan Singapore ROARS. Mengaum!

Indonesia bisa apa? Tentu, bangsa kita banyak bisanya. Bisa ini itu, tak kalah dengan bangsa lain. Makanya kita perlu bangga dengan kebisaan yang bisa kita lakukan. Termasuk bisa menjiplak.

Dengan dicanangkannya kata 'bisa' menjadi slogan kebangkitan Indonesia baru, sepertinya disadari atau tidak, kita telah memproklamirkan diri sebagai bangsa plagiat. Anda tentu ingat iklan minuman energi M150. Produk tersebut punya solgan yang selama bertahun-tahun terus diusung: Bisa!

Saya sedang membayangkan, jika seorang asing minta slogan tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, apa yang akan kita sebut? Apakah ada kata lain selain 'CAN'? Paling setelah itu, orang asing itu akan berkomentar: Oh, Indonesia kaleng...

14.5.08

Wacana: Jika Koruptor Dilarang Masuk ke Mall

Andai saya bisa melobi para pembuat undang-undang, saya akan mengusulkan agar pusat perbelanjaan steril dari para koruptor. Mengapa? Pemilik uang 'panas' biasanya, hawanya ingin belanja melulu. Jadi sebetulnya, tak hanya pusat perbelanjaan, tapi juga pusat hiburan, termasuk restoran.
Caranya? Manajemen pusat perbelanjaan diharuskan memasang signage yang bunyinya kurang lebih: "Koruptor, Keluarga Koruptor, dan Kroninya Dilarang Masuk Mall". Semoga ampuh.

Lebih luas lagi kelak, gedung-gedung dan insitusi lainnya pun diikutsertakan dalam kampanye serupa. Misalnya di bandara: "Koruptor Dilarang Naik Pesawat", di pelabuhan: "Koruptor Dilarang Naik Kapal", pada taksi: "Koruptor Dilarang Naik Taksi", pada bajaj: "Koruptor Dilarang Naik Bajaj".

Tempat lain seperti: "Koruptor Dilarang Masuk Rumah Sakit", "Koruptor Dilarang Pergi ke Dukun", "Mak Erot Tidak Melayani Koruptor". Termasuk Inul Vizta: "Koruptor Dilarang Karaoke". Di hotel-hotel: "Koruptor Dilarang Check In/Bertamu".

Bahkan, Ibu Gito penyalur pembantu yang sering pasang iklan pada pohon-pohon di jalur hijau pun harus berpartisipasi: "Kami Tidak Menyalurkan Pembantu ke Rumah Koruptor".

Semua tempat, semua orang harus anti terhadap tindakan korupsi. Semua pihak harus mendukung. Insyaallah, semua orang akan berpikir ulang untuk menjadi koruptor dan yang sudah jadi, menjadi risih hingga mau berhenti.