Skip to main content

Posts

Showing posts with the label MeditasiN

Mendengarkan (Lagi) Kata Hati

Beberapa tahun lalu ketika saya merasa rasa 'spiritual' saya sangat tinggi, saya sanggup dengan peka menangkap dan segera bertindak ketika hati saya 'bersuara'. Belakangan, rasa itu makin tumpul. Well, sebenarnya masih sering 'mendengar', namun tak segera dibarengi dengan tindakan. Saya selalu menunda. Padahal bahaya. Saya menulis ini, karena barusan saja 'sesuatu' menyuruh saya segera mandi. Tapi, saya malah ngeblog . Padahal saya tahu, sesuatu yang lain akan terjadi setelah saya mandi itu (jika saya betulan mandi). Ok, saya mandi. Saya akan dengarkan 'kata hati' saya itu. Biar tak tambah tumpul. 

Memahami arti "Ketekunan"

Saya kira saya mendapat sebuah pelajaran berharaga dari kerja saya sebagai interviewer di sebuah perusahaan market research di Perth sini: ketekunan. Dua hari pertama saya bekerja: masuk pemukiman, dimulai dari alamat tertentu yang sudah ditentukan. Pintu harus diketuk atau jika ada bel, tekan. Tunggu hingga satu atau dua menit, jika tidak ada balasan, artinya rumah kosong. Jika ada, berdoa saja semoga orang yang membukan pintu mau diwawancarai. Ternyata lebih banyak yang menolak. Rumah berikutnya begitu pula, hingga rumah terakhir dari sebuah blok, lalu pindah ke blok lain. Matahari kadang terik, kadang sangat terik. Sesekali hujan. Tapi kuota empat orang dalam satu kawasan harus terpenuhi. Mulai dari jam 10 pagi hingga jam 4 sore. Dua hari pertama berlalu, perasaan pesimis mulai menipis. Sore itu semangat saya bekerja mulai berkibar. Padahal saya sempat kesal dengan diri saya mengapa saya lamar atau saya ambil pekerjaan yang tampaknya menyebalkan ini. Hari ketiga, mestinya diguna...

Mimpi Nenek Tua

Ah, entah jam berapa. Mungkin jam 2 lewat. Saya biarkan jendela terbuka untuk medapatkan angin. Di luar sunyi. Menjelang pagi. Saya meneruskan pekerjaan yang sejak beberapa hari ini membunuh liburan lebaran saya. Hingga badan berasa kelu, Saya niatkan untuk istirahat sejenak. Sambil menelungkup, saya giring pikiran kepada kondisi meditasi. Diawali oleh semburat-semburat cahaya, pandangan saya kemudian dilengkapi berbagai cuplikan gambar bergerak yang tak dapat saya kenali peristiwa-peristiwa apa. Hal-hal yang umum dialamai oleh orang-orang yang sedang bermeditasi. Guru meditasi saya bilang, itu kotoran meditiasi. Tak boleh dilekati. Lalu saya kembali ke kesadaran awal. Selanjutnya, antara kesadaran dalam meditasi dan tidur, saya dibawa sesosok gaib yang tak terlihat. Terbang melintasi banyak ruang dan tempat-tempat asing. Tak ada kekuatiran. Saya membiarkan diri lepas dan menikmati sensasi petualangan. Pada sebuah ruang yang lapang, ada sebuah dipan dengan sosok kurus berbaring ...

Pasrahkan, Semua Indah Adanya

Salah satu klien saya akan menyelenggarakan sebuah acara buka bersama. Saya perlu hadir untuk melakukan sejumlah observasi. Waktunya bersamaan dengan kewajiban saya mengajar. Hati saya berucap. Saya ingin semua kegiatan lancar dan saya tetap bisa memenuhi tugas-tugas. Ya, mungkin keinginan yang berlebihan. Namun, puji semesta, acara klien saya mundur dan saya tetap bisa hadir di hadapan mahasiswa-mahasiswa bengal yang sangat saya cintai. Beberapa hari lalu, saya mendapat sebuah pemberitahuan bahwa kantor saya memenangkan sebuah pitching untuk sebuah pekerjaan di Aceh. Karena tanggal terus bergerak menuju dateline, saya mesti buru-buru mengatur perjalanan ke Kota Serambi Mekah itu. Lagi-lagi, saya berucap. Saya akan ke sana dengan hati yang tenang jika semua kewajiban saya di Jakarta sempurna saya jalani. Dalam waktu dekat saya juga punya sebuah kelas meditasi di Ciloto, Bogor. Saya tak ingin serakah untuk bisa hadir di semua tempat. Biarlah hanya yang betul-betul menghendaki saya saja...

