Skip to main content

Anatomi Angin

Perempuan berkerudung topan
Menapaki liang rautan yang dia kira adalah nasibnya
Semakin dalam dia seserah kesunyianlah yang ia temukan
Nasib adalah kuas perona yang terselip pada kusen setiap pintu rumah lelaki yang ia jadikan suami
Pada rahimnya yang tandus telah disemaikan benih-benih kehampaan
Berpekan-pekan ia kandung janin kesetiaan hingga tiba saatnya ia lahirkan bayi bernama kesia-siaan

Padahal masih pagi
Aku temukan pucuk-pucuk pakis berlinang embun
Pucat hijaunya seolah April segera datang
Padahal masih rindu
Lalu kusematkan salam pada riuh rendah galau yang merasuki tiba-tiba
Lalu senyap

Senyap seperti batu
Yang dilakukannya hanya mengamati dan melayani
Kalor yang diserapnya dalam diam
Dingin yang dikudapnya dalam diam
Dalam diam kesenyapan telah dieramkan

Dalam diam halimun mengering di ujung daun
Baunya melengking menyekat rongga paru
Dalam diam aku mengingat sejumlah wajah
Janji-janji semasa kemarin
Bertanya kemana gerangan
Dalam diam aku urai kerumun ayat yang telah menyublim dari ingatan
Mengaji alam taro.

Kukenali jibril memantul pada wajah anak-beranak
Tiap geraknya menciptakan lirih
Tiap geliatnya mengiris angin ke hulu ke buritan
Ke sepuluh larangan yang telah diwariskan
Seserpihnya melimpah di bentangan
Melukakan lalu membebaskan
Memenjarakan lalu menyembuhkan
Mengurangkan lalu memenangkan
Mengalahkan lalu menambahkan
Pada bunyi bariton yang dibuatnya aku temukan setumpuk aksara
Ilamat, alamat
Kalimah yang secara terbata memadati ruhku

Mengiris angin ke hulu ke buritan
Ke segala pencarian yang berakhir pada dahaga berkepanjangan
Diakah kaukah
Kepada kiblat dimana aku tengadahkan
Diakah kaukah
Yang melukai lalu membebasi, memenjarai lalu menyembuhi, mengurangi lalu memenangi, mengalahi lalu menambahi.

Comments

Popular posts from this blog

Billboard Udud

Pemprov DKI serius untuk menelikung para perokok aktif. Setelah mengeluarkan larangan merokok di beberapa kawasan, disusul dengan larangan beriklan bagi produsen rokok di jalan-jalan protokol. Mestinya, mulai Maret lalu, billboard iklan rokok yang semarak di sepanjang Sudirman, Gatot Subroto, dll itu tak sudah tak boleh lagi terpasang. Namun, pengecualian bagi pemasang iklan yang masa tayangnya belum habis, ditunggu hingga akhir masa kontrak. Sesederhana itukah? Seperti bisa ditebak, larangan-larangan apa pun yang diberlakukan pasti selalu diikuti sebuah koalisi kolusi. Tak ada hukuman bagi pengiklan iklan yang masih memasang billboardnya di sana walaupun tenggang waktu sudah terlewat. Yang terjadi adalah, adanya perpanjangan kontrak sebelum tenggang waktu itu habis. Sehingga iklan-iklan rokok itu akan terus terpasang selama masa kontrak yang diperpanjang. Jika perlu, kontrak untuk jangka waktu hingga masa kepemimpinan Sutiyoso berakhir. Sambil berharap, pemerintah provinsi yang baru a...

Payudara di Televisi Kita

Stasiun televisi kita, makin sering menampilkan program tv dengan bumbu payudara. Mungkin untuk menarik minat penonton. Semakin banyak penonton yang menyaksikan tayangan-tayangan mereka, rating acara akan membumbung, dan pengiklan datang. Namanya kompetisi, ya, bo. Tengok saja panggung dangdut, panggung penari, peragaan busana, hingga seserahan sambutan pun tak luput dari sajian payudara. Beberapa siaran langsung, lainnya siaran tunda. Katakan, 'munculnya' payudara di acara tersebut adalah sebuah insiden. Sangat maklum jika kejadian tersebut terjadi pada siaran langsung. Namun jika tayangan itu bukan langsung dan masih juga kecolongan? Please, deh. Jika peristiwa-peristiwa itu memang tak dikehendaki bersama, demi amannya, apa sebaiknya pihak stasiun membuat rambu-rambu khusus perihal busana seperti apa saja yang boleh digunakan oleh siapapun yang akan disorot kamera? Tentunya tanpa harus memasung demokrasi berekpresi.

Kuatir Kolesterol

Gara-gara makan daging giling yg saya buat camilan untuk dinner, tahu-tahu saya berasa pening. Leher bagian belakang cenut-cenut. Saya minum, lalu berhenti sebentar. Agak mendingan. Untuk memastikan itu disebabkan karena saya makan daging, saya kembali santap makanan ringan yang saya buat itu. Lagi, pening dan cenut-cenut. Langsung saya stop. Jangan-jangan kolesterol? Saya langsung mencari informasi apabila seseorang memiliki kolesterol tinggi. Kuatir dampaknya: stroke dan jantung. Menurut artikel yang saya baca, gejala yang saya alami menunjukkan tanda-tanda kelebihan kolesterol. Ngek ngok. Meskipun saya sudah sangat hati-hati menjaga makanan. Apalagi, saya sangat kurang berolah raga. Pekerjaan saya jalan kaki dari pagi sampai sore tiga hari seminggu, tapi apa itu cukup?  Saya harus mulai memperhatikan makanan yang saya santap supaya kesehatan saya tetap prima secara usia sudah tak lagi muda. Iya kalo pendek umur, bagaimana jika panjang umur tapi sakit-sakitan?