Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Britain

Wish You Were in Nottingham, Aprina

Secara kebetulan, saya dan seorang sahabat saya, Aprina, sama-sama pernah mendaftar dan diterima di dua universitas berbeda di Nottingham, UK. Saya di University of Nottingham sementara Aprina di University of Trent Nottingham. Karena sejumlah alasan, kami tidak jadi ke Nottingham dan malah ke Australia. Begitu saya mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Notingham, tiba-tiba saya punya ide jahil untuk sahabat saya itu. Saya membuat sebuah tulisan pada secarik kertas, lalu meminta sejumlah mahasiswa di kampus itu untuk memegang kertas ybs. Silakan gondok, sista.

Speaker's Corner

Begitu lewat salah satu pojok Hyde Park, taman terluas di London, saya melihat kerumunan orang yang betul-betul membuat saya penasaran. Apakah ada event perusahaan? Tour? Begitu tiba, saya baru ngeh kalau itu adalah Speaker's Corner, tempat orang bicara bebas bikin panggung sendiri dan mencari massa sendiri. Hari Minggu itu sejumlah orang dari yang berwajah Arab, India, Afrika, hingga kulit putih bicara lantang tentang agama-agama yang mereka yakini kebenarannya. Pengunjung yang mendebat, langsung buka alkitab atau Quran. Mereka bicara dengan argumentasi yang kuat. Seolah tak ada yang mau kalah. Meski demikian, tak ada yang saling hina meskipun urat leher mengencang dan mulut berbusa. Tak perlu ada yang tersinggung juga. Semua berjalan aman dan saling menghormati. Saya membayangkan kalau pojok seperti ini ada di Indonesia. Belum-belum pedang melayang. Namun tak selalu semuanya serius. Ada sekelompok anak muda yang menawarkan 'Free H...

Igloo Backpackers

Hostel yang saya tempati di Nottingham bernama Igloo Backpackers, terletak di 110 Mansfield Road. Dari stasiun kereta, sekitar 5 menit naik taksi dengan ongkos 4,8 pound. Saya menempati kamar di lantai 3 dengan 5 tempat tidur susun. Semuanya terisi. Per malam, tarifnya 14 pound harga online. Ditambah 1 pound untuk sewa handuk. Internet gratis. Ruangan rapi, bersih, dan terkesan baru. Padahal gedung ini dibangun sekitar abad 18. Ada ruang tv di lantai pertama, sedangkan dapur dan ruang video game di basement. Hostel ini tak jauh dari stasiun bis centrelink, bis gratis untuk keliling kota. Sangat dekat juga ke pusat kota. Jika memperhatikan para penghuni lainnya, terlihat berbeda dengan para penghuni hostel yang pernah saya kunjungi di England ini. Di sini terlihat lebih intelek dan bersih. Apa karena Nottingham bukan kota turis umumnya? Menurut resepsionis, sangat banyak mahasiswa internasional di sini. Bisa jadi karena ada dua universitas besar, Nottingham University dan Notting...

Selamat Datang di Nottingham

Transit sekitar 30 menit di stasiun Sheffield dan harus berganti kereta, saya terkejut ketika tiba-tiba sampai di stasiun Nottingham. Perjalanan dua jam berasa cepat karena saya isi dengan tidur, sebentar-sebentar membaca jurnal dan menulis. Ah, Nottingham. Seseru apa kota ini, ya? Yang pasti, salah satu tujuan terpenting mampir di kota ini adalah mengunjungi Nottingham University.

University of Nottingham, Here I Am

Dulu saya girang banget ketika mendapat surat dari seorang profesor dari Unversitas Nottingham yang mengabarkan dia bersedia menjadi supervisor riset saya. Saya tidak tahu bahwa surat itu hanyalah tahap awal dari perburuan sebuah universitas di luar negeri yang sebenarnya tidak begitu sederhana. Saya masih harus mendaftar secara resmi ke bagian penerimaan. Lalu saya coba melamar. Tapi karena kriteria yang ditentukan kampus ini sangat tinggi, seperti misalnya nilai IELTS harus minimal 7, saya tidak bisa memenuhi syarat tersebut. Rada kecewa waktu itu. Padahal saya sudah menghayal tingkat tinggi untuk bisa tinggal dan menuntut ilmu di kota Nottingham. Sekarang, alhamdulillah . Meskipun cuma sekedar pengunjung, tercapai juga keinginan saya untuk bisa menjejakkan kaki di salah satu kampus terbaik di dunia ini.

Huddersfield University

Di kampus ini, Huddersfield University, sahabat saya Ernita bersekolah. Kampusnya tepat di tengah kota, sangat dekat ke berbagai amenities. Ada sebuah kanal yang membelah lokasi kampus, yang jika sedang kalut oleh jurnal-jurnal yang harus dibaca, bisa langsung nyemplung.