Dicari yang Mencari

Apakah saya sedang mencari pekerjaan baru? Beberapa tahun lalu, ketika saya mengajukan surat pengunduran diri pada atasan, dia berujar: "Tak akan ada tempat bekerja yang lebih enak dari pada di sini, " katanya serius. Saya sangat sebal. Jelas tak mungkinlah. Menurut saya waktu itu, tempat baru selalu akan lebih baik dari tempat lama. Lanjutnya, "Berpikirlah bahwa inilah pelabuhan terakhir dimana kamu bisa nyaman dan fokus pada pekerjaan." Saya menolak keras. Saya pikir, justeru saya harus selalu bersikap bahwa dimana pun dan kapan pun saya berada, bersikaplah untuk selalu siap 'mencari' pelabuhan lain. Sangat perlu memiliki cita-cita. Lalu di kantor lainnya, ketika saya pun berniat untuk melakukan perjalanan ke 'pelabuhan' lain, atasan saya bilang: "Dimana pun, bekerja itu akan selalu sama." Saya dengarkan. Saya pikirkan supaya saya benar-benar bisa paham. Namun tidak.Ketika saya bicara kebutuhan, tak akan ada hal yang bisa menghibur saya. ...

Memeditasikan Hati

Banyak cara dilakukan orang untuk diam. Namun tak banyak yang benar-benar diam kecuali berpikir. Diam tanpa berpikir, yang ada hanya sebuah pengendapan jiwa ke ketenangan. Untuk melihat diri lebih dalam. Siapakah aku.

Memeditasikan Keinginan

Ketika panggilan itu tiba dan saya memang sangat menginginkannya, terjadilah. Hati berucap, semesta mempersembahkan. Saya mendaftar untuk sebuah kelas meditasi di daerah Cobodas, Bogor yang diselenggarakan week end lalu. Jika melihat jadual pekerjaan, sepertinya agak sulit untuk ikut. Namun, lagi-lagi saya ikhlas saja dengan apa yang memang seharsnya perlu terjadi. Jika saya dikehendaki, saya akan ada di mana pun dengan segenap jiwa dan raga. Tiba-tiba saja, semua hal yang saya kira bisa menghalangi, menyingkir dengan sendirinya. Dengan santai, saya melengang ke Cibodas.

End of August

Bagaimana jika tanggal 31 Agustus kelak, sesuatu yang tak saya kehendaki terjadi? Gempa bumi di Jakarta, misalnya. Well, my name isn't Jesus Crist. Not even an angel. But a dream I got was visualizing about the date! Very obvious. Just prepare. Maybe isn't the worst, but the nicest.

Move to Another Level

Saya mulai bisa mendeskripsikan level hidup apa yang hendak saya masuki. Saya ingin berganti kelas. Beberapa bulan terakhir saya secara sadar memasuki kelas tawakkal. Saya merasa telah berhasil melaluinya. Kelas tawakkal berisi pelajaran-pelajaran tentang bagaimana menerima dan melepaskan sesuatu dengan tingkat emosi dan perasaan yang balance. Tak duka berlebihan tak marah tak menyesal ketika kehilangan, tak gembira berlebihan tak jumawa. Sepuluh ribu di kantong, bisa saja sama nilainya dengan sejuta. Makan di pingir jalan, bisa saja sama nilainya dengan makan di hotel berbintang lima. Sendiri atau ditemani, pergi atau ditinggalkan, dikhianati atau dicintai. Hati saya akan baik-baik saja karena semua perasaan dan kejadian dan kepemilikan hanyalah titipan. Taka ada sesuatu hal pun abadi adanya. Alhamdulillah, syukur puji tuhan. Kelas itu telah membentuk pribadi saya yang baru. Kesederhanaan, karena tak ada yang sesungguhnya rumit. Keindahan, karena semuanya indah. Saya ingin berganti le...

