Skip to main content

Posts

Showing posts with the label New York

Madison Square Park: Tempat Gaul untuk Anjing

Para pengunjung Madison Square Park, tak hanya manusia, juga anjing peliharaan. Di salah satu bagian taman ini, ada ruang terbuka khusus untuk anjing-anjing hang out. Aneka jenis anjing bisa ditemui di sana. Beberapa tak pernah saya lihat sebelumnya.

Central Park

Satu kata yang bisa menjelaskan Central Park: luaaaas. Udara yang sangat panas, mengundang kantuk yang sangat. Apalagi malam sebelumnya saya hanya bisa terlelap sekitar dua jam saja. So, di bawah kerindangan pohon-pohon dengan semilir angin musim panas yang lumayan meninabobokan, saya tertidur. Saya selalu kagum dengan cara negara-negara maju mengelola taman umum. Taman dirancang sedemikian rupa sehingga nyaman dan memiliki daya tarik. Di Central Park, selain bisa duduk nyaman, banyak orang yang suka berolah raga lagi memanfaatkan track yang menantang itu; kran air minum disediakan gratis dalam jarak teratur; bagi mereka yang membawa anak-anak, tempat bermain untuk mereka pun disediakan dengan aneka permainan yang menyenangkan. Sejenak saya membandingkan Central Park dengan Kebon Raya Bogor. Hmm, dari sisi koleksi, KRB luar biasa tak tertandingi. Namun saya akan setuju jika KRB mulai memikirkan untuk menciptakan pusat-pusat permainan anak di sejumlah titik. Pusat rekreasi h...

Flatiron Building

Flatiron Building, architectur unik yang menjadi salah satu landmark NYC.

Tiba-tiba Hujan

Dua hari ini, NY berasa panas sekali dibandingkan hari-hari pertama saya di sini. Jalan sebentar saya keringat langsung bercucuran. Beberapa orang yang saya temui mengeluhkan suhu yang tinggi. Malam ini ada dinner yang diadakan oleh panitia conference di sebuah hotel. Saat saya dan seorang kolega dari Malaysia yang juga peserta seminar celingukan mencari tempat kegiatan, tiba-tiba hujan deras turun. Terpaksa harus berteduh. Saya terkesima dengan banyak orang yang tiba-tiba mengeluarkan payung dari dalam tas mereka. Pastilah orang-orang ini begitu patuh pada ramalan cuaca sehingga sudah menyiapkan diri jika sewaktu-waktu hujan turun.

Ketika Conference Selesai...

Lega rasanya setelah tujuan utama saya datang ke NY untuk mempresentasikan hasil penelitian saya selesai. Serasa kaki lebih ringan digerakkan dan rongga di dada lebih longgar.  Conference yang saya ikuti, biasanya rutin diadakan di Oxford, UK. Namun untuk tahun ini diselenggarakan di NY. Jika mengenang bagaimana saya bisa ikut di event ini, rasanya lucu. Setelah sebelumnya saya enggan untuk melakukan perjalanan ke Amerika, tiba-tiba pikiran saya berubah. Pada akhir tahun lalu, saya ingin menantang diri saya untuk bisa menaklukkan NY.  Saya mulai mencari konferensi yang mungkin bisa saya ikuti di sini, dengan topik yang kira-kira sesuai dengan bidang ilmu yang saya dalami. Akhirnya menemukan Conference on Corporate Communication 2011. Salah satu sub-topik yang ditentukan adalah social media. Kebetulan saya sedang tertarik dengan Twitter account-nya para menteri kita. Singkat kata, saya ke NY dan presentasi selesai. Sekarang, masih ada empat hari yang saya sisakan u...

The New York Public Library - Front Side

Gedung the New York Public Library ini terletak di kawasan Bryant Park, 5th Avenue. Pada bagian depannya, dijaga sepasang patung singa. Anak-anak tangga untuk masuk menuju lobby ramai dijadikan tempat beristirahat para pengunjung. Pada halaman depan, banyak kursi besi berserak.

Walking Ads

Salah satu ide untuk melakukan promosi di NY adalah dengan menyewa jasa perorangan untuk menjadi iklan berjalan. Dari mulai salon, nite club, tailor, restoran hingga toko emas.

Weinergate

Anggota kongres Anthony Weiner, saat ini sedang menjadi sorotan publik NY karena keisengannya mengirimkan foto tak senonoh pada beberapa perempuan asing teman on line-nya, padahal dia sudah beristeri. Hampir di semua surat kabar yang terbit di NY, menjadikan kasus ini sebagai berita utama. Salah satu contoh bagaimana karir yang dibangun seumur hidup, runtuh karena perbuatan ceroboh beberapa detik. Awalnya dia menyangkal dengan mengatakan bahwa account Twitternya dibajak orang. Namun belakangan dia mengakui. Namun begitu, dia belum berniat untuk mundur dari posisinya sekarang. Salah satu foto yang menghebohkan AM New York New York Post Daily News

Tone on Lex

Tone on Lex, hostel yang saya tempati, terletak di 179th East 94th Street. Tak begitu jauh dari subway. Sebetulnya, ini bukan hostel pilihan pertama saya. Gara-gara hostel yang saya booking sebelumnya tiba-tiba ditutup oleh pemerintah kota NY, saya harus segera mencari penginapan baru. Untungnya masih ada hostel yang menawarkan harga murah.  Malam pertama, saya tinggal di kamar lantai bawah dengan delapan tempat tidur. Di sana, saya bertemu dengan seorang tamu dari Malaysia, yang juga mau ikut conference di tempat yang sama. Malam kedua hingga malam-malam berikutnya, saya pindah ke lantai tiga, dengan hanya empat kamar tidur. Lebih kecil, lebih mahal. Mau saya, tidak perlu pindah-pindah kamar segala. Tapi karena waktu reservasi ketersediaan kamarnya terbatas, mau tau mau harus saya ikuti. Dapur dan ruang TV Taman belakang. Menunggu sarapan sambil online Di depan hostel

Good Morning, New York City!

