Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Movie I Watched

Zipper

A man, who is stepping up to the top, should be squeaky clean and a hero for many people.  If he has a secret, it would no longer a secret. Once some people knew about his secret behaviours, would it stop him away from those activities? No. He keeps his habits while everybody believes that he has stopped. 

Turkey Shoot

Saya berharap akan menonton film action brutal antara penjahat dan jagon yang mengambil setting di Turki. Ternyata saya keliru. Lima menit pertama menonton film 'Turkey Shoot' ini, saya tiba-tiba teringat film 'Hunger Game'. Begitulah. Tidak sama persis, sih.

The Age of Adaline

Menonton film ini, saya teringat pada film 'The curious case of Benjamin Button', tentang seorang bayi terlahir dengan wajah sangat tua, lalu tumbuh dan dewasa menjadi semakin muda hingga akhirnya menjadi bayi lagi. Nah, film 'The Age of Adaline' tidak benar-benar seperti film yang dibintangi oleh Brad Pitt itu. Ini, tentang seorang perempuan yang berhenti menjadi tua karena sebuah kecelakaan kendaraan yang menimpanya. Bukan karena kecelakaan kendaraan itu yang membuatnya awet muda, tapi karena kendaraannya tercebur ke dalam sebuah danau lalu tersambar petir. Tubuhnya bereaksi terkena sengatan arus listrik yang luar biasa kuat itu.  Adaline, perempuan itu, menjadi awet muda, sedangkan dunia di sekelilingnya termakan umur. 

The Grand Hotel Budapest

Charming. Classic. Comical.

American Sniper

Amerika paling bisa meng'hero'kan warganya. Dari seorang aktifis lingkungan, pejuang hak-hak kaum minoritas, hingga seorang penembak jitu: sniper! Diangkat dari buku biografi tentang seorang tentara Amerika yang ditugaskan di medan perang yang bukan perang mereka, film ini memang luar biasa bagus. 

Birdman

Agak terengah-engah nonton film Birdman ini. Hampir seluruh gambar dalam film ini diambil dengan menggunakan teknik hand-held camera dan one-shot yang maha panjang. Terlebih banyak adegan yang diambil dengan close up dan medium. Hasilnya, luar biasa bikin tegang. Padahal ini film drama biasa. Tapi konflik antar pemain termasuk konflik masing-masing karakter dibangun begitu kuat. Saya suka, saya suka. Namun demikian, beberapa adegan sangat membosankan dan beberapa bagian membingungkan mana yang real maupun yang sekedar imajinasi si tokoh.  Ketika karakter si Birdman muncul lengkap dengan kostum karet menyerupai burung (sebagai bayangan), tentu kita harus ingat the Black Swan. Saat itu, Natalie Portman menari, penonton diajak untuk percaya bahwa si artis adalah jelmaan dari seekor angsa hitam. Meskipun tak dibuat mirip eksekusinya, namun, secara ide sepertinya sama. 

Before I Go to Sleep

Sejumlah orang mengalami apa yang disebut short-term memory syndrome karena sejumlah sebab, salah satunya kecelakaan. Beberapa film yang saya ingat dan pernah tonton adalah 50 First Dates, Memento, Buterfly Effect, dan mungkin juga Shutter Island. Film-film yang membuat kita jatuh kasihan pada penderitanya. Lalu muncullah film 'Before I Go to Sleep'. Tentang perjuangan hidup mati seorang janda yang hanya bisa mengingat sesuatu yang ia alami sehari saja, sebelum dia jatuh tertidur. 

