Skip to main content

Posts

Showing posts with the label CampaignUde

Andai Prabowo Menang

Saya membayangkan jika benar, apa yang dilakukan oleh lembaga-lembaga survei itu adalah kebohongan. Mereka berkonspirasi untuk membentuk sebuah opini bahwa paslon nomor 01 yang benar-benar menang. Lalu di mana akal sehat? Jika benar paslon 02 yang menang, perang semacam apa yang akan terjadi di jalanan-jalanan? Akankah para pendukung paslon 01 diam ketika gegap gempita kemenangan berbalik jadi ode yang menyakitkan? Sementara itu, paslon 02 tetap dengan halusinasinya. Lalu apa yang dilakukannya orang-orang terdekatnya yang seolah hilang kewarasan tidak percaya hasil hitung cepat? Wake me up.

Tentang Kopi Liong Bulan

Tulisan seseorang yang viral. THE END OF THE LEGEND Sebuah berita duka bagi saya dan bagi banyak orang Bogor, penggemar kopi Liong Bulan. Kopi legendaris ini tutup selamanya -tutup umur, setelah bertahan 72 tahun di kota Bogor. Lahir pada tahun 1945, sekitar kemerdekaan Indonesia di dekat Pasar Anyar Bogor, di belakang bioskop President yang telah mati lebih dari 20 tahun yang lalu. Membuka toko di Jl. Pabaton di sebelah Pasar Anyar, ia di sana sampai tutup umur sepuluh hari lalu. Sang empunya, usianya pun sudah lanjut, 60-an tahun nampak sering duduk saja merangkap sebagai kasir. Kadang-kadang saya ajak ngobrol soal kopi ini, tetapi tak responsif, wawancara pun tak terjadi. Dua perempuan muda bertugas menggiling biji kopi, menimbang kopi, melayani permintaan para pembeli yang banyak berdatangan. Kopinya murah, Rp 12.500 per 1/4 kg. Maka masyarakat kelas bawah selalu ramai berdatangan dari pukul 09 sampai pukul 15 saat toko buka. Belakangan saya sering menemukan toko ini tutup dan...

Publisitas Gratis Pebisnis Online

Apa yang menarik dari foto di atas? Sophia Latjuba dan Ariel? Tentu saja. Tapi bagi saya, satu hal yang lebih menarik adalah salah satu komentator pada Instragram Sophia. Dia berjualan! Dan, di-captured oleh Merdeka.com. Dan, ditayangkan oleh Merdeka.com. Dan, inilah publisitas. Brilian. Tapi orang itu memang oportunis sejati, berpromosi dengan cara gratis. Model gerilya seperti ini, banyak dilakukan oleh para pebisnis. Mereka mereka post dari satu akun sosmed celeb ke akun sosmed celeb lainnya, termasuk juga pada setiap forum online maupun artikel pada portal online. Selama ada kesempatan, mengapa tidak? 

E-Money

Akhirnya, saya benar-benar tak tahan lagi untuk memiliki e-money. Dari beberapa kali perjalanan ke Bogor lewat tol, saya merasa bodoh sekali ikut antri untuk bisa keluar tol sementara orang-orang yang sudah memiliki e-money bisa langsung keluar. Mungkin begitulah tujuan pengelola jalan tol agar semakin banyak orang memiliki e-money. So, siang ini saya ke Bank Mandiri di komplek UNJ. Ternyata sangat mudah untuk memilikinya, tanpa banyak syarat dan prosedur. 

Wajah Baru Carrefour Cempaka Putih

Carrefour Cempaka Putih sedang direnovasi, hampir di rombak total. Masih berantakan, barang-barang berdebu, AC tak layak. Tapi mereka tetap buka. Barang tidak komplit, harga yang terantum di label tidak sesuai dengan yang tercantum pada mesin kasir.  Pokoknya, amburadul. 

