Perempuan berkerudung topan
Menapaki liang rautan yang dia kira adalah nasibnya
Semakin dalam dia seserah kesunyianlah yang ia temukan
Nasib adalah kuas perona yang terselip pada kusen setiap pintu rumah lelaki yang ia jadikan suami
Pada rahimnya yang tandus telah disemaikan benih-benih kehampaan
Berpekan-pekan ia kandung janin kesetiaan hingga tiba saatnya ia lahirkan bayi bernama kesia-siaan
Padahal masih pagi
Aku temukan pucuk-pucuk pakis berlinang embun
Pucat hijaunya seolah April segera datang
Padahal masih rindu
Lalu kusematkan salam pada riuh rendah galau yang merasuki tiba-tiba
Lalu senyap
Senyap seperti batu
Yang dilakukannya hanya mengamati dan melayani
Kalor yang diserapnya dalam diam
Dingin yang dikudapnya dalam diam
Dalam diam kesenyapan telah dieramkan
Dalam diam halimun mengering di ujung daun
Baunya melengking menyekat rongga paru
Dalam diam aku mengingat sejumlah wajah
Janji-janji semasa kemarin
Bertanya kemana gerangan
Dalam diam aku urai kerumun ayat yang telah menyublim dari ingatan
Mengaji alam taro.
Kukenali jibril memantul pada wajah anak-beranak
Tiap geraknya menciptakan lirih
Tiap geliatnya mengiris angin ke hulu ke buritan
Ke sepuluh larangan yang telah diwariskan
Seserpihnya melimpah di bentangan
Melukakan lalu membebaskan
Memenjarakan lalu menyembuhkan
Mengurangkan lalu memenangkan
Mengalahkan lalu menambahkan
Pada bunyi bariton yang dibuatnya aku temukan setumpuk aksara
Ilamat, alamat
Kalimah yang secara terbata memadati ruhku
Mengiris angin ke hulu ke buritan
Ke segala pencarian yang berakhir pada dahaga berkepanjangan
Diakah kaukah
Kepada kiblat dimana aku tengadahkan
Diakah kaukah
Yang melukai lalu membebasi, memenjarai lalu menyembuhi, mengurangi lalu memenangi, mengalahi lalu menambahi.
Menapaki liang rautan yang dia kira adalah nasibnya
Semakin dalam dia seserah kesunyianlah yang ia temukan
Nasib adalah kuas perona yang terselip pada kusen setiap pintu rumah lelaki yang ia jadikan suami
Pada rahimnya yang tandus telah disemaikan benih-benih kehampaan
Berpekan-pekan ia kandung janin kesetiaan hingga tiba saatnya ia lahirkan bayi bernama kesia-siaan
Padahal masih pagi
Aku temukan pucuk-pucuk pakis berlinang embun
Pucat hijaunya seolah April segera datang
Padahal masih rindu
Lalu kusematkan salam pada riuh rendah galau yang merasuki tiba-tiba
Lalu senyap
Senyap seperti batu
Yang dilakukannya hanya mengamati dan melayani
Kalor yang diserapnya dalam diam
Dingin yang dikudapnya dalam diam
Dalam diam kesenyapan telah dieramkan
Dalam diam halimun mengering di ujung daun
Baunya melengking menyekat rongga paru
Dalam diam aku mengingat sejumlah wajah
Janji-janji semasa kemarin
Bertanya kemana gerangan
Dalam diam aku urai kerumun ayat yang telah menyublim dari ingatan
Mengaji alam taro.
Kukenali jibril memantul pada wajah anak-beranak
Tiap geraknya menciptakan lirih
Tiap geliatnya mengiris angin ke hulu ke buritan
Ke sepuluh larangan yang telah diwariskan
Seserpihnya melimpah di bentangan
Melukakan lalu membebaskan
Memenjarakan lalu menyembuhkan
Mengurangkan lalu memenangkan
Mengalahkan lalu menambahkan
Pada bunyi bariton yang dibuatnya aku temukan setumpuk aksara
Ilamat, alamat
Kalimah yang secara terbata memadati ruhku
Mengiris angin ke hulu ke buritan
Ke segala pencarian yang berakhir pada dahaga berkepanjangan
Diakah kaukah
Kepada kiblat dimana aku tengadahkan
Diakah kaukah
Yang melukai lalu membebasi, memenjarai lalu menyembuhi, mengurangi lalu memenangi, mengalahi lalu menambahi.
Comments