Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Poem

Malam Jalang

Kepada malam aku bercerita Pada helai-helai harap aku menuliskan Lalu kau datang Dan udara yang terlepas dari setiap akar yang meranggas Lalu kau datang Masih rindu yang sama Rindu pada butir gerimis dini hari Rindu pada gemercik putik yang terlambat disiangi Masih harap yang sama Harap tentang khilap yang mungkin kau lakukan

Puisi: Kasmaran

Inikah rindu Saat waktu menjauhkan, semilir rasa aneh mengiris Saat delik mataknya tak tertemukan, segenggam udara ingin kuremukkan Saat derai tawanya tak tergenggam, segumpal loyang ingin kuhangatkan Saat hangat tubuhnya tak terdefinisikan, setumpuk bunyi ingin kubacakan Inikah rindu Detik-detik yang menyusut di balik ruam Detak yang berhamburan di ruang senyap Di mana dia Inikah rindu Gerak tubuh yang mulai kebas mencari dia Entah Rabu entah abu yang mengembalikan Entah waktu entah ragu yang menyembunyikan Namun aku yakin rindu ini untuknya Namun aku malu untuk mengakui bahwa rindu ini untuknya Namun dia tak tahu bahwa rindu ini untuknya Terlalu kuat katup ini untuk dibuka Terlalu lemah hati ini untuk membuka Rindu ini, bahasa yang tak terkatakan ... 

Puisi: Bukan Rasa Biasa

Bukan Rasa Biasa Ruang hati menghampa sekejap  Ada bagian yang tak terisi Kukira tentang dia  Dinding sewarna gading Dan dia di hadapan Namun antara terbentang Hawa sekeras petang, yang akan pergi begitu surya silam Namun dia  terjiplak pada setiap rupa Dan antara tetap terbentang Kukira tentang dia Sesaat aku menggenggam geram yang tak mampu aku gumamkan Lalu kelu buku-buku jari  Meranggas di ujung-ujung pagi Berharap dia Bukan tentang pilihan karena dia bukan untuk dipilih Bukan tentang rasa biasa karena waktu yang memilihkan  Sesaat dia melintas Pada setiap tuma'ninah  Pada deru Pada tempias setiap hujan Kukira masih dia Aku merasa Rasa ini, bukan rasa biasa

Di Antara Dua Cinta

Waktu industri film kita masih berjaya, tiap tahun bisa diproduksi puluhan hingga ratusan judul film. Saking banyaknya, judul-judul film itu bisa gabung-gabung dan dijadikan bait puisi. DI ANTARA DUA CINTA entahlah di hatiku masih ada DUA KEKASIH yang keduanya begitu istimewa di hati bagiku mereka adalah DOEA TANDA MATA yang sangat berharga padahal USIA 18-ku sudah lewat jauh namun aku tetap saja belum bisa memutuskan apakah aku akan memilih Arini, si PERAWAN DESA atau Mer, si GADIS MARATHON aku jadi ingat masa-masa KETIKA MUSIM SEMI TIBA saat pertama kali bertemu si PERAWAN DESA yang adalah putri dari seorang sopir TAKSI bernama NAGA BONAR tiap hari aku melakukan SERANGAN FAJAR untuk meluluhkan hatinya sambil membawa seikat KEMBANG KERTAS aku akan datang, DERU dan DEBU kuterjang hingga akhirnya LANGIT SEMAKIN BIRU hingga akhirnya KULIHAT CINTA DI MATANYA oh, gembiranya hatiku aku merasa seperti SATRIA BERGITAR yang menang perang apalagi aku merasakan GAIRAH PERTAMA yang memuncak aku m...

Anak Perawanku Mengandung

Menikah secara mendadak bisa menimbulkan berbagai spekulasi. Hamil, misalnya. Seorang sahabat isteri saya bertanya sambil bisik-bisik sebelum hari pernikahan. " Hamil, ya?" Bahkan salah seorang anggota keluarganya menanyakan hal yang sama. Saya sempat sangat bersyukur karena tak sampai ada yang bertanya-tanya seperti itu langsung ke saya. Selain tak siap dengan jawabannya, saya memang tak terpikirkan akan ada orang yang benar-benar tega mengajukan pertanyaan demikian. Saya berasumsi, keluarga dan sahabat-sahabat saya yang sangat terbuka itu tak memiliki prasangka ke arah itu. Namun setelah hari pernikahan, seorang sahabat saya menghampiri. Sambil mengucapkan selamat, ia juga bertanya apakah mendadaknya acara pernikahan saya karena kehamilan Untung saja mood saya sangat baik waktu itu. Ah, saya tak perlu buang energi untuk melayani prasangka-prasangka. Jika benar hal itu terjadi, Ibu saya mungkin akan sangat terpukul. Sambil ia akan merintih membacakan puisi seperti berikut: ...