Memahami Tuhan dengan Logika

Pelajaran tentang iman dan saya berpikir santai bahwa tuhan tak ada hubungannya dengan berbagai kejadian di dunia. Semua hal bisa terjadi karena adanya sebab akibat. Mengapa banjir kita tahu mengapa. Mengapa gempa bumi dan lalu tsunami kita pun tahu mengapa. Mengapa pecah perang Libanon pun kita tahu mengapa. Orang beragama akan percaya bahwa kita manusia sedang diuji. Katanya, manusia sedang diberi pelajaran karena dosa-dosanya. Dosa setiap orang berbeda banyaknya. Adilkah jika seorang bocah kecil yang malas bangun pagi mati tertimpa dinding rumah dihukum dengan dilenyapkan nyawanya? Adil pulakah seorang isteri yang malam sebelumnya tak melayani suaminya dengan baik diganjar dengan hukuman mati gelombang tsunami? Padahal para pejabat yang menelan milyaran uang negara masih uncang-uncang kaki di rumah mewahnya yang kuat dan kokoh. Tuhan penyayang. Jika melukakan, menghilangkan, merusakkan, mendukakan, apa nama pengganti dari kata sebutan penyayang? Well, bisa sejuta a...

Pilihan yang Ditentukan

Kita dibuat percaya bahwa hidup memang penuh pilihan. Kita lapar, tinggal pilih mau makan apa? Kita lelah, tinggal pilih bentuk istirahat seperti apa. Kita juga bebas memilih dengan siapa kita berteman, saluran TV mana yang hendak kita tonton. Hidup benar-benar penuh pilihan. Namun betulkah demikian? Jika hidup penuh pilihan, menjadi kalah, menjadi miskin, berwajah buruk, berotak bodoh, dan lain-lain itu, apakah juga sebuah pilihan? Bagaimana jika yang selama ini kita kira pilihan itu sesungguhnya adalah sebuah ketentuan? Kita menang dari sebuah kompetisi karena memang telah ditentukan kemenangannya. Kita kaya juga telah tertentu berapa banyak kekayaan kita. Saya mulai percaya, bahwa kita hidup sebertulnya tidak pernah diberi pilihan sama sekali. Jika pun sesekali kita memilih menu makan siang hari ini atau film apa yang hendak kita tonton midnight nanti, sesungguhnya tanpa kita sadari telah ditentukan juga. Sesuatu yang besar di luar sadar kita mengarahkan kita untuk berk...

Surga Siapa

Suatu hari serombongan crew acara tv bertema religius meminta saya untuk diwawancarai mengenai sejumlah hal: Apa itu surga? Siapa saja yang bisa masuk surga? It was synchronicity. Saya memang sudah lama ingin berpendapat tentang bagaimana orang bisa masuk surga setelah kematian. Namun setiap kali saya dihadapkan dengan monitor komputer, saya malah selalu menulis tentang hal lain. Jadi ketika saya disodorkan pertanyaan semacam itu, saya tak perlu lagi berpikir lama. Semuanya sudah ada di ujung lidah. Saya beranggapan bahwa surga itu adalah segala sesuatu yang berada dalam pikiran dan hati kita. Bagaimana kita memberi nilai atau value terhadap segala sesuatu yang kita miliki dan rasakan. Surga adalah label yang bisa kita pasang terhadap hal apapun. Surga adalah rasa syukur. Siang yang panas dan terik bisa kita namai surga. Kita hadapi saat itu dengan rasa nikmat dan kegembiraan. Tak ada waktu untuk mengeluhkan yang sedang kita hadapi, apalagi mengeluhkan yang belum terjadi....

Firasat yang Meresahkan

Pernah punya firasat dan itu benar-benar terjadi? Beberapa waktu lalu saya terbangun dari tidur, bukan karena mimpi, karena emang sudah pagi saja. Tiba-tiba saja sebuah kesimpulan bahwa saya akan menghadapi sebuah banjir dan kecelekaan pesawat terbang. Siangnya, saya bercerita ke rekan kerja. Bahwa, mungkin Jakarta akan dilanda banjir yang sama besar atau lebih besar dengan banjir-banjir yang pernaha ada. Lalu, akan ada sebuah kecelakaan pesawat terbang di mana salah seorang yang saya kenal ada di dalamnya. Bukan mengharap semuanya perlu terjadi, tapi tetaplah penasaran apakah firasat atau apakah namanya itu akan betul-betul terjadi. Selasa lalu, saya terjebak banjir di gedung Sarinah Thamrin! Saya harus keluar dari gedung dengan menenteng sepatu dan menggulung ujung celana hingga sebatas paha. Tentang kecelakaan pesawat? Hmm, sebaiknya tak perlu terjadi.