Open Market dan Charity Shop

Meskipun di Perth banyak juga toko-toko charity yang menjual barang-barang bekas, tapi saya belum pernah menjajal untuk melihat dan berbelanja di sana. Di Huddersfield, sahabat saya Ernita mengajak saya untuk melihat-lihat koleksi barang-barang di toko-toko amal ini. Jumlah tokonya lumayan banyak. Dengan kualitas yang masih lumayan bagus, barang-barang dijual dengan sangat murah. Misalnya, sebuah kaca mata hitam yang saya jamin baru, hanya dijual 4 pound. Lalu ada juga kaos-kaos yang dibandrol hanya dengan 2,9 pound. Di bagian lain kota, kebetulan hari itu Rabu, harinya Open Market di kota Huddersfield. Sebuah bangunan tanpa dinding dengan jajaran meja-meja, dipenuhi para pedagang barang bekas. Mulai dari koin antik sampai barang elektronik bekas. Ada yang dijual dengan harga pas, ada juga yang harus ditawar dulu. Banyak orang lokal berbelanja di sana. Untuk menambah seru perjalanan, saya ikut berbelanja di sana.

National Railway Museum, York

Hari pertama di Huddersfield, bukan kota ini yang saya jelajahi. Ernita dan satu sahabat baru saya, Delfia, mengajak saya mengunjungi National Railway Museum di York, sebuah kota bagian utara kota Huddersfield dan Leeds. Museum ini sangat menarik. Berisi gerbong-gerbong kereta tua dan segala pernik yang berhubungan dengan perkeretaapian Inggris dan lintas Eropa. Dikemas sangat unik, edukatif, dan menghibur untuk segala usia. Termasuk suvenir-suvenir yang dijual, sangat berhubungan dengan kereta api dan khas karena hanya dijual di tempat ini.

Menjajal Tram di Manchester

Satu hal yang menarik dan ingin saya coba di Manchester, naik tram . Tram ini, begitu masuk stasiun dan menaiki jalur rail, berubah jadi kereta. Dulu di Jakarta, bekas peninggalan Belanda ada tram . Tapi dengan alasan kuno, maka ditinggalkan. Pemerintah waktu itu terbuai dengan pesona angkot yang diproduksi jutaan oleh PT. Astra.

Disambut Gerimis di Manchester

Langit sangat mendung begitu saya turun bis tiba di Manchester. Angin kencang, tak begitu lama gerimis turun. Marvin, sahabat saya yang kuliah di Manchester University, menjemput dan membantu saya mencari hostel yang sudah saya pesan. Syukurnya, letak hostel tak begitu jauh dari stasiun bis. Berada di pusat kota, menempati lantai dua sebuah gedung pertokoan. Setelah check in, meletakkan tas, kami berangkat lagi untuk memanfaatkan waktu berkeliling kota. Tak banyak cita-cita ingin melihat apa saja yang saya miliki di Manchester ini. Jadi kami asal jalan, berfoto-foto, makan. Gedung-gedung tua berdampingan dengan gedung modern. Orang-orang bertampang Pakistan dan India berbaur dengan orang-orang oriental dan Caucasian.

Bertemu Dua Sahabat di Manchester

Untuk bisa mendapat nilai IELTS bagus supaya bisa lolos masuk universitas di luar negeri, saya merasa perlu mengikuti sebuah kelas persiapan bahasa Inggris di IALF , Jakarta, tahun lalu. Maklum kemampuan bahasa Inggris saya sangat terbatas. Dengan hasil tes IELTS itu, hampir sebagian besar peserta di kelas saya, telah melanglang buana. Dua diantaranya saya temui di Manchester, Marvin yang kuliah di Universitas Manchester dan Theresa yang kuliah di Universitas Lancaster. Serasa mimpi bisa mengunjungi mereka.

London Pride Parade

Tak tahu pasti kemana harus berjalan di antara banyak pesona London, saya hanya terus berjalan dan terus berjalan. Sampai tiba di kawasan Circus Picaddily, beberapa petugas membuat blokade jalan. Seorang petugas memberi alasamn: "Here will be a Pride Parade". Tiba-tbia saja ribuan orang berjejal rapi di sepanjang jalan yang katanya akan dilewati oleh Pride Parade, sebuah parade kaum gay dan lesbian kota London. Hampir dua jam penuh arak-arakan di bawah matahari terik mengusung beragam topik khas kelompok ini. Misalnya, tuntutan kaum lesbian yang menginginkan pensyahan operasi kelamin. Musik-musik disco seperti lagu-lagunya Lady Gaga berkumandang hingar bingar membuat para penonton ikut berjingkrak. Saya? Ikutan, dong.

Deptford, London

Saya terus berusaha berpikiran positif menjejakkan kaki di distrik Deptford, ketika begitu banyak warga kulit hitam di sepanjang Deptford High Street. Saya membayangkan sedang berada di sebuah sudut kota di sebuah negara di Afrika. Beberapa dari mereka mengawasi saya. Saya terus berjalan sambil bingung harus kemana berjalan. Seorang anak sekolah berambut kepang kecil seolah siap membantu persoalan yang sedang saya hadapi. "Do you know where is Deptford Church Street?" Omongannya tidak jelas, saya terus bertanya. Seorang pria hitam lainnya yang lewat menunjuk sebuah bangunan gereja tak jauh dari tempat kami berdiri. "No. It's not a church what I'm looking for. I'm looking for Deptford Church Street." Orang itu sambil terus berjalan, bilang: "It's High Street." Anak sekolah tadi lari-lari mengejar ibunya meninggalkan saya yang masih kebingungan. Saya terus berjalan. High Stree...