Janji Perwakinan

janji perkawinan adalah cairan vagina yang bersimbah di kening bumi. kau boleh menukarnya dengan seribu bulan seribu mentarinamun rotasi manapun yang kau tunjuk arahnya selalu ke hati janji perkawinan seperlunya buih angin di sepanjang sisa usia. panjang kali lebar suka dukanya berpangkat delapan. tujuan apapun dari kendara perkawinan kuadratnya menghasilkan angka penambah. perkawinan adalah surga adalah neraka kau bukanlah malaikat namun yang dimuliakan. kau bukanlah pembawa amanah namun yang dipercayakan.kau budak kau majikankarena perjanjian itu yang haram telah dihalalkan. di kening bumi yang bersimbah keintiman. seribu bulan seribu mentari terserah kau dan pasangan pengendali putaran

Sajak Manila

Hujan tak turun di Manila, mestinya, seharusnya, menurutku. Padahal desember telah melesak hingga ke ujung. Botol-botol champaigne telah disiapkan. Petasan telah disuarakan. Orang-orang bergegas menyiapkan pesta. Angin dengan bau puring terawang membalut dahagaku. Masih delapan persimpangan harus aku temui untuk segera tiba di kamar sewa. Seorang lelaki dengan tato ikan pari di kakinya. menengadah ketika langit tiba-tiba redup namun hujan tak juga turun di Manila. Manila adalah segerombolan jeepneys yang turun serentak di jalan-jalan ibarat pawai paskah di negeri-negeri latin. Menggerung mencabuti penumpang satu per satu dari segala arahan ke segala arah. Kabel-kabel telepon menjuntai kelelahan mencumbui kembang sepatu. Seorang perempuan dengan sol sepatu tebal bergegas. Di tangannya pita-pita berwarna emas dan sekeranjang cinta. Di persimpangan keempat atau kelima perjalananku menuju kamar sewa, yang pada satu bagiannya digenangi air namun bukan oleh hujan karena hujan tak tu...

kapan pulangku, pulangkan

kemana pulangku jika mata angin kau tumpulkan arus kau endapkan dan jarak kau terlantarkan [aku adalah jakun lelaki. aku adalah batang pelangi. aku adalah kelopak udang. aku adalah diagonal bintang. aku adalah kental cairan] tahun keempat pencarianku dan bebau rumah belum terendus aku meradang mengharapmu datang selamatkan aku aku menjalang mengacaukan awan temukan aku [aku adalah keping cermin. aku adalah sisik rembulan. aku adalah hitungan genap. aku adalah manis semangka. aku adalah tandus perangai] lari berlari aku menghampiri bayang yang kukira kau engah terengah aku menyapa nama yang kukira kau dayu mendayu aku memeluk tubuh yang kukira kau [aku adalah perindu yang tersuruk. aku adalah sesak yang ditobati. aku adalah lelah yang dimatikan.aku adalah usia yang diselesaikan. aku adalah bebatu kuburan] kerumun badai yang biasa rimbun menjadi pertanda kau berikan kapan pulangku. wajah bercabik dibaluri kerinduan. segenap hati menyebut namamu lafalmu fasih dalam ingatan. berdesir menye...

jalan selamat jalan kau

lalu aku mabuk/ku dimabuk padamu yang terbenam dalam dalam ruam hatiku mengakar dalam ke jantung kemana darah dialirkan selalu melulu kau banduli pikirku rasaku siangku malamku sadarku tidurku kau memabukkan/kau membuat mabuk kau terbingkai pada setiap lahan pada setiap belahan pada detik yang mendetak pada harapan yang menderak aku sadari lalu/lalu aku kecewa cintaku tak menjejak dalam dalam ruam hatimu cintaku menepuk ruang kosong hingga tak bertepuk kalor yang kuhempas tak menghentak sama genderang yang kutabuh tak benderang sama bendera yang kukibar tak menderap sama amboi patah hatiku karenanya amboi binasa cintaku jadinya amboi nelangsa hidupku rupanya kuharap waktu segera berganti segera supaya luka tak terus menganga supaya kehilangan menemukan padatnya segera hingga aku melanglang segera lalu kubiarkan kau pergi hingga lamat-lamat jarak melumat sesak tak lagi mendesak bayangmu tak lagi wasiat