Still Alice

Saya selalu suka acting Juliane Moore. Sebut saja mulai dari The End of the Affair, Magnolia, Hanibal, Jurassic Park, Evolution, Far from Heaven, the Hours, Chloe, hingga the Hunger Game. Lalu 'Still Alice', tentang guru besar yang pelan-pelan kehilangan daya ingatnya karena diganggu penyakit bawaan, Alzheimer. Ketegaran menghadapi segala kemungkinan terburuk dari masa depan yang sudah diprediksi akan gelap gulita. Bayangkan, Anda akan kehilangan memori sama sekali karena penyakit lupa. Lupa segalanya!  Tiba-tbia saya teringat pada seorang Uwak, yang selama lebih dari satu tahun saya tinggal bersamanya. Dari sana saya belajar bagaimana melayani seorang yang memiliki Alzheimer. Tidak mudah. 

Miss Meadows

Katie Holmes. Dan saya tak berharap film ini sehebat apa. Tapi ceritanya lumayan mengejutkan. Katie yang manis, bisa menjadi berdarah dingin ketika sebuah senjata di tangannya.

Back to the Sea

Deja vu.  Baru menit kelima menonton 'Back to Sea, ingatan saya langsung terbang ke film 'Finding Nemo'. Namun jika sabar sedikit, alur cerita bisa penuh warna. Terutama bagaimana ikan-ikan yang ditangkap di laut dan ditempatkan di akuarium besar bisa bersahabat dengan seorang anak koki pemilik restoran besar di New York. Kembali ingatan saya teringat pada sebuah film kartun lain, Ratatouille. Back to the Sea, ibarat perpaduan antara Finding Nemo dan Ratatouille.

House at the End of the Street

Kebiasaan saya saat menonton film, terutama dari laptop, mengintip berapa lama film berakhir. Dari, sana saya mencoba menduga jalan cerita beberapa menit ke depan. Karena begitulah keasyikan menonton film, menduga-duga.Ternyata, ternyata. Tak satupun dari dugaan saya tepat. Film ini emang bagus, sulit ditebak menit per menit-nya. 

Last Pocong

Belum lama saya menonton sekilas film 'Ada apa dengan pocong?' di sebuah saluran tv. Film itu diputar di bioskop tahun 2011. Kisah horor komedi yang tentu saja, seperti biasa, asal dibuat. Maunya lucu, tapi gagal. Malam ini, saya nonton film Thailand 'Last summer' yang diputar di bioskop tahun ini. Horor juga, tapi terlihat sangat serius dibuatnya. Hal yang menarik perhatian saya dari dua film ini adalah, kisahnya sama. Segerombolan anak muda, salah satu mati secara tak sengaja, lalu mayatnya dibuang. Sisanya bisa ditebak, si arwah pemilik jasad marah minta pertanggungjawaban.  Jika dilihat tahun pembuatan, saya bisa menuduh orang Thailand menjiplak film Indonesia. Atau bisa saja, kebetulan kisahnya mirip. Namun saya salut dengan kualitas film Thailand yang jauuuuh lebih sempurna dari film Indonesia ini. Makeup, acting, tata cahaya, tata suara, tata musik, termasuk casting, pas semua. 

Precious

DVD film 'Precious' ini teronggok lama di meja saya. Tapi baru pagi ini, selesai sahur di hari kedua puasa sambil menunggu subuh tiba, saya meluangkan waktu untuk menonton. Selain karena sibuk dengan thesis, hampir setiap saya TV dikuasai anak saya.  Lima menit pertama film berjalan, saya sudah jatuh cinta. Film ini saya pastikan bakal bagus. Ternyata memang demikian. Tentang seorang remaja perempuan di daerah Harlem, berbadan bongsor, yang kesulitan mengikuti pelajaran-pelajaran di kelasnya.Misalnya, di usianya yang menginjak 16 tahun, dia belum bisa membaca. Ditambah, dia hamil! Tak ada satu pun yang bertanya, siapa pria yang menghamili anak perempuan itu. Mungkin, kehamilan di usia remaja bukanlah berita heboh di lingkungan itu. Tapi penonton sudah disuguhi sejumlah petunjuk. Jadi, ketika pekerja sosial mencoba mencari tahu siapa, penonton sudah tak terkejut lagi. Namun film ini memang sengaja tidak banyak memberi kejutan-kejutan sepertinya, karena tentu saja jalan ...

