Skip to main content

Muka Saya Gosong

Pulang dari trekking Ujung Kulon beberapa waktu lalu, wajah saya gosong hangus hitam kisut tak bercahaya. Saya sangat risau. Siapa kira wajah bersih sehat hanya untuk kaum hawa saja? Meskipun saya bukan public figure, tapi saya kan bukan operator telepon yang bekerja di belakang box telepon. Setiap saat saya bisa meeting dan bertemu siapa saja dari berbagai kalangan.

Padahal saya sudah mengolesi wajah dengan sunblock setebal-tebalnya. Saya sudah pula menggunakan topi selebar-lebarnya. Namun kutukan matahari membekas tak bisa dihindari.

Saya membuka lemari es. Biasanya adik perempuan saya menyimpan rupa-rupa krem pemutih. Tahunya tak ada. Yang saya temukan hanya sebotol air sirih pewangi wilayah pribadi wanita.

Saya jadi ingat dulu pernah tak berdaya mengahadapi sahabat yang berjualan produk NuSkin pemutih kulit wajah. Tube-nya berwarna putih. Penah saya pakai sekali dua kali. Tapi selanjutnya malas. Saya juga tak terlalu bekepentingan memilikiw wajah putih bercahaya seperti sinar mentari jam tujuh pagi. Saya coba cari di sela-sela tumpukan DVD. Tak saya temukan. Yang ada hanya salep penumbuh bulu.

Ibu saya pernah bilang. Flek hitam bisa disembuhkan dengan mengoleskan parutan buah mengkudu. Ketika saya lewat pasar tradisional keesokan harinya, saya membeli barang beberapa butir. Mengkudu tua yang sudah lembek saya benyek-benyek. Rasanya dingin dikulit, tapi baunya minta ampun. Cukup sekali saya pakai.

Setiap kali melihat cermin, saya seperti hilang harapan hidup. Ya, Gusti. Muka ini milik siapa, ya? Jelek sekali.

Comments

Popular posts from this blog

Billboard Udud

Pemprov DKI serius untuk menelikung para perokok aktif. Setelah mengeluarkan larangan merokok di beberapa kawasan, disusul dengan larangan beriklan bagi produsen rokok di jalan-jalan protokol. Mestinya, mulai Maret lalu, billboard iklan rokok yang semarak di sepanjang Sudirman, Gatot Subroto, dll itu tak sudah tak boleh lagi terpasang. Namun, pengecualian bagi pemasang iklan yang masa tayangnya belum habis, ditunggu hingga akhir masa kontrak. Sesederhana itukah? Seperti bisa ditebak, larangan-larangan apa pun yang diberlakukan pasti selalu diikuti sebuah koalisi kolusi. Tak ada hukuman bagi pengiklan iklan yang masih memasang billboardnya di sana walaupun tenggang waktu sudah terlewat. Yang terjadi adalah, adanya perpanjangan kontrak sebelum tenggang waktu itu habis. Sehingga iklan-iklan rokok itu akan terus terpasang selama masa kontrak yang diperpanjang. Jika perlu, kontrak untuk jangka waktu hingga masa kepemimpinan Sutiyoso berakhir. Sambil berharap, pemerintah provinsi yang baru a...

Payudara di Televisi Kita

Stasiun televisi kita, makin sering menampilkan program tv dengan bumbu payudara. Mungkin untuk menarik minat penonton. Semakin banyak penonton yang menyaksikan tayangan-tayangan mereka, rating acara akan membumbung, dan pengiklan datang. Namanya kompetisi, ya, bo. Tengok saja panggung dangdut, panggung penari, peragaan busana, hingga seserahan sambutan pun tak luput dari sajian payudara. Beberapa siaran langsung, lainnya siaran tunda. Katakan, 'munculnya' payudara di acara tersebut adalah sebuah insiden. Sangat maklum jika kejadian tersebut terjadi pada siaran langsung. Namun jika tayangan itu bukan langsung dan masih juga kecolongan? Please, deh. Jika peristiwa-peristiwa itu memang tak dikehendaki bersama, demi amannya, apa sebaiknya pihak stasiun membuat rambu-rambu khusus perihal busana seperti apa saja yang boleh digunakan oleh siapapun yang akan disorot kamera? Tentunya tanpa harus memasung demokrasi berekpresi.

Out of The Box

Saya sedang tidak berminat berpaguyuban. Saya ingin banyak meluangkan waktu sendiri. Melakukan banyak hal yang berbeda dari biasanya, menemukan komunitas baru, dan lain sebagainya. Pelan-pelan saya melepaskan ketergantungan dari riuhnya pertemanan yang hiruk pikuk: bergerombol di cafe, bergerombol di club, bergerombol di bioskop. Waktu seperti menguap tanpa kualitas. Belakangan, saya jadi punya banyak waktu untuk mengecilkan lingkar perut, banyak waktu untuk membaca buku, membiarkan diri saya melebur dengan komunitas dan teman-teman baru, dan yang lebih penting, saya bisa punya waktu untuk mengamati diri saya. Sekedar merubah pola.