Ingin Berhenti Menjadi Sahabat Bagi Setiap Orang

Ingin berhenti menjadi sahabat bagi setiap orang Sahabat mestinya mengayomi, tidak sekedar ada ketika dibutuhkan Sahabat itu membimbing, tak sekedar menyayangi Sahabat itu mengingatkan, bukan sekedar menemani Apa yang telah kulakukan terhadap para sahabat? Hanya bisa mendengarkan tanpa bisa mengarahkan, tanpa bisa menunjukkan Dari lubuk hati ingin menghentikan ketika mereka keliru Ingin sekali mengarahkan Namun saya tak berani untuk menginterupsi Asal bukan aku yang salah Asal bukan aku yang terlanjur berbuat Seharusnya, biarlah aku yang salah asal bukan sahabat Biarlah aku yang celaka asal bukan sahabat Pantaskah menyandang predikat sebagai sahabat bagi seorang sahabat untuk semua yang tidak aku lakukan terhadap para sahabat? Ingin berhenti menjadi sahabat bagi setiap orang Karena aku tak sanggup mengemban amanah Terlalu naif untuk terus menjadikan diri sebagai sahabat padahal tak perduli Terlalu narsis untuk mencelakan diri.

Hadapi dengan Pintar, Bukan Menghindar

Akhir-akhir ini, saya sedang mempraktekkan hidup mengalir, sesungguh-sungguhnya mengalir. Maka, ketika saya mengalir saya mestinya tidak boleh menolak sesuatu yang datang menghampiri. Termasuk telepon-telepon yang masuk. Termasuk kejadian-kejadian yang mungkin tidak sedap. Termasuk ajakan dan undangan. Ketika ajakan itu terdengar menyenangkan dan saya punya waktu untuk ajakan itu, saya akan katakan saya bisa. Ketika ajakan itu terdengar tidak menyenangkan padahal saya punya waktu untuk ajakan itu, ini yang menjadi dilema. Di satu sisi, saya ingin menerima. Di sisi lain, yang tak ingin mengorbankan perasaan. Seorang sahabat getol sekali menghubungi saya. Saya tak ingin terlalu sering berhubungan dengan dia. Beberapa alasan mengapa saya tak ingin terlalu sering berhubungan dengannya: Dia selalu minta saya menemani ke tempat-tempat yang tidak populer di mata saya untuk mencari barang-barang keperluannya. Dia selalu minta pendapat saya untuk hal-hal kecil yang, masya allah, saya pikir anak...

Tuhan adalah Alam Semesta

"Kamu masih Islam?" Seorang sahabat bertanya, ketika saya membuka percakapan lewat ponsel dengan mengucap 'assalamualaikum'. Tentu saja saya tak perlu tersinggung. Apa yang saya lakukan akhir-akhir ini memang mengundang sejumlah prasangka. Sejak setahun terakhir ini, saya tertarik memperdalam hal-hal yang berbau spiritual. Bukan berarti tiba-tiba saya menjadi religius. Saya membaca berbagai buku dan diskusi. Saya bergaul dengan pihak-pihak non muslim. Untuk sekedar mencari tahu mengapa mereka begini begitu. Sebuah petualangan batin yang saya alami kemudian. Dan ini urusan saya. Saya mengganti kata 'Allah' dengan 'Tuhan', karena saya bergaul dengan sahabat-sahabat yang heterogen latar belakang agamanya. Kemudian saya mengganti kata 'tuhan' dengan 'alam semesta' karena ternyata sahabat-sahabat saya itu atheis. Mengaku beragama tapi tak berperilaku agamis. Tentu mereka beribadah, namun hanya untuk menunjukkan bahwa mereka memeluk agama. D...

