Betul-betul seperti sarang burung. Dekil di luar, tapi lumayan nyaman di kamar. Tapi di luar kamar, seperti misalnya common room, amburadul. Sepertinya hostel ini sudah lama tak diurus, lalu belakangan saja dirapikan lagi dan dicat ulang.
Begitu saya tiba, saya mencari meja resepsionis. Tak ada. Hanya sebuah bar yang ramai pengunjung dan hingar bingar dengan musik. Seorang bartender membantu saya dengan menghubungi seseorang pengelola hostel. Lima belas menit menunggu, orang itu muncul. Dia menjelaskan hal-hal yang perlu saya ketahui sambil menggiring saya menuju kamar dan memberikan tur singkat ke penjuru hostel.
Kamar yang saya tempati berbentuk hurup L, tepat di atas bar yang ketika malam tiba, suara orang berpesta dan musik hidup mengglegar memekakkan telinga. Ditambah lagi, karena pinggir jalan raya, suara gaduh lalu lintas juga mengurangi kenyamanan. Tapi beginilah hotel murah. Saya cukup membayar 12 pound per malam.
Ada dua tempat tidur susun dengan tiga tamu lain yang sudah datang lebih dulu. Satu di antaranya perempuan. Seorang dari mereka datang dari Jerman, hanya untuk membeli iPhone 4 yang ternyata juga tak berhasil dia dapat.
Satu kelebihan hostel ini karena menyediakan wifi gratis sehingga bisa mengurangi kebosanan. Tapi, harus bisa memilih waktu yang tepat untuk bisa mendapat koneksi yang bagus.
Comments