Kali lain, saya menjadi penjual es mambo keliling. Saya menjadi distributor tunggal dari usaha pembuatan es mambo milik keluarga. Adik saya masih kecil-kecil. Kakak-kakak saya sudah bekerja, kuliah, dan lainnya tinggal di asrama. Waktu itu saya sudah duduk di bangku SMP. Peternakan ayam sudah tutup. Serangan tetelo membuat hampir semua ayam mati. Menurut banyak orang, gaji Bapak dari pabrik ban terbesar di Bogor waktu itu tergolong tinggi. Namun Bapak masih perlu mencari uang tambahan untuk menyokong keperluan keluarga besar kami. Bapak ingin semua anaknya mengecap pendidikan setinggi-tingginya. Bapak melakukan apa saja, mengkaryakan siapa saja di rumah, dan mengajarkan hidup yang sangat sederhana agar cita-cita bersama itu tercapai. Bapak lalu membeli sebuah freezer untuk membuat es mambo. Siang sepulang sekolah, saya biasanya ke pasar untuk membeli bahan-bahan dasar untuk membuat es mambo. Kacang hijau, gula, coklat bubuk, rupa-rupa pewarna, bua...
Remeh temeh cerita sehari-sehari, prasasti bahwa saya pernah singgah di planet ini