Good morning, Manhattan! Bersyukur bisa tidur nyenyak pada malam pertama di pulau ini. Itu karena selama penerbangan saya tidak terlalu melulu tidur. Dengan perbedaan jam dengan Jakarta yang tepat dua belas jam, mestinya mengganggu kebiasaan tidur yang dapat mengakibatkan jetlag. Saya berharap tidak terjadi pada saya. Adaptasi tak saja untuk jadual tidur, tapi juga sholat. Saat musim panas, pagi lebih cepat datang dan sebaliknya, malam lambat datang. Begitu bangun dan melihat jam menunjukkan angka 6.07, saya curiga waktu shubuh sudah lewat. Benar saja, fajar dimulai 4.37 sedangkan matahari terbit pukul 5.25!

Tersesat di Subway

Begitu memasuki Grand Central Station, saya bertanya pada seorang bapak. Saya juga bertanya lagi pada bagian informasi, sebelum memasuki jalur agar lebih pasti. Jadi, saya boleh ambil subway nomor 4,5 atau 6, turun di 96th Station. Sebelumnya, saya sudah membeli MetroCard, tiket yang bisa saya gunakan selama saya berada di New York dengan deposit sejumlah nilai uang. Semuanya terkesan sangat mudah: keluar bandara, ke stasiun, lalu ke hostel. Tapi, ternyata tidak begitu kejadiannya. Sebuah 'kecelakaan' pertama terjadi ketika saya menyadari bahwa saya keliru ambil kereta. Kereta yang saya naiki malah menjauhi tujuan. Saya salah mengambil jalur.  Turun, lalu menyebrang ke jalur sebaliknya. Ketika siap-siap mau turun di stasiun tujuan, ternyata kereta tak berhenti. Saya turun lagi, ganti arah, ambil kereta lagi. Kata seorang ibu yang saya tanya, saya bisa ambil kereta express yang langsung berhenti di 96th Station atau bisa juga ambil yang lokal, tapi berhenti di tiap stas...

Manhattan, for the Very First Time

Antrian pintu keluar imigrasi bandara JFK sangat panjang. Setelah menjemput dua kartu formulir yang saya kira diperlukan, saya ikut mengekor. Seorang bapak berperawakan kurus tinggi tak henti-hentinya mengumpat dengan kata-kata kasar tentang antrian yang super duper panjang itu. Namun tak ada yang perduli karena semua orang sibuk dengan urusan masing-masing. Begitu tiba giliran saya di depan petugas, ternyata ada satu formulir lain yang justeru dibutuhkan tapi tak saya ambil. Malah formulir yang tidak saya perlukan saya ambil. Petugas itu membiarkan saya melengkapi data pada formulir baru.  Hanya dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti, tujuan dan berapa lama tinggal, lalu sidik jari dan pengambilan foto, urusan imigrasi selesai. Cerita-cerita yang pernah saya dengar tentang repotnya urusan di imigrasi Amerika, sama sekali tak terjadi. Syukurlah. Setelah mengambil tas yang masuk bagasi, tinggal giliran mencari transport ke Grand Central Station, sesuai petunj...

Abu Dhabi - Manchester

Setelah menunggu hampir tiga jam, penerbangan antara Abu Dhabi dan Manchester berlanjut. Ketika semua penumpang tampak lancar melewati petugas pemeriksa boarding pass dan passport, tidak dengan saya. Pria berbadan tinggi besar itu bolak-balik melihat passport dan boarding pass. Dia juga minta dokumen lain entah untuk apa. Sekejap saya merasa terintimidasi. Tapi, tentu saja tak mau mengganggu mood traveling saya dengan urusan remeh temeh seperti ini. Orang itu pasti punya alasan berbuat bertele-tele seperti itu. "You look different" katanya beralasan. Saya maklum. Foto di passport dibuat ketika rambut saya pendek. Itu dua tahun lalu. Seorang Ibu dengan kursi roda tersenyum bersimpati.  Ibu itu, begitu pesawat mendarat di Manchester, sempat bicara banyak dengan saya. Dia tinggal di Bristol dan pernah dua kali ke New York. "I love New York". Katanya berkali-kali.  Kampanye hemat listrik di bandara Abu Dhabi

Jakarta - Abu Dhabi Dooo...

Lagi-lagi harus meninggalkan Basil. Ketika saya pamit di bandara, anak kecil itu hanya melongo. Tak tega rasanya. Namun pesawat sudah menunggu dan saya siap terbang. Etihad Airline, rencananya akan menerbangkan saya dari Jakarta ke Abu Dhabi, lalu ke Manchester. Dari Manchester ke New York. Saya melihat hampir seluruh penumpang adalah tenaga kerja asal Indonesia yang hendak bekerja di negara-negara Arab. Mereka pilih Etihad karena jika dibandingkan dengan Emirate atau Qatar Airline, Etihad lebih murah. Dengan sederet film-film baru dan lama yang bisa saya tonton, penerbangan enam jam itu tak berasa membosankan hingga tiba di bandara Abu Dhabi. Ada satu pemandangan yang menakjubkan yang saya saksikan begitu tiba dan hendak dipilah mana penumpang yang mau masuk ke Abu Dhabi dan melanjutkan ke penerbangan berikutnya. Petugas-petugas bandara bertampang India fasih berbahasa Indonesia memberikan instruksi ke setiap penumpang yang rata-rata TKI itu. Bahkan rombongan jemaah yang ...