Kesia-siaan Jasa Raharja

Saya menemukan sebuah iklan online Jasa Raharja di Kompas.com. Terterik untuk melihat lebih lanjut, saya mengklik iklan tersebut. Biasanya dan saya berharap, saya akan melihat webisite dari perusahaan yang beriklan itu. Sayangnya, begitu website terbuka, malah website tersebut under construction. Eh, kok bisa? Bagaimana perusahaan sebesar Jasa Raharja bisa lalai begini? 

Mereka Tampil dengan Ciri Khas-nya

Sebagian tokoh ingin dikenal dengan outfit khas yang mereka kenakan setiap kali tampil di depan umum atau media, misalnya Jokowi (kemeja putih, lengan digulung, dan tanpa dimasukkan ke dalam celana), Dahlan Iskan (kemeja putih, lengan digulung, celana hitam, dan sepatu sport), Andy F. Noya (dasi dan lengan kemeja yang selalu digulung), dan Prabowo (kemeja krem safari). Atau Aa Gym (sorban lilit) dan Larry King (suspender). Buat mereka, tentu hal demikian dianggap penting. Mereka harus bersaing dengan tokoh-tokoh lain agar dapat diingat baik oleh masyarakat. Differensiasi.  Mereka memang berhasil menguatkan image diri sendiri. Di kehidupan kita sehari-hari, secara sengaja maupun tidak, kita pun dapat melihat teman atau teman kerja melakukan hal yang sama dengan para tokoh yang saya sebutkan di atas. Seorang sahabat saya, tiap hari kerja menggunakan celana jeans dan batik. Sahabat yang lain, selalu berpakaian hitam, dari kemeja hingga sepatu. Saya sendiri? ...

Anies dan Strategi Menjual Diri

Ketika suatu waktu lalu Anies Baswedan melahirkan dan mempromosikan program 'Indonesia Mengajar' dengan memberi kesempatan sarjana-sarjana baru untuk menjadi guru di daerah-daerah terpencil dengan gaji menjulang, saya menahan nafas sekejap. Ide brilyan. Tentu saya kagum. Tapi apa memang pak rektor itu punya uang sedemikian banyak sementara tak ada organisasi atau sponsor manapun yang terlihat terlibat dalam kegiatan itu? Bukan curiga negatif. Saya hanya sedang menghitung hari untuk melihat dampak besar yang akan dia petik di kemudian hari. Tak makan waktu lama, dari progam mercusuar yang banyak ditiru oleh berbagai organisasi itu, dia tiba-tiba menjadi salah satu orang penting yang dipertimbangkan oleh Partai Demokrat untuk menjadi calon presiden. So, memang mudah ditebak. Semua sudah direncanakan. Mengenai arahnya kemana, tergantung nasib baik yang akan membawa.  Anies Baswedan telah 'menjual' dirinya dengan baik. Mungkin langkah hebat seperti ini yang perlu  ...

Wajah Website Parpol

Setelah November 2010 lalu saya mengintip sejumlah website partai , kali ini saya kembali mengintip website-website partai itu untuk melihat perubahan apa yang dilakukan oleh partai politik terhadap website mereka.  Ternyata, semua partai sudah bergenit-genit menjelang pemilu 2014 sehingga mereka tampil layak mewakili misi dan visi organisasi yang mereka usung. Hal yang paling mencolok dari semua website adalah dengan menampilkan ketua umum partai seolah untuk merekalah segenap unsur partai bekerja, kecuali Partai Demokrat tentu yang sudah tak berketua lagi.  Partai Sejahtera bagi Para Pemimpinnya Golkar masih setia dengan thema ekonomi kerakyatan

3 Idiots vs 3 Pocong Idiot

Poster film '3 Pocong Idiot' yang saya liat di Merdeka Online , ternyata sama persis dengan poster film India berjudul '3 Idiots' yang filmnya saya tonton hingga tiga kali. Begitu tahu sutradaranya, Nayato Fio Nuala, saya jadi maklum. Orang ini yang dulu sempat ramai diberitakan karena di salah satu filmnya,'Ekskul',  menggunakan musik dari film Gladiator. Originalitas suatu karya sepertinya tak begitu penting bagi orang ini. 

