Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Photo Journal

Bata Kasut

Ibu hanya menjatah sepatu untuk saya dan saudara-saudara saya setahun sepasang. Biasanya kami akan dibelikan pas menjelang lebaran. Sepatu baru ini pasti dipakai saat lebaran, untuk berkunjung ke sanak famili. Libur lebaran yang biasanya satu bulan, kembali ke sekolah dengan sepatu kinclong ini. Saya akan sangat senang. Semua teman-teman pun menggunakan sepatu baru. Tapi hanya saya yang biasanya pakai Bata, merek terkenal dari toko terkenal di kota. Di kota kecil seperti Bogor, banyak toko sepatu bagus di sepanjang Jalan Merdeka atau Surya Kencana. Tapi Ibu selalu mengajak kami ke toko sepatu Bata. Entah yang di jalan Merdeka, maupun di Mayor Oking dekat Pasar Anyar. Tak semua model sepatu Bata memiliki kekuatan yang sama. Ada yang cepat rusak, ada yang memang kuat. Padahal, satu sepatu untuk banyak fungsi. Sekolah iya, tamasya iya, olah raga iya. Saya mengerti keadaan keluarga, jadinya tak mungkin membangkitkan keinginan untuk memiliki sepatu sebanyak jenis kegia...

Naga Konak

[Foto diambil di Jalan Surya Kencana, Bogor, tanggalan cap go meh: 4 Maret 2007]

Rental Bayi

Teman dari temannya sahabat saya punya kisah. Anak balitanya ia titipkan pada seorang pembantu di rumah sementara ia dan suaminya bekerja. Setiap kali pulang malang, ia mendapati anaknya tidur pulas. Ah, anaknya mungkin lelah bermain. Suatu ketika ia curiga melihat perkembangan bayinya yang semakin hari semakin kurus. Kuatir akan keadaan anak semata wayangnya itu, si bayi dibawa ke rumah sakit. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa bayi itu over dosis obat tidur. Selidik punya selidik, ternyata pembantu yang biasanya menjagai bayi itu, hampir setiap hari 'meminjamkan' bayinya kepada pacarnya. Pacarnya ini menyewakan bayi malang itu kepada para pengemis. Sebelum cerita ini saya dengar, saya sudah sering mendengar sindikat pengemis yang sewa menyewa bayi untuk jadi tameng sendu agar orang kasihan dan berharap memberikan sejumlah uang. Selama ini kegiatan sewa menyewa bayi belum dianggap kriminal. Karenanya pihak kepolisi an tidak punya kasus untuk menindak para pelaku. J...

Don't Suck Me! Geli...

[Foto diambil di sebuah vihara di Tangerang, Banten, tanggalan cap go meh: 4 Maret 2007]

Save the Prayes

[Foto diambil di sebuah vihara di Tangerang, tanggalan cap go meh: 4 Maret 2007]

Where's the Witch, Lil' Bitch?

[Foto diambil di sebuah vihara di Tangerang, Banten, tanggalan cap go meh: 4 Maret 2007]

B.A.L.A.D.A

Pada suatu masa, dalam sebuah pertemanan, cinta bisa datang tiba-tiba. Tanpa bisa kita larang, tanpa bisa kita undang. Karena cinta adalah anugrah, mengapa tak kita nikmati saja. Dari sana kita bisa belajar bagaimana tulus mencintai. Karena mecintai adalah karunia. Dari sana kita bisa berlatih diicinta. Karena dicintai adalah fitrah. [Foto diambil di sekitar Tangerang, Banten: 4 Maret 2007]

Muka Saya Gosong

Pulang dari trekking Ujung Kulon beberapa waktu lalu, wajah saya gosong hangus hitam kisut tak bercahaya. Saya sangat risau. Siapa kira wajah bersih sehat hanya untuk kaum hawa saja? Meskipun saya bukan public figure , tapi saya kan bukan operator telepon yang bekerja di belakang box telepon. Setiap saat saya bisa meeting dan bertemu siapa saja dari berbagai kalangan. Padahal saya sudah mengolesi wajah dengan sunblock setebal-tebalnya. Saya sudah pula menggunakan topi selebar-lebarnya. Namun kutukan matahari membekas tak bisa dihindari. Saya membuka lemari es. Biasanya adik perempuan saya menyimpan rupa-rupa krem pemutih. Tahunya tak ada. Yang saya temukan hanya sebotol air sirih pewangi wilayah pribadi wanita. Saya jadi ingat dulu pernah tak berdaya mengahadapi sahabat yang berjualan produk NuSkin pemutih kulit wajah. Tube-nya berwarna putih. Penah saya pakai sekali dua kali. Tapi selanjutnya malas. Saya juga tak terlalu bekepentingan memilikiw wajah putih bercahaya seperti si...

