Skip to main content

Hujan di Bulan April

Pulang malam dari kampus sudah menjadi kebiasaan, demi mengejar proposal agar bisa selesai lebih cepat dari jadual. Tapi malam itu saya dihadang hujan, seperti juga yang terjadi pada malam sebelumnya. Saya tak menduga hujan akan turun sangat lama, bahkan sudah mulai sejak hari masih siang. Hujan awet sekali mengguyur Joondalup. Saya membayangkan badan akan kuyup jika saya paksakan pulang. Karena sudah malam, tak ada lagi bisa yang melayani dari lokasi kampus ke stasiun. Bis terakhir hanya beroperasi hingga jam 6pm.

Sebelum pulang, saya mampir ke perpustakaan untuk mencari satu buku yang judulnya sudah saya persiapkan sejak beberapa hari lalu. Ide yang terus tertunda. Begitu saya akan keluar gedung untuk pulang, berbarengan dengan seorang mahasiswa berkulit hitam yang sepertinya hendak pulang juga. Ternyata orang itu bawa kendaraan dan memarkirnya di depan perpustakaan.

"Mate, will you pass through the station?" Sapa saya tanpa ragu. Alhamdulillah, orang itu baik sekali mau mengajak saya, bahkan mengantar hingga ke pintu stasiun.

Hujan masih terus turun. Angin terus menggigiti. Sweater saja rasanya tak cukup untuk mengusir dingin. Ini hari kedua di bulan April, dimana hujan mulai getol membasahi Perth. Saya mulai berpikir untuk membeli payung dan membawanya setiap kali ramalan cuaca bilang akan turun hujan.

Comments

Popular posts from this blog

Out of The Box

Saya sedang tidak berminat berpaguyuban. Saya ingin banyak meluangkan waktu sendiri. Melakukan banyak hal yang berbeda dari biasanya, menemukan komunitas baru, dan lain sebagainya. Pelan-pelan saya melepaskan ketergantungan dari riuhnya pertemanan yang hiruk pikuk: bergerombol di cafe, bergerombol di club, bergerombol di bioskop. Waktu seperti menguap tanpa kualitas. Belakangan, saya jadi punya banyak waktu untuk mengecilkan lingkar perut, banyak waktu untuk membaca buku, membiarkan diri saya melebur dengan komunitas dan teman-teman baru, dan yang lebih penting, saya bisa punya waktu untuk mengamati diri saya. Sekedar merubah pola.

Forum Rektor se-Asia

Saya dan sahabat-sahabat dari Fakultas Ekonomi UNJ, sedang jumpalitan menyelenggarakan forum rektor se-Asia. Nama acaranya "Asian University Presidents Forum 2009". Persiapan sudah sejak setahun lalu. Perjuangan yang merepotkan karena harus berbagi waktu, tenaga, dan pikiran untuk pekerjaan-pekerjaan lain yang juga menuntuk konsentrasi. AUPF ini berlangsung dari 18 tanggal hingga 21 Oktober. Event ini diadakan di hotel Borobudur. Namun tak sekedar di hotel ini saja kegiatan berlangsung karena kami juga memilih beberapa lokasi lain untuk bermacam kegiatan seperti Town Hall gubernuran, Gedung Arsip, Cafe Batavia, Segarra Ancol, Museum Sejarah, dan Istana Bogor. Untuk event ini, saya mengambil peran sebagai External Relations. Itu job utamanya, tapi ketika waktunya tiba, apa saja dikerjakan untuk membantu bagian-bagian lain yang keteteran. Bekerja dengan orang-orang yang belum pernah bekerja dan orang-orang yang pernah bekerja dengan latar belakang motivasi yang beragam, lumaya

Super Deal 2 Milyar, Super Rekayasa?

ANTV bersimbiosis dengan STAR TV. Secara revolusioner statsiun TV ini melakukan pembenahan. Maka program-program unggulan diluncurkan. Berminat dengan kemilau dan bakat Farhan, mereka berani mengontrak secara ekslusif lelaki asal Bandung yang sebelumnya tumbuh subur di lading kreatif Trans TV, dengan nilai rupiah yang menjuntai. Namun program talk show yang dikomandani Farhan setiap malam itu hingga kini belum bisa dikatakan sukses. Lalu, muncullah acara kuis Super Deal yang mempesona jutaan pemirsa karena nilai hadiahnya yang mencapai 2 milyar Rupiah. Siapa yang tak ingin ketiban rejeki sebanyak itu? Kali ini, Nico Siahaan yang berkesempatan membawakan acara. Untuk meningkatkan awareness public terhadap acara kuis Super Deal, baliho besar-besar dipasang nyaris di setiap perempatan jalan Jakarta, entah kalau di luar kota. Lalu secara mengejutkan, sepasukan guru yang menjadi peserta kuis tiba-tiba tampil dan berhasil mendapatkan uang senilai dua milyar! Fantastis