Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Childhood

Kisah Penjual Es Mambo

Kali lain, saya menjadi penjual es mambo keliling. Saya menjadi distributor tunggal dari usaha pembuatan es mambo milik keluarga. Adik saya masih kecil-kecil. Kakak-kakak saya sudah bekerja, kuliah, dan lainnya tinggal di asrama. Waktu itu saya sudah duduk di bangku SMP. Peternakan ayam sudah tutup. Serangan tetelo membuat hampir semua ayam mati. Menurut banyak orang, gaji Bapak dari pabrik ban terbesar di Bogor waktu itu tergolong tinggi. Namun Bapak masih perlu mencari uang tambahan untuk menyokong keperluan keluarga besar kami. Bapak ingin semua anaknya mengecap pendidikan setinggi-tingginya. Bapak melakukan apa saja, mengkaryakan siapa saja di rumah, dan mengajarkan hidup yang sangat sederhana agar cita-cita bersama itu tercapai. Bapak lalu membeli sebuah freezer untuk membuat es mambo. Siang sepulang sekolah, saya biasanya ke pasar untuk membeli bahan-bahan dasar untuk membuat es mambo. Kacang hijau, gula, coklat bubuk, rupa-rupa pewarna, bua...

Kisah Penjual Sayur

Bapak saya gemar berkebun dan bertani. Setiap pagi sebelum bekerja, sore hari sepulang kantor, dan sepanjang hari Minggu, Bapak biasanya di kebun dan di sawah. Bapak berkebun dan bertani bukan sekedar untuk hobby, tapi juga untuk mendapat uang sampingan untuk keluarga besarnya. Bapak punya beberapa petak tanah yang lokasinya berjauhan. Belum lagi, Bapak juga mengelola tanah-tanah milik tetangga atau milik kerabat yang digadaikan. Ada tanah yang cocok untuk ditanami padi, ada yang cocok untuk beternak ikan, ada juga yang hanya cocok ditanami palawija. Sejak saya kecil, saya lupa di usia berapa, saya dan saudara-saudara sudah berkubang dengan lumpur untuk membantu Ibu dan Bapak. Ibu tak pernah mengeluh walaupun kulitnya jadi sangat gelap karena sering terbakar matahari. Saya sangat kehilangan waktu bermain dengan teman-teman seusia. Tak ada pilihan, dari pada dipukuli Bapak jika tidak ikut membantu. Selain padi, Bapak juga berkebun kacang tanah, kacang panjang, buncis, singkong, ubi, me...

Kisah Penjual Telur

Sejak saya menempati rumah yang bertetanggaan dengan pasar tradisional, sedikit demi sedikit saya mengurangi kunjungan ke super market. Beberapa kebutuhan harian bisa saya penuhi dari pasar tersebut dengan harga yang jauh lebih murah. Salah satunya adalah telur. Jika week end, saya senang memasak dengan menu telur. Telur dadar, telur ceplok. Haha, itu saja sebetulnya. Namun adik perempuan saya terkadang membuatkan bakwan jagung dengan campuran telur. Hati-hati jika membeli telur. Harus kita sendiri yang memilih. Jika kita serahkan begitu saja pada penjualnya, mereka akan memasukkan telur-telur yang sudah pecah. Beberapa kali menimpa saya. Tidak saja di satu penjual, namun hampir rata-rata semua penjual telur di pasar itu. Kata bapak waktu saya kecil, perbuatan semacam itu adalah perbuatan yang tidak jujur. Berikan yang terbaik yang kita punya untuk melayani, apapun, kepada siapa pun. Saya ingin mengenang masa kecil saya tentang telur dan usaha ternak ayam yang pernah dijalani keluarga...