Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Me and the Universe

Saat Kangen Masa Kecil

Rumah keluarga kami di Bogor cukup besar jika dibandingkan dengan keluarga-keluarga lain di sekitar rumah. Saat saya tak bermain dengan teman-teman sekampung, saya punya beberapa spot favorit. Ada bangunan besar di belakang rumah bekas kandang ayam dengan jendela kecil yang menghadap hamparan sawah. Kadang saya membawa makan siang saya dan membiarkan wajah saya ditampari angin yang masuk lewat sela-sela kaca nako. Atau, ada juga ruang besar bekas penggilingan padi, yang kemudian juga pernah dijadikan kandang ayam, yang kemudian jadi kandang kelinci. Setiap hari saya ke sana, tapi tak selalu lama.  Tak jauh dari rumah, sekitar 100 meter ke arah utara, Bapak punya kebun. Saya senantiasa ke sana. Ada pohon mangga kecil yang biasa saya naiki. Dengan ketinggiannya, bisa membebaskan pandangan saya ke hamparan sawah melewati tinggi pagar tumbuhan yang mengelilingi kebun.  Beberapa hari ini, saya ingin banyak mengenang momen-momen kecil di masa kecil. Ingat Bapak. Ingat Emak. Semoga m...

Covid Cupid

Mungkin banyak dari kita tidak akan menyangka bahwa ancaman virus corona akan benar-benar nyata. Sebulan dua bulan lalu, bahkan para pejabat masih bercanda tentang virus mematikan ini. Sekarang, siapa pun punya kesempatan yang sama untuk terkena, maupun untuk tidak terkena. Kita bisa tak kemana-mana jika takut. Tapi orang-orang di sekitar kita apakah akan tinggal diam di rumah? Kita bisa penuh kehati-hatian, tapi nasib bisa saja berkata lain. Terlepas kematian di tangan yang punya nyawa, kita memang wajib tetap berikhtiar. Berkaitan dengan ikhtiar, meskipun kampus dinyatakan tutup untuk aktivitas belajar mengajar, pejabat struktural dan staf administrasi sebetulnya tetap harus masuk, kecuali buat yang tidak sehat. Business as usual. Kebijakan ini agak setengah hati memang. Di satu sisi ingin mendukung program pemerintah dan ingin melindungi segenap civitas kampus. Di sisi lain, perusahaan, dalam hal ini kampus, tetap harus beroperasi, sebagai bagian dari bentuk ikhtiar juga. Nam...

Kita dan Corona

Trend hari berikutnya, tentang tuduhan orang-orang bahwa pemerintah Indonesia menyembunyikan kasus-kasus warganya yang terkena virus. Benar atau tidak, wallahualam. Orang-orang ini pengen, bahwa kasus-kasus ini terbukti, bahwa benar orang-orang Indonesai terkena Corono. Bahwa pemerintah berbohong. Saya berharap memang pemerintah jujur apa adanya. Saya juga berharap memang tidak ada kasus yang menimpa siapa pun di Indonesia. Namun saya punya pengalaman menarik di awal Februari lalu ketika mengunjungi Nepal dan transit di Singapura. Saat saya keluar pesawat dan berjalan menuju terminat lain untuk berganti pesawat, sejumlah petugas dengan kamera pengukur suhu tubuh, membidik semua orang yang melintas. Tak ada satu pun yang bisa lolos. Kamera itu memiliki dua monitor. Pertama, monitor berwarna gelap dengan panturan cahaya kuning, oranye, dan merah sesuai dengan suhu tubuh para pelintas. Monitor kedua memperlihatkan suasana lintasan apa adanya. Saya sempat tanya kepada salah seoran...