Syahwat Sang Kyai

demi fatima demi aisyah dimulyakanlah engkau, nyai maka ikhlaskan aku menikah lagi hendaknya pandang aku padanya tak jadi zinah rindu aku padanya tak jadi khianat karena sesungguhnya cintaku padamu tak pernah berbagi hanya saja syahwat ini, nyai tak bisa ditumpulkan oleh wudlu oleh lilitan sorban oleh alif ba ta sa supaya tak setiap menjelang sembahyang malam kau turunkan kerudung supaya tak setiap menjelang sembahyang malam kau junub supaya aku tahu sedalam apa taqwamu supaya aku maklum sedalam apa kesetiaanmu maka ikhlaskan aku menikah lagi demi sunah demi barokah demi umah berdua kita berjuang telah berdua kita tirakat telah berdua kita bermenang telah karena aku guru maka digugu dan disaru karena aku mursid aku darwis maka setiap tindakanku adalah pahala maka ikhlaskan aku menikah lagi maka amalku adalah amalmu ikhlaskan aku menikah lagi, nyai karena kewajiban adalah wajib maka aku tak akan lalaikan kewajiban lalu engkau akan berbagi kewajiban sementara aku memberikan kewajiban mak...

tersesat

kemana pulangku jika mata angin kau tumpulkan arus kau endapkan dan jarak kau telantarkan [aku adalah jakun lelaki. aku adalah batang pelangi. aku adalah kelopak udang. aku adalah diagonal bintang. aku adalah kental cairan] hari keempat pencarianku dan bebau rumah belum terendus aku meradang mengharapmu datang selamatkan aku aku menjalang mengacaukan awan temukan aku [aku adalah keping cermin. aku adalah sisik rembulan. aku adalah hitungan genep. aku adalah manis semangka. aku adalah tandus perangai] lari berlari aku menghampiri bayang yang kukira kau engah terengah aku menyapa nama yang kukira kau dayu mendayu aku memeluk tubuh yang kukira kau [aku adalah perindu yang tersuruk. aku adalah sesak yang ditobati. aku adalah lelah yang dimatikan. aku adalah usia yang diselesaikan. aku adalah kematian] kemana pulangku jasadmu meniadakan kenangan tentangmu menguapkan

Anatomi Angin

Perempuan berkerudung topan Menapaki liang rautan yang dia kira adalah nasibnya Semakin dalam dia seserah kesunyianlah yang ia temukan Nasib adalah kuas perona yang terselip pada kusen setiap pintu rumah lelaki yang ia jadikan suami Pada rahimnya yang tandus telah disemaikan benih-benih kehampaan Berpekan-pekan ia kandung janin kesetiaan hingga tiba saatnya ia lahirkan bayi bernama kesia-siaan Padahal masih pagi Aku temukan pucuk-pucuk pakis berlinang embun Pucat hijaunya seolah April segera datang Padahal masih rindu Lalu kusematkan salam pada riuh rendah galau yang merasuki tiba-tiba Lalu senyap Senyap seperti batu Yang dilakukannya hanya mengamati dan melayani Kalor yang diserapnya dalam diam Dingin yang dikudapnya dalam diam Dalam diam kesenyapan telah dieramkan Dalam diam halimun mengering di ujung daun Baunya melengking menyekat rongga paru Dalam diam aku mengingat sejumlah wajah Janji-janji semasa kemarin Bertanya kemana gerangan Dalam diam aku urai kerumun ayat yang telah menyu...

Perjalanan Akhir

ada ruang yang tak dapat dipadati oleh bentuk apapun kecuali kehadiranmu aku menunggu hingga lembar udara terakhir kukunyah dimana kau rasa sakit yang dapat kutakar namun tanpa kau di sampingku, diriku semakin terkulai tanpa daya derit waktu menjadi jagal yang kian menyakitkan kupikir kaulah dajal yang bertanggung jawab atas diriku dimana kau angin bersirip menebas malam diiringi dandang gula dimatikannya aku ketam, belut, jari manis, dan hewan-hewan sungai air tawar menutup jasadku dengan doa tak berjudul dimana kau seorang lelaki berjubah terang menuntunku berjalan bersisian pada sebilah garis kututup mata karena tak indah pemandangan dapat kukenang namun batinku masih jelas dapat menatap perjalanan aneh masih berharap kau mengejakan setiap gerak yang tak dapat kubaca maknanya menghalaukan keraguanku atas perjalanan yang kutahu kemana arahnya mengenalkanku pada sosok yang menggiringku entah untuk apa menghilangkan dahagaku menenangkan ruhku adalah rasa sedingin es yang membuatku ber...