The 400 Blows

Film Prancis buatan tahun 1957. Masih hitam putih. Tentang seorang anak SD yang tanpa disadarinya, melakukan transformasi dari sekedar anak polos, menjadi anak asuhan negara karena kriminalitas yang dibuatnya, hingga ia harus menghuni penjara anak. Dengan akting yang wajar, editing, dan alur cerita yang mengalir deras, film ini, menurut saya berhasil  menyampaikan pesan moral.  Rupanya, faktor orang tua, guru di kelas, dan teman bermain, bisa menentukan kemana nasib seseorang. Bahkan itu terjadi pada seorang anak. Poster DVD Suasana kelas Ayah yang pemarah Tertangkap mencuri mesin tik Sahabat yang menjerumuskan Ibu yang selingkuh Guru yang pemarah dan sok disiplin 

Dangerous Mind

Orang-orang boleh saja mengaku memiliki kesenangan saat mengajar. Lalu mereka memilih profesi guru atau dosen sesuai dengan pilihan hatinya. Namun, apakah guru atau dosen yang mengajar karena kecintaannya pada aktivitas mengajar akan diterima baik oleh murid-muridnya? Rasanya ini yang sering tidak dipertimbangkan oleh mereka yang memilih menjadi guru atau dosen. Mereka tidak sadar, bahwa mengajar bukan sekedar senang. Tapi harus mencerdaskan orang-orang yang diajar. Sebelum mencerdaskan orang-orang, nah, sebaiknya, cerdaskan dulu diri sendiri. Saya sering merasa berdosa dengan apa yang telah saya perbuat dengan mahasiswa-mahasiswa saya jika mengingat masa lalu, saya kurang mempersiapkan diri dengan baik jika hendak mengajar. Untuk itulah sekarang saya sedang memoles diri, biar nanti jadi dosen yang lebih baik lagi. Pikiran ini berkecamuk saat saya menonton ulang film 'Dangerous Mind'. Jadi kangen mengajar. Jadi berjanji pada diri sendiri, kelak harus jadi dosen yang...

Candy

Salah satu DVD yang saya pilih pekan ini adalah "Candy", film Australia buatan tahun 2006. Lumayan untuk pelipur lara hati yang sedang jumpalitan mencari responden. Biar tak stress, saya perlu menyeimbangkan perasaan. Tentang sepasang kekasih muda yang kemudian jadi suami-isteri, pecandu narkoba. Senang, susah, mereka jalani bersama. Potret dua pecandu yang seolah menjadi milik hampir semua pecandu: konflik dengan keluarga dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan supply obat. Termasuk, melacurkan pasangannya. Lalu kabar itu, si perempuan hamil. Namun mereka tak jua berhenti mengkonsumsi obat. Hingga sebuah kesadaran muncul. Mereka berusaha untuk tobat, namun tanpa bantuan professional hasilnya tak maksimal bahkan mencelakakan bayi yang dikandung. Ketika si bayi tiada, kehidupan mereka malah kembali terpuruk, lebih buruk bahkan. Saya rasa film ini lebih menyerupai kampanye anti narkoba dari pada sebuah film roman. Namun bumbu roman memang lumayan kental diperlihatka...

