Skip to main content

Posts

Showing posts with the label DreamSign

Mimpi Jokowi

Saya sedang berada di istana negara. Jokowi menghampiri. Kami sedang membahas berbagai topik untuk bahan pidato beliau. Seorang sahabat saya, sibuk mendokumentasikan kegiatan kami. Lalu saya terbangun.

Satu Presiden dan Mantan Bertamu ke Rumah Saya

Saya di rumah Bogor. Tetiba ada rombongan Pak Jokowi dan istri datang ke rumah saya. Tak begitu lama, rombongan Pak SBY dan istri datang juga. Sementara tamu yang lain sibuk dengan orang tua saya, Bu Ani menghampiri saya. Beliau berbicara panjang lebar. Hal yang menarik perhatian saya adalah wajah beliau merah-merah seperti pupur yang menutupi seluruh wajahnya.  #mimpitadimalam #semogalekassembuhbuani Ketika bangun, saya berdoa semoga ada sesuatu yang menggembirakan datang di hari ini dan esok hari. Sore harinya, saya mendapat surat pengangkatan saya untuk posisi baru. 

Saya Meninggal

Mimpi. Saya sedang berada di antara mahasiswa-mahasiswa dalam sebuah ruangan. Bukan kelas. Sepertinya kantor. Mereka sedang sibuk beres-beres. Saya berdiri, berjalan, tiba-tiba terjatuh. Sepertinya pinsan. Saya mencoba membuka mata, yang saya lihat adalah kegelapan. Lalu sebuah sensasi yang saya rasakan ketika saya tertarik masuk ke sebuah lorong kosong dengan garis-garis cahaya yang tak jelas. Lalu saya menyadari mahahasiswa-mahasiswa yang tak saya kenali satu per satu itu berhimpun mengelilingi saya, membaca doa. Saya tak berhenti bershahadat. Saya masih terbujur. Kaku. Meninggal.  Astagfirullah. 

Mimpi: Kucing Liar

Saya turun dari sebuah angkot. Di pertigaan, di suatu tempat yang asing bagi saya. Namun lambat laun, tempat itu seperti pertigaan menuju rumah orang tua saya di Bogor. Ketika saya turun, saya menemukan sejumlah kucing, berukuran lebih besar dari kucing rumahan biasa. Kucing liar, dengan mata mereka yang terus mengawasi.  Saya tak sendiri. Banyak orang di sana. Dan kucing itu juga ternyata banyak. Saya menyadari sebagai orang asing. Tapi saya pernah mendengar, dalam situasi seperti itu, saya jangan panik.  Saya berjalan menuju sebuah bangunan dengan teras yang keempat sisinya tertutup tembok tanpa pintu. Saya duduk pada sebuah kursi panjang, menunggu angkot lain yang bisa mengantar saya ke tujuan.  Suasananya seperti hari-hari yang sering saya lalui saat saya masih SMP. Teras itu adalah ruang tunggu praktik dokter. Ada dua perempuan di teras itu. Seorang ibu, dan seorang putri.  Seekor kucing berukuran besar menghampiri. Dia mengendus-endus tangan saya. ...

Tentang Tiga Bayi

Saya sedang menunggu sebuah pengumuman penting. Pengumuman itu seharusnya ada di pertenghan Mei lalu. Namun, ternyata belum juga keluar. Maka, saya selaku berharap ada prtanda-pertanda baik yang mengarah ke sana. Lalu malam ini, saya bermimpi. Saya mendapat hadiah, tiga orang bayi laki-laki yang lahir di tanggal yang sama. Ah, semoga pengumuman itu segera muncul dan nama saya ada di dalamnya. Aamiin.

Menggali Kuburan

Sedang berjalan. Melihat bangkai kucing yang sudah membengkak. Saya tak mencium bau apa pun. Lalu saya mencari tempat untuk mengubur bangkai tersebut. Setelah mencapai kedalaman tertentu, saya baru ngeh kalau yang saya gali itu sebuah kuburan. Di bawah kuburan itu, tanah yang saya gali itu, berdasar sebuah sungai atau kolam berair. Terbangun. Tengah malam. 

Red Ganesh

Saya bepergian dengan seorang pria, berkepala gajah, bertelanjang dada, berkulit merah seperti berlapis cat. Huph! Ketka bangun, saya langsung googling, penasaran sangat. Untunglah pertanda baik.