Be Me or Somebody Else

Tinggal di Jakarta dengan berbagai profesi, membuat saya kadang sulit untuk menjadi diri sendiri sepenuhnya. Berusaha wajar, namun adakalanya lingkungan menuntut saya berlaku tidak begitu. Lelah berperilaku serba diatur, saat yang paling ditunggu adalah ketika week end tiba. Apalagi jika kemudian saya berkesempatan untuk melakukan trip ke luar kota. Saya bisa sangat menjadi diri sendiri atau radically, i change myself to be somebody else! That's so fun. Beberapa kali saya mencat pirang rambut ketika saya keluar kota, hal yang jika saya lakukan di Jakarta akan sangat membatasi gerak. Saya bisa tidur selonjoran di lorong subway sambil menikmati aroma musim dingin, berbikini mini di sepanjang boulevard sebuah kota pantai, menginap di kamar losmen penuh kecoa atau sekedar berbusana aneh penuh aksesoris a la mardi grass hingga mengunjungi bar-bar murah yang penuh dengan penari streaptease telanjang bahkan go go boy dancers. Saat-saat seperti itu, saya bisa berekspresi sebebas...

I've Got Friends

Saya mencoba mengurai terjalinnya network pertemanan saya dengan sejumlah komunitas. Milis tanpa komunitas atau komunitas tanpa milis, sangat sulit dipisahkan. Saya memilih beberapa keywords untuk topik ini: photography, internet, out door activity , dan community . Maret 2003, saya bergabung dengan sekolah foto milik Darwis Triadi di Raden Saleh. Dari sana milis pertama saya ikuti. Dengan teman-teman sehobi, saya sering mencari lokasi untuk photo session . Mulai dari model, human interest, hingga landscape. Baik sekitar Jakarta maupun ke luar Jakarta. Sahabat saya bertambah banyak. Tak lama, komunitas Sahabat Museum berdiri. Karena pendirinya juga adalah siswa Darwis, hampir dipastikan mayoritas dari kami gabung juga di sana. Sebulan sekali kami keliling Kota memotret apa saja yang menarik perhatian. Sahabat saya kian bertambah banyak. Lalu saya mengendus ada milis bernama Indonikon. Saya gabung di sana. Selain ramai berdiskusi tentang fotografi di dunia maya, kami juga sering mela...

Anti Mooo

Saya pemabok! Akut malah. Haha. Bukan mabok minuman keras, tapi mabuk darat dan laut. Untunglah ada Antimo yang selalu mengantarkan saya ke tempat tujuan dengan selamat. Seringnya, saya tak mau perduli dengan pemandangan selama perjalanan. Begitu saya duduk di kapal atau bis, saya akan terkapar tidur. Hal tesebut saya lakukan karena saya menyadari kekurangan saya: gampang mabok! Sejak kecil, Bapak sering mengajak saya bepergian. Meskipun setiap kali saya muntah, Bapak tak pernah kapok mengajak. Berikutnya untunglah, Ibu sering membekali saya dengan Antimo. Antimo sedemikian menancap dalam ingatan dan pengalaman. Hingga saat ini, saya ragu apakah ada produk obat anti mabok selain Antimo? Dengan teman-teman kecil dulu, saya suka bermain tepuk silang tangan sambil bernyanyi jingle iklan Antimo: Antimo obat anti mabok Mabok darat lautan udara Minumlah Sebelum Bepergian Antimo, menyegarkan perjalanan Anda Belakangan di televisi, Antimo beriklan meskipun tanpa iklan, Antimo tetap melaju tanp...