Covid-19 dan Hasrat Populer Anggota DPD

Saya pernah sangat aktif main Twitter. Itu terjadi ketika saya tinggal di Australia. Namun demikian, setelah menyadari bahwa Twitter itu hanya asyik buat menghujat orang, saya merasa perlu mundur. Rasanya orang-orang senang sekali berantem di sana, saling ejek, saling menjelekkan. Nyaris tanpa silaturahmi yang sehat. Saya mundur, tepat sebelum kembali ke Indonesia. Saya hapus tweet saya yang negatif. Kembali ke Jakarta, kembali membuka babak baru. Mundur bukan berarti keluar. Sesekali saya masih buka, untuk melihat apa saja hal menjadi trending di sana. Nahan nafas ketika yang menjadi tred adalah hal-hal sepele yang tidak penting. Saya bersyukur tidak lantas terpancing untuk terjun lagi bermain. Kuatir buang waktu dan energi di sana. Kemarin, kemarin banget. Salah satu hal yang menjadi trend adalah teentang cuitan seorang anggota DPD yang bicara tentang banyaknya orang Indonesia yang terkena virus Covid-19 yang dia ambil dari sebuah portal berita. Lalu porta berita ini meralat...

Berkunjung ke IGD

Di dalam kuping bagian kanan, rasanya ada sesuatu yang mendesak. Sore ini saya niatkan pulang cepat, mampir ke RS Islam. Maksud hati berkunjung ke THT, ternyata dokter yang bertugas sudah pulang. Akhirnya saya ke IGD, ditangani oleh dokter umum di sana.  Saya bercerita, beberapa hari lalu saya naik pesawat ke dan dari Medan. Pada perjalanan pulang, bahkan hingga saya keluar dari pesawat, kuping berasa sakit. Peristiwa umum saat kita naik pesawat, kuping mendapat tekanan udara. Tapi rasa sakit ini terasa hingga saya turun. Nah, sebagian rasa sakit itu saya rasakan hari ini. Setelah diperiksa, alhamdulillah, kuping saya aman. Mudah-mudahan memang aman.

Nursery Time, Serpong

Pagi ini saya ke UMN Serpong untuk mengambil berkas UAS. Jalanan masih lengang. Orang masih pada libur kayaknya. Sepertinya ini kunjungan terakhir saya untuk sementara waktu. Saya mundur tak akan lagi mengajar di sana. Terlalu jauh dan ada hal lain yang tak saya bisa ungkap di sini. Masuk dengan baik, selesai dengan baik. Hari masih pagi. Dari kampus UMN, saya sempatkan mampir ke sebuah nursery di Serpong yang pernah saya kunjungi sebelumnya. Saya masih perlu sejumlah tanaman untuk mengisi sejumlah bagian dari kebun saya.

Mengapa Saya Berpuasa Senin-Kamis?

Bahkan sahabat-sahabat saya selalu menanyakan untuk apa saya puasa Senin dan Kamis. Lalu saya harus jawab apa? Jika saya katakan bahwa ini sunnah, mereka tak begitu percaya karena menurut mereka aya tak begitu religius untuk mengatakan itu. Kening saya tak hitam. Tak setiap bedug tiba saya ke masjid. Tak setiap tindakan dan ucapan menunjukkan. Lalu saya harus jawab apa? Haha. Sabodo teuing.  Sejak masih di SD saya berpuasa Senin-Kamis, bahkan ketika SMP, SMP, kuliah, dan setelah bekerja. Meskipun kadang off kadang on, tapi sebisa mungkin saya berpuasa. Pernah juga lama tidak berpuasa. Namun beberapa tahun terakhir, saya kembali berpuasa setelah melihat banyak dosen di lingkungan saya bekerja berpuasa. Lalu saya harus jawab apa? Ketika saya bilang bahwa berpuasa Senin-Kamis adalah sunnah dan mereka tak percaya saya mengatakan itu, kadang saya mengatakan bahwa puasa yang saya lakukan karena kebiasaan. Ada benarnya. Namun apapun, insyaallah saya akan terus melakuk...

Bertemu Pak Danny

Ini Pak Danny, sahabat saya, orang Indonesia yang menjadi warga negara Belanda sejak tahun 1960-an, yang saat ini sedang berkunjung ke tanah air. Agustus tahun lalu, saya berkunjung ke rumah beliau di Belanda. 

Lulus Kuliah, Kerja, Menikah ...