The Killer

Terbangun. Pagi itu, di sebuah rumah, saya berantem dengan sorang pria yang tak saya kenal. Saya menusukkan pisau ke perutnya. Dia meninggal. Bingung, harus bagaimana? Haruskah melapor polisi? Menelpon keluarga? Mutilasi? Terbayang bagaimana hidup saya setelah kejadian itu. Saya berharap itu cuma mimpi. Tapi ternyata bukan. Masih dalam keadaan bingung, saya bungkus mayat pria itu dengan kain, lalu saya masukkan dalam bath tub. Seharian bingung, saya isi dengan fokus pada kertas-kertas kerja. Sorenya, saya tersadar dengan peristiwa yang terjadi di pagi hari. Pembunuhan itu. Segera saya ke kamar mandi untuk melihat si mayat. Eh, mayat yang terbungkus kain itu bergerak-gerak. Ketika saya buka kainnya, dia masih hidup! Dia, tidak mati! Oalah senangnya.

Dipagut Ular

Sudah cukup lama tidak bermimpi apa-apa. Barusan terbangun. Saya sedang berjalan di sebuah gang. Sunyi. Tiba-tiba ular sebesar pergelangan tangan mematuk jari telunjuk kanan dan memagutnta kencang. Saya kibas-kibas, tak juga mau lepas. Sampai saya lemas. Innalillahi. Ada apakah?

Mimpi

Mimpi. Tentang Bapak. Tentang bisnis penggilingan. Mimpi lain. Tentang pinggir laut. Tentang ombak-ombak yang menjulang. Tentang ikan besar berwarna jingga yang mampir dan mint berfoto bersama.

Mendadak Jadi Guru Bahasa Perancis

Mimpi. Saya sedang ikut kursus bahasa Perancis di sebuah kelas. Guru yang biasa mengajar tidak hadir. Lalu oleh pengelola kursus, saya didaulat menjadi guru kelas hari itu. Tawaran langsung saya terima. Dan karena tiba-tiba, hebohlah saya menyiapkan segala sesuatunya. Untungnya, teman-teman pada maklum dan semua siap membantu. Oleh karena itu, saya terus pede melakoni jadi guru Bahasa Prancis.  Dalam mimpi, berbahasa Prancis-lah saya. 

Berparasut di Tol

Mimpi. Saya lagi dalam perjalanan Bogor-Jakarta lewat tol Jagorawi.Saya mengendari sebuah sedan, dan anggota keluarga saya lengkap di dalamnya. Jalanan padat. Lalu saya menyadari bahwa mobil saya berparasut. Dalam pikiran saya, mobil yang saya kendarai tak akan bergerak jika tanpa parasust. Aneh, ya.  Tiba-tiba, parasut tidak mengembang. Saya putuskan saya yang pegang parasut itu. Ini pun tidak bekerja dengan baik. bahkan parasut nyungsep ke pinggir tol. Tak lama saya mendengar suara benda berat terjatuh. Lewat kaca spion saya melihat ada pemotor yang tergeletak jatuh. Saya berpikiran sayalah yang menyebabkan motor dan pengendaranya jatuh. Lalu saya menepi.  Kaget luar biasa. Saya menunggu perkembangan. Bingung juga apa saya yang benar-benar telah menyebabkan motor itu jatuh? Sementara itu, saya berusaha menarik dan merapikan parasut. Sambil itu, saya melihat sebuah lubang besar menganga, semacam galian industri untuk pengeboran minyak. Saya tidak terlalu memperhatika...

Prata, Kari, ...

Mimpi. Saya dengan anak kedua saya berkunjung ke sebuah event. Entah event apa, tapi sepertinya yang berhubungan dengan India. Mungkin diphawali. Makanan-makanan khas India berlimpah. Ada cane, prata, kari... Tapi pengunjung sangat sepi. Dan saya seperti kalap mencicipi berbagai makanan yang tersedia. Rakus.