kau pada hujan

ternyata hujan kupeluk rindu tanpa bentuk remuk dendam dalam genggaman ternyata kau tinggali bau pada bayangan kuendus hingga bekukan ternyata maya isi segala bejana kenangan sesaki palung penuhi impian kau pada hujan terpeluk beku dibilangannya

Negeri Betina

Berrziarah ke negeri betina Dalam pokok rongga vagina dan kusamnya lendir retina Batina-betina bagai perahu yang sepertiga tiangnya dililit bendera layu Berlayar menyebrang waktu Setumpuk ombak sekantung gelombang Riuh rentan diciumi seteru Berziarah ke negeri betina hingga uzur dilumuri mazmur Aku yang haus lalu diasini gelombang Menciut kelu dihempasnya Meliuk ngilu dipaksanya Berziarah ke negeri betina hingga tak pulau tak pulang Setumpuk ombak segagu gelombang Perahu laju tanpa mampu kudaki padahal hatiku padanya Benderanya melingkari sepertiga panjang nadinya Betina betina Betina betina

Kekasih Kekasih

hingga tanganku baal memelukmu tak akan kulepas hingga udara tersendat dan waktu menyublim terhempas tiga bentuk irama yang digauli biar ukuranku melesak enam kali diindrai hingga kita saling desak lima derajat kemiringan yang membuat kita ajeg tanpa rusak [terinspirasi dari puisi yang termuat di milis 'bunga matahari']

Ibu yang Kupilih

Kupilih engkau sebagai Ibu bukan karena tlah melahirkan Karena kau dewasakan tiada menelantarkan Kau diani hidupku Tak bimbang aku jelajahi semesta Keberadaanmu dalam segala rupa Kelembutanmu ketulusanmu Kau slalu ada di setiap doaku Untuk nama cinta Kuhafalkan aksara agar bisa merangkai kata lagukan soneta Atas segala cinta Sehingga dewasakan tiada menelantarkan [puisi ini saya ubah dari sebuah lagu yang pernah saya tulis. ditulis kembali karena terinspirasi oleh puisi yang ditulis oleh seorang anggota milis 'bunga matahari']

Janji Perkawinan

[entah mengapa, sejumlah sahabat yang belakangan intens berhubungan dengan saya, satu per satu meniatkan diri untuk menikah. satu per satu menghitung hari dan menetapkan tanggal. suatu ketika saya melihat ulang foto-foto sejumlah pasangan calon pengantin-sekarang tentu saja sudah menikah, foto-foto pre wedding yang saya buatkan. yeah, mestinya saya sudah memikirkan hal yang sama] janji perkawinan adalah cairan vagina yang bersimbah di kening bumi kau boleh menukarnya dengan seribu bulan seribu mentari namun rotasi manapun yang kau tunjuk arahnya selalu ke hati janji perkawinan seperlunya buih angin di sepanjang sisa usia panjang kali lebar suka dukanya berpangkat delapan tujuan apapun dari kendara perkawinan kuadratnya menghasilkan angka penambah perkawinan adalah surga adalah neraka kau bukanlah malaikat namun yang dimuliakan kau bukanlah pembawa amanah namun yang dipercayakan kau budak kau majikan karena perjanjian itu yang haram telah dihalalkan di kening bumi yang bersimbah keintim...

Membaca Angin

membaca angin mengeja kehendak ke lembah ke kerabat ke laut di mana sauh diletakkan membacamu pada sembarang waktu di segala sela di titik dimana cinta pernah disimpulkan padamu yang membanduli hati dengan kepedihan padamu yang mewartai hati dengan kekecewaan berharapmu pengembaraan dapat menghentikan tanggung jawab aku mencari jejak yang ditinggalkan kesembuhan yang lama ditelantarkan mewarnai angin mengendus pecahan hati yang telah terberai diceraikan membaca angin agar tiada terali dibujurkan biar garis petaka yang terlanjur melintang dikebumikan melepasmu berkelana lintasi gunung beranak pundak hingga tamat kau pelajari bahasa natura untuk bisa mengeja rajah di mata bathin hingga kau sadari hidupmu sungguh beribu arti