25 Pound dari London ke Manchester

Tiga puluh menit pertama, saya menyesal telah memilih bis setelah mengalami ketidaknyamanan. Biasanya saya akan mulai serasa mau muntah. Kecuali jika saya buru-buru tidur dengan merebahkan kepala. Untung bis sedikit penumpang dan di sebelah saya kosong hingga saya bisa meringkuk tidur. Setelah mulai terbiasa, saya berani bangun dan mengisi waktu dengan menulis. Langit mendung sepanjang jalan dari London ke Manchester. Pemadangan yang tersaji hanya hamparan padang rumput, perkebunan dan sesekali rumah-rumah tua pedesaan. Harga tiket yang 27 pound sebetulnya sangat mahal. Tapi saya tak punya pilihan. Mungkin jika saya membeli lewat internet beberapa hari lalu, harga tak akan semahal itu. Seorang mahasiswa asal Mesir yang saya tanya, dia hanya membayar 12 pound bolak-balik dari Manchester-London-Manchester.

London Underground

Jalur kereta api di Inggris sangat jelas dibangun dengan sangat serius. Dari satu distrik ke distrik lain, dari satu stasiun ke stasiun lain semua terkoneksi dengan sangat rapi. Negara betul-betul memudahkan warganya untuk melakukan perjalanan. Dengan begitu semua bagian kota dan negeri bisa bergerak leluasa, membangun dan bekerja lebih giat. Tak ada alasan untuk berdiam diri saja. Ketika hari Sabtu tiba kembali ke London, saya menemukan arah ke hostel dengan mudahnya setelah banyak bertanya tentunya. Begitu juga ketika hari Minggu. Saya menemukan kerumunan yang luar biasa padat di jalur-jalur tertentu. Lorong-lorong underground seperti labirin tikus yang penuh jebakan. Bahkan orang-orang London sendiri masih perlu memegang peta untuk bisa selamat tiba di tujuan. Jalur utara, selatan, pusat, platform 1 sambapi belasan... Riweuh pisan. Hari Minggu, ketika sejumlah jalur ditutup untuk efisiensi, masalah baru muncul. Saya yang sudah mulai hapal de...

Bird's Nest

Betul-betul seperti sarang burung. Dekil di luar, tapi lumayan nyaman di kamar. Tapi di luar kamar, seperti misalnya common room, amburadul. Sepertinya hostel ini sudah lama tak diurus, lalu belakangan saja dirapikan lagi dan dicat ulang. Begitu saya tiba, saya mencari meja resepsionis. Tak ada. Hanya sebuah bar yang ramai pengunjung dan hingar bingar dengan musik. Seorang bartender membantu saya dengan menghubungi seseorang pengelola hostel. Lima belas menit menunggu, orang itu muncul. Dia menjelaskan hal-hal yang perlu saya ketahui sambil menggiring saya menuju kamar dan memberikan tur singkat ke penjuru hostel. Kamar yang saya tempati berbentuk hurup L, tepat di atas bar yang ketika malam tiba, suara orang berpesta dan musik hidup mengglegar memekakkan telinga. Ditambah lagi, karena pinggir jalan raya, suara gaduh lalu lintas juga mengurangi kenyamanan. Tapi beginilah hotel murah. Saya cukup membayar 12 pound per malam. Ada dua tempat tidur su...

London

Tiba di London, langit mendung. Kepadatan lalu lintas segera menghadang, di setiap lampu merah. Jalan raya ternyata sesempit di kota-kota yang sudah saya lalui. Turun dari bis di stasiun Victoria, saya lalu berkemas ke stasiun kereta Victoria underground yang jaraknya sekitar 100 meter. Besar sekali stasiun ini. Harus benar-benar terbiasa dengan kondisinya, jika tidak, bisa tersesat. Saya harus bertanya berkali-kali untuk bisa memilih kereta yang tepat menuju hostel.

Bristol

Saya memang tak merencanakan untuk berkeliling kota Bristol. Kebetulan turun dari stasiun kereta, saya perlu berjalan kaki sekitar 500 meter ke stasiun bis, punya kesempatan melihat kota ini sepanjang jarak itu saja. Bangunan stasiunnya antik dengan sejumlah fasilitas modern. Bangunan antik lainnya banyak ditemui menuju arah stasiun bis. Pertokoan, pasar, pedagang kaki lima, dan turis.

Stones Hence

Day 2. Around Oxford

Akhirnya saya punya travel mate yang bisa saya mintai tolong untuk memotret. Meskipun tak banyak dan tidak sejak 2 hari yang lalu, masih beruntung dari pada tidak berfoto sama sekali. Maka setelah selesai konferensi, saya dan seorang sahabat dari Jakarta langsung mengeksplor bagian kota yang belum kami kunjungi.