Skip to main content

Posts

Showing posts with the label India

Merpati di Mana-mana

Merpati mestinya jadi ikon New Delhi. Mereka terbang dan hinggap di mana-mana, termasuk buang kotoran. Di stasiun, di jalanan, di semua atap rumah. Termasuk di masjid terbesar di New Delhi. Tempat sembahyang yang dibuat terbuka di tengah lapangan saja dipenuhi kotoran burung. 

Anjing Are Every Where

Di pintu masuk mesjid Jama Di jalanan Di tengah perkampungan Di tengah kota Di mulut gang menuju hotel

@India Gate

Setelah kemarin gagal, hari ini saya bertekad untuk benar-benar bisa mengunjungi India Gate. Seorang pekerja kantoran yang saya temui dalam metro memberi petunjuk, yang kali ini benar, arah menuju India Gate. Dia bekerja tak jauh dari landmark itu. Dari jarak jauh sudah terlihat dan untuk mendekat, ada dua pilihan: jalan kaki atau naik tuktuk. Saya pilih jalan kaki. Tapi belum lama berjalan, seorang sopir tuktuk mendekat dan menawari saya ongkos yang sangat murah.  India Gate sangat populer, bahkan untuk wisatawan lokal. Orang-orang India yang mungkin datang dari luar New Delhi, datang berkelompok. Mereka berfoto dengan latar belakang monumen peringatan para tentara India yang gugur pada masa perang itu. Tak semua dari mereka membawa kamera. Tapi, yang tidak membawa kamera tak perlu bersedih, karena tukang foto keliling banyak sekali. Ah, mengganggu benar. Mereka menawari saya tak ada berhentinya.

@Pasar Rakyat

Saya lupa bawa uang cash. Jadi, yang saya cari adalah stasiun kereta. Di kantong, cuma ada kurang dari 100 rupee. Untuk makan siang saja rasanya tak cukup. Ketika saya bertanya pada sejumlah orang, tidak satu pun yang tahu pasti di mana dan seberapa dekat atau jauh. Mereka cuma bilang, terus saja jalan. Ngok! Ketika saya tanya lagi di mana stasiun terdekat, mereka menunjuk satu arah. Begitu saya ikuti arah yang ditunjuk, ternyata jauuuuuuuh. Mungkin tiga atau empat kilo meter. Sampai-sampai saya blusukan ke terminal dan pasar sayuran. 

@Connaught Place

Jika mau leyeh-leyeh males,  Connaught Place bisa menjadi pilihan. Maksud saya, satu-satunya taman yang layak untuk disinggahi. Bentuknya lingkaran di kelilingi pertokoan mewah.Hanya ada satu pintu masuk yang dijaga ketat: tas di periksa, badan digerayangi. Untuk masuk pun perlu antri panjang karena pengunjung memang sangat banyak. Di dalam taman, orang-orang hanya duduk: ada yang sendiri, berdua, ada juga yang berkelompok. Udara tidak terlalu dingin, bahkan cenderung hangat. Cukup enak untuk bermain di luar ruang. Tak ada yang jualan, kecuali para penjaja chai (teh dengan susu) dalam sebuah keranjang yang mereka tenteng. Saya membayangkan Monas. Jika pintu masuk dijaga ketat, tak boleh ada orang berjualan, pasti bersih, tertib, dan lebih menarik. 

@Connaught Circus

Sungguh saya penasaran dengan kehidupan modern-nya New Delhi. Pengen lihat mall-nya New Delhi. Tapi tanpa map, tanpa research, dan tanya banyak orang pun sia-sia, akhirnya saya pasrah. Terserah. Karena kepasrahan itulah akhirnya saya menemukan pusat perbelanjaan modern dengan bangunan-bangunan kuno yang berwarna putih warisan kolonialisme. Tempat seperti ini yang saya cari.  Kompleks pertokoan itu melingkar dengan merek-merek premium internasional. Dan hari itu adalah hari terakhir shopping festival. Toko-toko menawarkan diskon gila-gilaan hingga 50%! Mudah diduga dampaknya, kerumunan terjadi merata hampir di semua toko.  Tapi bukan itu yang bikin pertama kali saya girang: toko buku! Toko ini menjual text books berbahasa Inggris yang memang saya cari. Harganya: selangit murah. Dan koper saya bakalan penuh dan berat dengan buku rasanya.

@Gurudwara Bangla Sahib, the Sikh Temple

Penitipan sepatu Gerbang masuk tampak dari arah dalam  Masuk komplek temple harus pakai penutup kepala Kolam suci Tampak muka Tak sengaja, ketika jalan kaki menyusuri trotoar, menemukan bangunan putih berkubah emas. Saya kira masjid. Tahunya sebuah kuil Sikh yang luas. Konon terbesar di kawasan Delhi. Setiap hari Minggu, akan sangat ramai dikunjungi para pengikut aliran Sikh. Mereka berdoa. Untuk masuk ke kompleks kuil ini, alas kaki harus di lepas. Lalu, mengambil secarik kain untuk menutup kepala. Sebagian orang sudah mempersiapkan diri dari rumah. Tapi banyak juga yang tidak, seperti saya. Lalu, pada sebuah keranjang, telah disediakan banyak penutup kepala berbentuk segitiga atau segi empat. Saya ambil dan kenakan satu. Baunya? Hmmm. Seperti bau mentega dari di Nepal. Eh, belum pernah ke Nepal ding. Ada sebuah kolam lebar dengan ikan-ikan emas di dalamnya. Air dalam kolam itu dianggal suci. Pemeluk Sikh yang datang ke kolam akan melakukan ...

Pada Setiap Pagi, di New Delhi

Kampung-kampung di urban New Delhi seperti kampung-kampung di pulau Jawa pada umumnya: masuk gang, keluar gang. Begitu pagi tiba, geliat orang bekerja tumpah memenuhi gang. Merek masak, mencuci piring, di depan rumah. 

Urinoir di Ujung Gang

Well, saya memang memilih hotel The Spot ini, karena hotel ini yang saya temukan online dengan harga murah, ber-wifi, dan di tengah kota. Tapi mana saya tahu kalo ternyata di sebuah lokasi kumuh dengan WC umum tak berpenutup di mulut gang-nya? Wait , mulut gang? Yup. Wait, WC umum? Hmm, tepatnya urinoir.  Apapun, bau pesingnya bisa tercium jauh hingga 10 meter. But this is India. Just enjoy. 

Ternyata Sebuah Masjid

Lantai dari marble hitam putih Kubah dari marble putih Tangga masuk menuju masjid  Teras Salah satu pintu menuju lantai dua atau tiga Salah satu menara dari dua Pemandangan dari atas balkon ke dalam kompleks masjid Toko di bawah masjid Susunan pengurus masjid  Ternyata bangunan tua yang menarik perhatian saya sejak pertama saya datang di kawasan Main Basar, Pahar Ganj itu adalah sebuah masjid. Saya baru ngeh ketika pagi ini secara khusus memperhatikan detail bangunan. Ada kaligrafi Arab di sana. Lalu saya masuk, melalui sebuah tangga yang curam.  Indah, meskipun berdebu dan pada banyak bagiannya sudah lapuk digigiti jaman. Jama Masjid Qazi, satu dari tiga masjid yang saya temukan pada ruas jalan di mana hotel yang saya tinggali berada. Sebetulnya, imam masjid yang berada di lokasi masjid bercerita tentang sejarah bangunan itu. Tapi jujur, saya tidak paham bahasanya.