Limitless

Awalnya saya mengira akan menonton sebuah film semirip 'Crank' yang bikin sesak nafas. Namun syukurlah, 'Limitless' lebih kalem.  Diceritakan, tentang seorang penulis novel miskin yang terus ditagih penerbitnya untuk segera menyetor karyanya. Namun ide untuk menulis itu benar-benar mampet hingga mantan pacar yang ia temui secara tak sengaja begitu prihatin. Suatu ketika, sang penulis bertemu dengan mantan adik ipar yang berbisnis pil kuat penambah daya ingat. Dari satu butir yang diberikan gratis, dalam hitungan jam penulis kita itu bisa menyelesaikan novel hingga membuat sang penerbit kaget dan terkesima. Satu butir tidak cukup untuk bisa mendapatkan ide brilyan lain. Si Penulis berusaha mendapatkan lagi. Namun sang adik ipar ditemukan meninggal. Ternyata pil kecil transparan yang djual si adik ipar memang sangat dicari, sayang tak diperdagangkan bebas karena dilarang oleh badan pemerintah. Beruntung, Penulis kita menemukan oba...

Sucker Punch

Para orphan yang dianggap bermasalah tidak dimasukkan ke penjara karena kesalahannya, tapi dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Di sana pun, mereka tak dianggap pasien karena dokter tahu mereka tidak gila. Mereka dipoles, dilatih, untuk menjadi penari penghibur.  Tersebutkah lima tokoh yang berniat kabur. Namun penjagaan sangat ketat. "Map, knife, key, fire, and mystery' adalah lima hal yang harus dimiliki untuk bisa lari dari tahanan itu. Untuk mendapatkan setiap aspek yang dibutuhkan, diperlukan satu tarian 'pertahanan' yang digambarkan dengan sebuah pertarungan imajiner dari kelima tokoh cewek jagoan ini.  Ternyata tak semua bisa berjalan mulus. Satu per satu tokoh dikorbankan. Ternyata, kebebasan tidak untuk semua. Semua berkorban untuk satu orang saja. Mereka sesungguhnya tidak takut mati, karena memang telah lama 'mati.'

The Company Men

Nasib hidup seringkali penuh kejutan. Apa yang sudah kita miliki bisa tiba-tiba tercerabut dari tangan. Mengingatkan pada apa yang pernah saya alami. Pernah suatu ketika, dengan sebuah kesadaran, saya meninggalkan semua yang pernah menjadi bagian dari kebanggaan saya untuk memulai sesuatu yang baru, sekedar mendengarkan kata hati untuk mencari hal yang benar-benar sesuai dengan keinginan saya. Agak berbeda dengan film 'The Company Man', para tokoh utama di film ini menjalani nasib mereka dengan cara berbeda setelah dengan tiba-tiba mereka terkena PHK padahal perusahaan mereka dalam keadaan baik dan prestasi mereka pun sungguh memukau. Tokoh pertama, yang termuda dari ketiganya, sibuk melamar ke sana ke mari atas dorongan istrinya, pasangan yang sangat mengerti, mendukung, dan bersahaja, yang melunakkan hati pongah sang suami untuk menyadari keadaan. Hingga tokoh ini mau melakukan pekerjaan apa pun asal bisa menopang hidup keluarga, termasuk merelakan rumah impian mereka un...

Rintihan Kuntilanak Perawan - Bagian 7

Bagian terakhir. Mari selesaikan penghakiman ini: Si Geulis dan Ulet Keket mengikuti si Tete Besar. Rupanya dia menemui si Botak. Lalu si Botak diajak serta ke villa tua oleh si Tete Besar. Dua perempuan ayu itu mengendap-endap. Mereka menghampiri aki-aki bersorban putih yang memanggil dengan gerakan tangannya. Aki-aki itu memberi pesan dan secarik kertas, lalu pergi. "Kemana aki-aki tadi?" tanya si Geulis kepada Ulet Keket. Ah, mereka pasti pura-pura. Mereka tahu kemana perginya. Tapi malah nyari di bawah kaki, seolah aki-aki yang menyapa mereka di depan villa tua itu sendal jepit.  Di dalam villa, si Botak sudah tanpa pakaian duduk di sebuah kursi. Bagaimana ceritanya? Sekali lagi, ini film sulap yang bukan sulap. Hingga film berakhir, tak jelas di mana ada rintihan, siapa yang jadi kuntilanak...