Salah seorang mantan mahasiswa saya menikah. Biasanya saya tak terlalu memprioritaskan untuk datang jika mendapat undangan seperti ini. Tapi kali ini berbeda. Belum lama lulus kuliah, kerja, lalu menikah. Mungkin idealnya jalan hidup seperti itu. Masih mudah sudah punya anak, tua sedikit bisa lebih fokus untuk urusan lain. Tapi kan tidak semua orang punya nasib demikian.  Saya jadi teringat dengan beberapa obrolan dengan rekan-rekan dosen. Lulus kuliah S-1, beberapa tahun kemudian menikah, berketurunan, lalu ketika memasuki umur 40, mereka sudah mapan lahir bathin. Fokus pada keluarga dan pekerjaan.  Kontras dengan jalan hidup saya. Kuliah selesai, kerja, kerja, kerja. Main, main, main. Baru memikirkan berumah tangga kemudian. Well, Allah punya rencana untuk setiap hamba-Nya. 

Berkunjung ke Perpusnas

Mengunjungi Perpustakaan Nasional di Medan Merdeka Selatan, untuk mewawancarai Kang Aditya, seorang filolog yang memiliki pengetahuan luas tentang Sunda dan Jawa kuno, termasuk sejarah tekstil. Sekalian, saya belum pernah berkunjung ke tempat ini sebelumnya. Mentereng benar.

@Pasar Santa

Sudah lama tak berjumpa dengan para sahabat ini. Begitu ada panggilan telpon untuk kumpul, cusss ...

Entah

Entah. Apa yang saya lihat hari ini, apa yang saya dengar hari ini, apa yang saya cium hari ini, apa yang saya rasa hari ini, semua mengingatkan pada masa lalu. Saat-saat belia, remaja, bertumbuh. Semua melintas bertubi-tubi. Teringat semua yang telah pergi, semua yang telah hilang, semua yang tak abadi. Entah. Ada sesak, udara yang tak keluar, emosi yang tak tersalur, rasa yang mengendap. Entah.

Ziarah Pertama

Menjenguk Ita di hari pertama di rumah barunya.

Selamat Jalan, Adikku

Jumat, setelah subuh, saya sedang menulis sesuatu di laptop. Kakak saya mengirim pesan, juga menelpon: pulang sekarang. Lalu dalam hitungan menit, saya berkemas, membawa anak-anak. Isteri saya masih ada kegiatan hari itu. Tujuan: rumah sakit dekat rumah di Bogor. Hujan sepanjang pagi hingga siang. Suasana di ruang IGD sangat menguatirkan. Perasaan campur aduk. Menjelang jam empat sore. Ita, adik kami, berpulang.  Tak ingin berlama-lama, setelah isya, kami antar Ita ke rumah terakhirnya. Selamat jalan, adikku. Allah memilihmu untuk lebih cepat menghadap-Nya, karena Dia sayang sama kamu. Kamu akan mendapatkan tempat yang benderang dan lapang di surga terindah. 

Saat-saat Ita Pulang ke Rumah

Ita, adik saya ke tiga. Begitu Juli lalu kami mendengar kabar tentang dia sakit, saya, dan juga anggota keluarga lain sudah pasrah. Bahkan Ita pun sudah memasrahkan diri. Maut adalah urusan Allah. Namun usaha kami tidak sedikit sebagai syarat perjuangan seorang Muslim untuk bertahan. Ketika kehendak-Nya tak bisa kami tolak, hanya imanlah yang bisa mendamaikan hati kami. Selamat jalan, adikku... We'll miss you . 

Apakah Saya Pembunuh?

Mimpi. Saya berada di sebuah ketinggian bersama beberapa orang, melihat ke bawah. Sepertinya berada di sebuah pesawat terbang. Lalu sebuah benda yg saya kira bom diluncurkan mengarah ke sebuah bangunan bertingkat. Duar! Saya mendekati bangunan bertingkat yang sudah runtuh. Di tempat lain, sejumlah orang mengerumuni sesosok mayat. Pria, seseorang yang saya kenal. Mantan pemimpin yang dzolim. Satu per satu anaknya datang. Saya tiba-tiba gelisah. Polisi akan dengan mudah menemukan siapa pelaku pengeboman. Saya bercermin. Bagaimana dengan saya? Apakah saya terlibat dengan hadirnya saya bersama para pengebom padahal saya tak tahu apa-apa? Apakah saya pembunuh? Terbangun.