Harta, Tahta, Cinta: Are Gone

Seorang sahabat baru saja menjual mobilnya. Bukan untuk berganti kendaraan baru. Kesulitan keuangan membuatnya harus bertindak begitu. Walaupun dia ikhlas dan yakin dengan apa yang dia lakukan, saya melihat segaris kesedihan dari wajahnya. Sekonyong-konyong, seorang tamu datang. Tampak sendu. Lalu dia bercerita bahwa dirinya baru saja mendapat pesangon karena perusahaan tempatnya bekerja melakukan pengurangan karyawan besar-besaran. Sahabat saya tertegun. Begitulah semesta menunjukkan bahwa kita tidak sendiri. Tak selamanya kita diberi segala kemasyuran. Sahabat saya yang lain berhari-hari jumpalitan menahan rindu karena diputuskan kekasihnya. Walaupun air mata sudah banyak ditumpahkan, tokh sang kekasih tak pernah kembali juga. Kehilangan-kehilangan yang membuat saya makin menyadari tak ada sesuatu pun yang kekal. Semua hanya titipan: harta, tahta, cinta.

'Tidak Melekat' agar Seimbang

Beberapa waktu lalu saya ikut sebuah kelas meditasi. Sang guru berucap: "Jangan melekat pada suatu situasi terlalu lama." Saat bermeditasi duduk khusu dalam satu posisi, kita dituntut untuk berkonsentrasi pada suatu hal. Namun seringnya, walapun niat khusus selalu ada, yang namanya pikiran selalu saja berlalu lalang. Entah itu kenangan masa lalu, maupun rencana-rencana dan imajinasi di masa datang. Jangan melekat, maksudnya, ketika saya dalam situasi meditasi, pikiran-pikiran liar itu jangan dibiarkan tambah meliar hingga seolah meditasi hanya diisi oleh nostalgia dan lamunan. Seyogyanya saya harus segera kembali berkonsentrasi. Saya jalankan konsep meditasi dalam kehidupan sehari-hari. Namanya kehidupan, tentu saya jalani seperti seharusnya saya hidup. Tidur, makan, bekerja, bersosialisasi, beribadah. Karena tidak melekat tadi, saya kemudian tidak membiarkan diri dan persaan saya larut dalam situasi-situasi tertentu yang mungkin akan menjadikan diri saya kecil. Ketika meliha...

Kekasih yang Disakiti

Di tengah sepasang mantan kekasih yang sedang berseteru. Semua merasa paling benar. Semua merasa teraniaya. Padahal saya tak ingin memihak. Padahal saya tak ingin berucap apa pun. Kalo boleh, saya ingin mendengarkan saja. Biar masalah mereka pecahkan berdua. Karena saya tidak tahu siapa yang paling benar dan saya tak perduli. Karena saya tidak tahu siapa yang paling teraniaya dan saya tak perduli. Saya ingin mereka kembali berbaikan dalam bentuk hubungan apa pun. Bahwa mereka pernah bersama dalam suka dan duka. Saling berbagi. Tak penting siapa yang paling mencintai. tak penting siapa yang paling perduli. Tak penting siapa yang paling berinvestasi. Tak penting juga sudah berapa lama mereka pernah menjalin. Saya dan mantan kekasih pernah berselisih. Kami memiliki sahabat bersama. Saya curhat ke dia dan mantan kekasih saya pun curhat ke dia. Dia menceritakan kembali apapun yang mantan kekasih saya ceritakan ke saya dan sebaliknya. Bukannya menjadi baik, masalah jadi tambah runyam. Saya t...

Bertemu Bapak

Mengunjungi Bapak di negeri cahaya. Tak berkesudahan ibadahnya karena perjalanan ke derajat keabadian masih ribuan cahaya antaranya. Di sisa ingatannya akan kenangan dunia, Bapak masih mengenali saya, anak lelakinya yang bengal. Bapak yang tak pandai berbasa-basi. Bapak yang tak bisa lelembut basa. Bapak bercerita tentang saat-saat meninggalkan jasad menuju cahaya yang kuat menarik dan membimbingnya ke alam keabadian. Energi kuat yang menjadikannya lelana, yatim, dan piatu dalam kesendirin dan tak kesendirian. Ketidaktahuannya bagaimana untuk menjelang masa fana yang telah ditinggalkan karena semua detik yang dimiliki hanya untuk memuja dan hanya memuja Maharuh pemilik para ruh semesta. Bapak bercerita saat dikumpulkan dengan sebangsa makhluk. Saat mana amal perbuatan mendapat imbalan yang semestinya. Saat doa-doa di bumi terputus karena pahala hanya dimiliki oleh mereka yang berbuat. Beribadahlah terus, Bapak. Hingga Allah di hadapan.