Pulang dari trekking Ujung Kulon beberapa waktu lalu, wajah saya gosong hangus hitam kisut tak bercahaya. Saya sangat risau. Siapa kira wajah bersih sehat hanya untuk kaum hawa saja? Meskipun saya bukan public figure, tapi saya kan bukan operator telepon yang bekerja di belakang box telepon. Setiap saat saya bisa meeting dan bertemu siapa saja dari berbagai kalangan.
Padahal saya sudah mengolesi wajah dengan sunblock setebal-tebalnya. Saya sudah pula menggunakan topi selebar-lebarnya. Namun kutukan matahari membekas tak bisa dihindari.
Saya membuka lemari es. Biasanya adik perempuan saya menyimpan rupa-rupa krem pemutih. Tahunya tak ada. Yang saya temukan hanya sebotol air sirih pewangi wilayah pribadi wanita.
Saya jadi ingat dulu pernah tak berdaya mengahadapi sahabat yang berjualan produk NuSkin pemutih kulit wajah. Tube-nya berwarna putih. Penah saya pakai sekali dua kali. Tapi selanjutnya malas. Saya juga tak terlalu bekepentingan memilikiw wajah putih bercahaya seperti sinar mentari jam tujuh pagi. Saya coba cari di sela-sela tumpukan DVD. Tak saya temukan. Yang ada hanya salep penumbuh bulu.
Ibu saya pernah bilang. Flek hitam bisa disembuhkan dengan mengoleskan parutan buah mengkudu. Ketika saya lewat pasar tradisional keesokan harinya, saya membeli barang beberapa butir. Mengkudu tua yang sudah lembek saya benyek-benyek. Rasanya dingin dikulit, tapi baunya minta ampun. Cukup sekali saya pakai.
Setiap kali melihat cermin, saya seperti hilang harapan hidup. Ya, Gusti. Muka ini milik siapa, ya? Jelek sekali.
Padahal saya sudah mengolesi wajah dengan sunblock setebal-tebalnya. Saya sudah pula menggunakan topi selebar-lebarnya. Namun kutukan matahari membekas tak bisa dihindari.
Saya membuka lemari es. Biasanya adik perempuan saya menyimpan rupa-rupa krem pemutih. Tahunya tak ada. Yang saya temukan hanya sebotol air sirih pewangi wilayah pribadi wanita.
Saya jadi ingat dulu pernah tak berdaya mengahadapi sahabat yang berjualan produk NuSkin pemutih kulit wajah. Tube-nya berwarna putih. Penah saya pakai sekali dua kali. Tapi selanjutnya malas. Saya juga tak terlalu bekepentingan memilikiw wajah putih bercahaya seperti sinar mentari jam tujuh pagi. Saya coba cari di sela-sela tumpukan DVD. Tak saya temukan. Yang ada hanya salep penumbuh bulu.
Ibu saya pernah bilang. Flek hitam bisa disembuhkan dengan mengoleskan parutan buah mengkudu. Ketika saya lewat pasar tradisional keesokan harinya, saya membeli barang beberapa butir. Mengkudu tua yang sudah lembek saya benyek-benyek. Rasanya dingin dikulit, tapi baunya minta ampun. Cukup sekali saya pakai.
Setiap kali melihat cermin, saya seperti hilang harapan hidup. Ya, Gusti. Muka ini milik siapa, ya? Jelek sekali.
Comments