Ketika Ramah Tamah Menyapa Seseorang Dianggap Pelecehan Seksual

Akhirnya, setelah sholat Jumat, pertemuan saya dengan Dekan dan wakil-wakil dekan, saksi, dan teman yang menuduh saya melakukan pelecehan seksual terhadapnya, digelar. Awalnya, karena marah dan merasa terganggu, saya tak mau datang. Namun, akhirnya saya berubah pikiran ketika sejumlah sahabat mengingatkan saya agar datang, agar kasus segera berakhir, dan urusan menjadi jernih.  Seperti telah diduga, pertemuan itu menjadi sangat lucu karena rekan saya yang menuduh saya itu, memiliki standar entah dari planet mana. Dia keukeuh kalau menyapa dia di tengah kerumunan orang dan menawari dia kursi untuk duduk itu dianggap pelecehan seksual. Dia juga keukeuh kalau pria, keluar dari kamar mandi sambil merapikan celana itu dianggap pelecehan seksual. Untung saja orang-orang lain yang mengundang dan diundang pertemuan tersebut masih waras. Kasus dianggap selesai. Dagelan pun usai. Semoga. Selain berkasus dengan saya, si rekan saya ini pun membuat surat lainnya yang ditujukan ke...

Ban Gembos

Saat berangkat ke kampus, melewati jalan sempit, saya berpapasan dengan sebuah mobil. Harus hati-hati biar tak saling menyerempet. Tapi di sisi kiri saya ada gerobak tukang air yang pemiliknya entah ada di mana. Tak sengaja saya menyenggolnya. Beberapa menit kemudian, saya baru menyadari ada sesuatu yang salah dengan jalannya mobil saya: agak miring, dan kemudi tidak lurus. Seorang sopir ojek memberi tahu saya tentang ban mobil yang gembos. Untnungnya, tak jauh dari situ ada bengkel. Selamatlah. Agak sedih juga karena ban robek dari samping, tak bisa ditambal. Padahal masih baru. 

Ban Robek

Jalanan sempit di dekat rumah. Orang-orang menaruh apa pun di atas jalan. Parkir lah, barang daganganlah, jemuran lah, termasuk gerobak-gerobak. Ngok, mobil saya membentur gerobk tukar air. Bukan bodi mobil yang kena, tapi ban depan sebelah kiri. Robek besar yang tak bisa ditambal. Ganti ban, beli ban baru. Ngelus dada.

Bye Bye Endeavour

Saya bangun tengah malam, tak bisa langsung tidur lagi. Teringat banyak pekerjaan yang berderet minta diselesaikan. Jreng, hingga menjelang subuh setelah antrian pekerjaan sebagian saya selesaikan, mata sudah mulai berat. Meskipun belum tuntas, tapi saya harus kompromi. Tidur. Dan pagi ini menjadi tak terlalu bersemangat ketika membuka inbox. Ada pengumuman dari Endeavour! Hasil seleksi post-doc sudah keluar. Ngok. Gagal lagi. Hampa rasanya. Kecewa sangat. Tapi tentu saja tak perlu berlarut-larut, dua menit kemudian saya berusaha keras untuk menata hati. Hari ini pekerjaan-pekerjaan sudah menanti. Move on. Cari peluang lain. Saya menghibur hati. Sewaktu saya gagal seleksi program post-doc SAME yang diselenggarakan Dikti, tak lama dari pengumuman itu, saya berangkat ke Swiss dan hampir sebulan saya tinggal di sana. Saya juga punya kesempatan membantu pergerakan teman-teman di UNJ untuk bertarung menggulingkan rektor lama yang jumawa. Kegagalan kali ini, saya percaya bukan karen...