It's Women's Job!

Menurut saya lucu. Tapi tidak bagi banyak perempuan di dunia, yang menemukan instruksi cuci sebuah produk celana yang dijual di Inggris ini dianggap sebagai pelecehan gender, sangat melukai 'keperempuanan' mereka. Jika mesin cuci tak dapat membantu kaum pria membersihakan celana yang mereka pakai itu, kasih ke pasangan mereka karena tugas perempuanlah menyelesaikan urusan bersih-bersih. Lucu. Tak harus diambil hati 'kan?

Kisses of the Year

Bagaimana jadinya jika para pemimpin agama dan negara saling berciuman untuk mempromosikan perdamaian? Yeah, permusuhan membuat satu orang dengan orang lain, satu bangsa dengan bangsa lain, penganut agama satu dengan penganut agama lain, saling membenci. Dari rasa benci timbullah peperangan, timbullah diskriminasi, pengucilan... Tahun 2011 masih dipenuhi kejadian permusuhan. Tahun 2012 sepertinya juga akan masih ramai. Entah jika para tokoh yang digambarkan oleh Benetton untuk kampanye un-hate ini, benar-benar diperankan oleh pemilih wajah yang sebenarnya. Mungkin perdamaian akan benar-benar tercapai. Mungkin. Coba saja bayangkan, jika Ahmadinejad bermesraan dengan Obama atau Kim Jong Un dengan Lee Mung-byak. Atau Habib Riziek Shihab berciuman dengan Marzuki Alie...

Eh, Muhaimin beriklan...

Mungkin merasa kurang populer, Muhaimin memutuskan untuk mengiklan dirinya di Detik.com. Seolah sedang mengajari TKI dan calon TKI, menteri berkasus hukum ini memilih menundukkan muka dari pada 'bertatap muka' dengan audience-nya. Btw, siapa audiennya? Tanpa mau meremehkan TKI dan calon TKI, tapi apa mereka baca Detik.com?

Visit Sabah

Begitu keluar kompleks apartemen, saya tertegun dengan sebuah poster yang tertempel pada sebuah bodi bis.  Dinas Pariwisata Sabah berpromosi di Australia! Mereka mengundang masyarakat Australia Barat untuk berkunjung ke Sabah. Luar biasa strateginya. Hari yang berbeda, saya mau bepergian ke kota. Di stasiun Joondalup, saya juga melihat sebuah billboard yang menjual Sabah. Lebih lama mengamati, lebih jelas siapa yang sedang beriklan. Ternyata Malaysia Airlines.

Biarawati Hamil

Iklan yang menggemparkan Inggris menjelang kedatangan Paus Benedictus XIV ke London akhir September ini, menggambarkan seorang biarawati hamil besar yang sedang menikmati es krim. Dengan tagline 'immaculately conceived', iklan ini jika dipertimbangkan dari tujuannya untuk menarik perhatian dunia benar berhasil. Namun jika kemudian dianggap dapat meresahkan masyarakat, itu urusan lain. Pemilik produk mungkin tidak keberatan jika iklan ini harus dicopot. Biar pun sebentar waktu tayangnya, setidaknya coverage dari pemberitaan sudah mendunia. Prestasi yang hebat.

Luna dan 'Pelacur'

Luna Maya, satu-satunya artis Indonesia yang saya kagumi, sedang dirudung masalah gara-gara menghujat infotainment di Twitter. Karena reaksi infotainment yang berlebihan, saya meradang. Syukurlah, banyak pula yang juga membela Luna. Mengapa Luna dibela padahal netiket-nya kurang terpuji? Menurut saya ada dua alasan. Pertama, karena semua orang memang menyukai Luna yang selain cantik ragawi, kelakuannya juga dianggap 'baik-baik', dibandingkan artis lain yang populer tapi karena sensasi bukan karena karya yang dibuat. Kedua, karena banyak orang sudah muak dengan infotainment. Kultur kita bukan seperti Amerika dimana mengumbar kejelekan orang masih dianggap tidak senonoh meskipun juga disuka. Kita semua berada pada wilayah hipokrit akut yang tahu bahwa bergunjing itu tak baik tapi karena MUI tidak mengharamkan maka dianggap boleh. Untuk beberapa hal urusan dosa, kita seolah telah memasrahkannya pada MUI sebagai dedengkot hakim atas baik-buruk perbuatan. ...