Kangen Kreatif

Terbangun dari mimpi. Berada di sebuah kantor perusahaan periklanan besar di Jakarta, dengan sejumlah orang dalam sebuah ruangan. Seseorang yang berperan sebagai bos, memilih saya untuk menjadi karyawannya. Senangnya bukan main. Lalu saya sempat berpikir, 'Bagaimana dengan pekerjaan saya di UNJ?'. Bekerja di sebuah agency besar ini terlalu menggoda.  Kangen suasana kreatif yang sehat. Tanpa kedengkian. Tanpa rambu-rambu kemunafikan. 

Dan Mata Air dan Pura Hindu

Mimpi. Saya sedang berdiri di depan rumah saya di Bogor ketika seorang perempuan muda turun dari sebuah angkot. Perempuan itu menghampiri saya dan menyerahkan sebuah surat yang bukan untuk saya, tapi untuk tetangga saya: dari kedutaan Malaysia. Lalu saya berkemas ke rumah tetangga saya. Dalam mimpi, tetangga saya itu mantan sopir di kantor kedutaan Malaysia. Tiba di rumah tetangga itu, orang yang cari tidak ada, dia sudah lama tinggal dan bekerja di Hong Kong. Tiba-tiba dari dalam rumah, keluar banyak sekali orang. Saya tidak tahu apa saja yang dilakukan oleh orang-orang itu di sana. Lalu saya pulang, tapi tidak ke rumah. Tak jauh dari rumah, Bapak saya punya sepetak tanah lain yang jaraknya kira-kira seratusan meter dari rumah. Saya berlari, lalu terbang. Begitu tiba, suasana sudah mulai gelap. Di antara pohon-pohon, saya melihat sekelompok pemuda sedang duduk berkerumun bermain kartu. Saya juga melihat uang-uang di tata rapi di dalam lingkaran mereka itu. Saya minta mereka ...

Orang Utan

Malam ini, saya mimpi jalan-jalan, mengendarai mobil, dengan setting berbeda-beda, dengan penumpang yang berbeda-beda.  Satu penggalan mimpi. Ada salah seorng anak saya duduk di belakang dan seorang pria bule di sebelah saya. Jalanan beraspal bagus dengan pemandangan luas menghijau. Mendekati Port Moresby. Saya menepi ketika tiba di sebuah semak. Ada seekor bayi orang utan berbaring lemah. Dalam mimpi saya, dua minggu sebelumnya datang ke tempat itu untuk menaruh hewan itu di sana. Sekarang, seolah saya ingin menjemput pulang kembali. Hewan itu tak terurus. Lalu saya gendong. Kami kembali melanjutkan perjalanan.  Pada sebuah desa, kami memasuki rumah sederhana dengan sumber air panas. Orang tua pemilik rumah, sebetulnya adalah penyewa. Ia mempersilakan saya menggunakan bak air panas untuk membersihkan si bayi orang utan. Dalam hati, kelak jika sudah kembali tiba di Jakarta, saya akan rawat dan ajak jalan-jalan kemana pun saya pergi. Pada penggalan mimpi ...

Sungai Kerontang

Mimpi. Sungai besar yang melintasi kampung saya di Bogor, kering kerontang. Saya bersama anak kedua saya, terbang melintas, menyaksikan keadaan sungai dengan sangat miris. Hanya pasir kekuningan dan batu-batu yang tersisa. 

Gunung Salak Meletus

Saya sedang berada di belakang rumah Bogor ketika saya merasakan bumi bergetar hebat. Lalu tiba-tiba separuh badan dari gunung Salak melesat ke udara dengan semburan apinya. Melayang semua material ke atas. Orang-orang panik berhamburan. Saya segera mengambil handphone dan membuat video. Saya tak segera menyelamatkan diri, kecuali terus membuat video.  Begitu membuka google mencari tafsir dari mimpi tersebut. Innalillahi. Sebagian besar artikel mengatakan itu pertanda sesuatu kemalangan akan menimpa saya, mengingat dampak dari meletusnya sebuah gunung berapi selalu merusak alam. Ada juga yang bilang, bahwa saya akan segera terlepas dari kemalangan. Bisa jadi ini, dan mudah-mudahan betul tafsir kedua ini benar. Saya merasa sedang didzolimi dua orang yang saya kenal. Saya dituduh melakukan sesuatu yang tidak saya lakukan. Saya difitnah. Sebagian orang percaya cerita yang mereka sebar. Saya, demi Allah, lillahi ta ala karena tentu saja saya tak seburuk yang mereka katakan. Apap...