Saya Mengoleksi Pasir Pantai dari Penjuru Dunia

Jika ditanya mana yang lebih saya sukai: laut, pegunungan, atau city scape ? Terus terang, saya tak bisa menjawab dengan lantang. Saya menyukai semuanya. Saya akan senang tersesat di belantara New York, sama senangnya ketika jumpalitan menyelamatkan diri di hutan seram Kilimanjaro. Saya akan menikmati hangat matahari di atas Nias, senikmat matahari Maldives yang membakar kulit. Namun laut selalu membuat saya larut. Saya suka menyelam di kedalaman atau mengambang di atas gelombang. Satu hal yang paling menyenangkan adalah saya mengoleksi pasir pantai dari segala penjuru dunia! Pasir pertama yang saya koleksi adalah pasir kemiri pantai Kuta, Lombok Selatan sekitar tahun 1998. Saya tak berhenti berdecak kagum. Sempat terpikir bagaimana pasir ini bisa terbentuk? Saya masukkan pasir itu dalam toples. Karena trip saya lanjutkan ke Bali, saya punya kesempatan untuk kembali mendapatkan pasir dari sejumlah pantai: Kuta dan Sanur. Rupanya, pasir Sanur dan Kuta Lombok memiliki kesamaan. Seorang s...

Jungle Trek - Ujung Kulon, 23 - 25 Februari 2007

Saya memang sedang ingin melihat alam bebas. Saya rindu berada di petualangan. Lalu ketika sebuah pengumuman Jungle Trek ke Ujung Kulon mampir di buletin kalendar blog, saya langsung daftar tanpa pikir panjang. Dalam hati, semoga jadual pekerjaan bisa menyesuaikan dengan jadual piknik saya. Selang sehari, Yeyen, sahabat saya menelpon. Yeah, tambah bulat saja saya gabung dengan rombongan yang konon akan berjumlah 80 orang itu. Cuaca Jakarta akhir-akhir ini memang sangat tidak brsahabat. Bencana alam dari penjuru daerah di negeri kita pun tak kunjung berakhir sambung menyambung. Beberapa sahabat mengingatkan agar saya berpikir ulang. Saya menghargai nasehat mereka. Tapi sesuatu yang meletup-letup dalam dada begitu sukar dikendalikan. Saya hanya berdoa, semoga perjalanan ke Ujung Kulon tak menuai bencana. Setahun kemarin, saya memang lumayan banyak melakukan perjalanan ke luar kota. Namun melulu berhubungan dengan pekerjaan, seperti mengunjungi Aceh yang saya lakukan sampai empat kali. D...

One Fine Day: Jalan Pintu Air Besar

Pedestrian yang baru selesai dibuat di sepanjang jalan Pintu Air Besar. Tinggal bagian-bagian kecil saja yang sedang dibenahi.

One Fine Day, Have a Nice Day

Langit biru di atas Senayan City. Jarang sekali Jakarta memiliki langit yang biru bersih. Folo lainnya adalah pedestrian di jalan Asia Afrika menuju Sudirman.

One Fine Day: Good Morning, Jakarta

Udara Jakarta beberapa hri ini terkesan bersih. Matahari pagi dengan leluasa melumuri kota. Selamat pagi, Jakarta.

Fireworks in Progress

Menjelang malam pergantian tahun, pesta kota sudah mulai disiapkan. Sebuah ruas jalan di tengah pusat bisnis Makati diblokir untuk dipasangi kembang api ukuran besar-besar. Sayang, saya sudah harus berangkat ke Kuala Lumpur.

Basilica Ng Nazareno

Letaknya yang sangat strategis menjadikan gereja ini menjadi pusat religi yang ramai dikunjungi. Orang mau bekerja, orang mau ke pasar, masih sempat mampir. Apalagi menjelang tahun baru biasanya banyak prosesi keagamaan yang diselenggarakan di sana. Di depan gereja, selain para penjaja bunga dan lilin, juga banyak para peramal menawarkan jasa.

Malate in the Morning

Malate terasa sangat menggairahkan jika matahari hari sudah tinggi hingga tengah malam bahkan pagi. Hotel berbintang lima hingga penginapan kelas dorm. Restoran, pub, karaoke, panti pijat... Ini kawasan turis, juga kawasan para penduduk lokal bertemu agen tenaga kerja untuk tujuan luar negeri.

Manila Trip: Mabuhay

Salah seorang sahabat saya bilang, Manila seperti Jakarta saja. Seorang sahabat lain bilang, Manila seperti Bekasi. Oh, Lord. Saya berdoa semoga mereka salah semua.Tapi kemacetan di dalam kota betul-betul saya nyaris percaya.