Skip to main content

Bird's Nest


































Betul-betul seperti sarang burung. Dekil di luar, tapi lumayan nyaman di kamar. Tapi di luar kamar, seperti misalnya common room, amburadul. Sepertinya hostel ini sudah lama tak diurus, lalu belakangan saja dirapikan lagi dan dicat ulang.

Begitu saya tiba, saya mencari meja resepsionis. Tak ada. Hanya sebuah bar yang ramai pengunjung dan hingar bingar dengan musik. Seorang bartender membantu saya dengan menghubungi seseorang pengelola hostel. Lima belas menit menunggu, orang itu muncul. Dia menjelaskan hal-hal yang perlu saya ketahui sambil menggiring saya menuju kamar dan memberikan tur singkat ke penjuru hostel.

Kamar yang saya tempati berbentuk hurup L, tepat di atas bar yang ketika malam tiba, suara orang berpesta dan musik hidup mengglegar memekakkan telinga. Ditambah lagi, karena pinggir jalan raya, suara gaduh lalu lintas juga mengurangi kenyamanan. Tapi beginilah hotel murah. Saya cukup membayar 12 pound per malam.

Ada dua tempat tidur susun dengan tiga tamu lain yang sudah datang lebih dulu. Satu di antaranya perempuan. Seorang dari mereka datang dari Jerman, hanya untuk membeli iPhone 4 yang ternyata juga tak berhasil dia dapat.

Satu kelebihan hostel ini karena menyediakan wifi gratis sehingga bisa mengurangi kebosanan. Tapi, harus bisa memilih waktu yang tepat untuk bisa mendapat koneksi yang bagus.

Comments

Popular posts from this blog

Billboard Udud

Pemprov DKI serius untuk menelikung para perokok aktif. Setelah mengeluarkan larangan merokok di beberapa kawasan, disusul dengan larangan beriklan bagi produsen rokok di jalan-jalan protokol. Mestinya, mulai Maret lalu, billboard iklan rokok yang semarak di sepanjang Sudirman, Gatot Subroto, dll itu tak sudah tak boleh lagi terpasang. Namun, pengecualian bagi pemasang iklan yang masa tayangnya belum habis, ditunggu hingga akhir masa kontrak. Sesederhana itukah? Seperti bisa ditebak, larangan-larangan apa pun yang diberlakukan pasti selalu diikuti sebuah koalisi kolusi. Tak ada hukuman bagi pengiklan iklan yang masih memasang billboardnya di sana walaupun tenggang waktu sudah terlewat. Yang terjadi adalah, adanya perpanjangan kontrak sebelum tenggang waktu itu habis. Sehingga iklan-iklan rokok itu akan terus terpasang selama masa kontrak yang diperpanjang. Jika perlu, kontrak untuk jangka waktu hingga masa kepemimpinan Sutiyoso berakhir. Sambil berharap, pemerintah provinsi yang baru a...

Payudara di Televisi Kita

Stasiun televisi kita, makin sering menampilkan program tv dengan bumbu payudara. Mungkin untuk menarik minat penonton. Semakin banyak penonton yang menyaksikan tayangan-tayangan mereka, rating acara akan membumbung, dan pengiklan datang. Namanya kompetisi, ya, bo. Tengok saja panggung dangdut, panggung penari, peragaan busana, hingga seserahan sambutan pun tak luput dari sajian payudara. Beberapa siaran langsung, lainnya siaran tunda. Katakan, 'munculnya' payudara di acara tersebut adalah sebuah insiden. Sangat maklum jika kejadian tersebut terjadi pada siaran langsung. Namun jika tayangan itu bukan langsung dan masih juga kecolongan? Please, deh. Jika peristiwa-peristiwa itu memang tak dikehendaki bersama, demi amannya, apa sebaiknya pihak stasiun membuat rambu-rambu khusus perihal busana seperti apa saja yang boleh digunakan oleh siapapun yang akan disorot kamera? Tentunya tanpa harus memasung demokrasi berekpresi.

Kuatir Kolesterol

Gara-gara makan daging giling yg saya buat camilan untuk dinner, tahu-tahu saya berasa pening. Leher bagian belakang cenut-cenut. Saya minum, lalu berhenti sebentar. Agak mendingan. Untuk memastikan itu disebabkan karena saya makan daging, saya kembali santap makanan ringan yang saya buat itu. Lagi, pening dan cenut-cenut. Langsung saya stop. Jangan-jangan kolesterol? Saya langsung mencari informasi apabila seseorang memiliki kolesterol tinggi. Kuatir dampaknya: stroke dan jantung. Menurut artikel yang saya baca, gejala yang saya alami menunjukkan tanda-tanda kelebihan kolesterol. Ngek ngok. Meskipun saya sudah sangat hati-hati menjaga makanan. Apalagi, saya sangat kurang berolah raga. Pekerjaan saya jalan kaki dari pagi sampai sore tiga hari seminggu, tapi apa itu cukup?  Saya harus mulai memperhatikan makanan yang saya santap supaya kesehatan saya tetap prima secara usia sudah tak lagi muda. Iya kalo pendek umur, bagaimana jika panjang umur tapi sakit-sakitan?