PSA Depag: Jarak Indonesia-Arab Saudi Makin Jauh?

Iklan layanan masyarakat yang dikeluargkan oleh Departmen Agama yang kearap diputar di televisi akhir-akhir ini saya rasa membingungkan. Jarak Indonesia ke Arab Saudi saya rasa hingga kapanpun tak akan pernah berubah. Setidaknya, tiga kali ungkapan jarak disebut pada iklan tersebut: "Jarak semakin jauh, harga semakin mahal". Kecuali jika 'jarak' yang dimaksud adalah bukan pengertian sebenarnya satu tempat ke tempat lain. Tapi lebih kepada 'jarak hati' antara keinginan dengan tindakan.  Harga makin mahal memang iya. Tapi mestinya juga jika dihitung jujur, harga yang berlaku tak akan semahal itu. Apalagi jika dilihat dari pelayanan yang didapat oleh jemaah haji Indonesia selama di sana, tak sebanding dengan harga yang dikeluarkan. Beberapa waktu lalu, ada pihak independen yang mencoba menghitung setiap variabel harga yang sebelumnya telah ditentukan oleh Departemen Agama. Nyatanya, memang telah terjadi penggelembungan harga untuk setiap variabel yang disebutkan...

Carrefour Goes Green

Sejak beberapa waktu lalu, Carrefour memperkenalkan gaya belanja yang ramah lingkungan. Yaitu dengan mengajak konsumennya menggunakan kantong plastik khusus yang mesti dibawa setiap kali belanja. Kantong ini boleh diganti jika rusak dengan cara menukarnya. Carrefour tidak memberikan ini dengan cuma-cuma, alias konsumen harus membelinya terlebih dahulu. Aktivitas mulya. Tapi rasanya tidak efektif. Saya melihat tak satu pun konsumen yang pernah membeli kantong re-use itu datang belanja dengan membawa kembali kantong tersebut. Banyak aktivitas belanja dilakukan secara insidental. Artinya, konsumen ke luar rumah untuk beraktivitas, lalu tiba-tiba mempunyai ide untuk belanja. Sementara kantong plastik re-use yang sudah dibeli tak sempat dibawa. Tak efetktif, namun tetaplah patut dipuji. Jauh sebelum Carrefour melakukan kampanye go green, sebetulnya Makro, salah satu pusat perkulakan, pernah memperkenalkan model belanja minim kantong plastik yang lebih baik dari Carrefour. Kon...

US=Usep Sayang

Jika Anda memperhatikan judul terbaru album Krisdayanti, penyanyi tenar yang kita miliki, ia menamainya 'Krisdayanti'. Rasanya rada ganjil jika seorang penyanyi senior yang sudah sangat populer. Strategi menggunakan nama penyanyi sendiri untuk judul album bisanya hanya dilakukan oleh penyanyi-penyanyi baru. Mereka perlu melambungkan nama, makan sedapat mungkin namanya dijadikan judul album. Selama ini kita mengenal Krisdayanti dengan menyebutnya KD saja. untuk mempopulerkan nama KD, Krisdayanti menggunakan dua huruf singkatan namanya itu sebagai judul album yang pernah dipublikasikan. Dan sangat berhasil. Baik dari segi penjualan, maupun dari segi popularitas nama. Apalagi didukung dengan penampilan setiap minggu di Trans TV, KD Show. Kian membaptiskan bahwa KD adalah Krisdayanti. Beberapa waktu lalu, ada sebuah iklan obat penambah darah yang memplesetkan istilah KD menjadi Kurang Darah. Cerdik sekali. Dampaknya sangat luar biasa. Di kalangan medis, kini mereka menyebut 'ku...