Hujan tak turun di Manila, mestinya, seharusnya, menurutku. Padahal desember telah melesak hingga ke ujung. Botol-botol champaigne telah disiapkan. Petasan telah disuarakan. Orang-orang bergegas menyiapkan pesta.
Angin dengan bau puring terawang membalut dahagaku. Masih delapan persimpangan harus aku temui untuk segera tiba di kamar sewa. Seorang lelaki dengan tato ikan pari di kakinya. menengadah ketika langit tiba-tiba redup namun hujan tak juga turun di Manila. Manila adalah segerombolan jeepneys yang turun serentak di jalan-jalan ibarat pawai paskah di negeri-negeri latin. Menggerung mencabuti penumpang satu per satu dari segala arahan ke segala arah. Kabel-kabel telepon menjuntai kelelahan mencumbui kembang sepatu.
Seorang perempuan dengan sol sepatu tebal bergegas. Di tangannya pita-pita berwarna emas dan sekeranjang cinta. Di persimpangan keempat atau kelima perjalananku menuju kamar sewa, yang pada satu bagiannya digenangi air namun bukan oleh hujan karena hujan tak turun pada bulan desember di Manila. Seorang pria dengan tato ikan pari di kakinya dan seorang perempuan dengan sol sepatu tebal akan berpapasan, saling sapa, saling lempar senyum karena pada tangannya membawa pita-pita, sekeranjang cinta, dan segenap cinta. Setelah pertemuan itu, aku akan terus berjalan ke kamar sewa membiarkan lelaki bertato ikan pari dan perempuan bersol sepatu tebal menemui cintanya masing-masing.
Lalu jika nanti aku tiba di kamar sewa, aku akan menulis pada sehelai kartu pos untuk aku kirimkan kepada seorang suster muda yang ketika aku melintasi santa agustin ia mengibaskan rosario dan aku tertegun menikmati kecantikannya. Kepada maria, tulisku, jika nanti aku tiba di kamar sewa. Langit kembali gelap namun hujan tak turun di Manila. Sungai Pasig dengan kerumunan eceng yang mengempis kegerahan. Maria adalah sebingkai senyum yang memfosil pada tembok perkara berwarna kecoklatan.
Malam lebih cepat turun di Manila. Bau malta lebih cepat tercium di mulut pintu. Kepada Maria, aku akan kembali.
Comments