Skip to main content

Posts

Showing posts with the label ECU

Pojok Jahanam

Saya namai 'pojok jahanam' kantor saya itu, tempat yang selama tiga tahun terakhir ini memberi saya kenyamanan untuk belajar dan bekerja untuk menyelesaikan thesis. Pojok yang akan selalu saya rindukan, tapi juga ingin buru-buru saya tinggalkan.

ECU Joondalup in A Morning

Barley in the Box

Kejar Tayang Thesis

Saya sempat sedih ketika riset supervisor saya menolak membaca thesis saya dan memberikan feedback hingga selesai sebelum tanggal 31 Maret. Saya merasa kerja keras saya sia-sia. Betapa tidak? Senin hingga Minggu, pagi hingga malam, pikiran dan tenaga saya kerahkan agar bisa fokus menyelesaikan thesis tepat waktu. Begitu thesis selesai, dia tak mendukung. Padahal, jika dia patuh terhadap timetable yang dia buat sendiri itu, sejak pertengahan Februari lalu mestinya thesis saya sudah selesai, seselesai-selesainya dan awal Maret lalu saya bisa serahkan ke kampus, dan sebelum tanggal 15 Maret, saya sudah berada di Jakarta. Namun, tidak saja saya harus memperpanjang visa, tapi saya malah dianjurkan perpanjang semester! Wtf! Tentu saja saya menolak keras. Bukan saja urusan biaya kuliah dan living cost, yang saya persoalkan adalah niat baik dari riset supervisor saya itu. Hal yang saya tuntut adalah tanggung jawab dia. Jika selama ini saya sudah bekerja keras, mengapa dia tak mau bekerja ...

Dia Telah Pergi

Kemarin Jumat, saya membantu packing seorang sahabat yang akan segera kembali ke tanah air setelah thesisnya selesai.

Pojok Jahanam

Suatu saat, saya akan mengenang dan mengangeni saat-saat seperti ini: mengerjakan thesis sambil mengasuh bayi. Dan Barley adalah bayi yang pengertian. Dia selalu tenang selama saya bekerja.

Minggu, Ke Kampus

Weekend, tetap ke kampus. Dan tetap bawa Basil. Percaya deh, tak banyak hal yang bisa saya lakukan karena anak ini sudah mulai besar, tak bisa lama-lama anteng mengerjakan satu hal. Bikin senewen. Padahal biasanya saya punya energi besar untuk belajar saat hari libur.

Basil Kuliah

Seorang mahasiswa PhD sedang presentasi proposal penelitian. Saya hadir bersama Basil yang terpaksa saya bawa karena Jumat bukan hari sekolah, dan istri saya kerja.

Orientasi Semester Pertama

Semester pertama tahun 2011 sudah dimulai. Masa orientasi ditandai dengan keriaan.

About ECU Joondalup Campus

Pemilu Senat di ECU

Beberapa hari ini saya terlibat dalam pencalonan anggota senat mahasiswa. Tiba-tiba saja tercemplung karena ide seorang sahabat. Well, selama kuliah dulu, saya tak berminat tergabung dalam sebuah organisasi resmi. Saya sangat suka kesibukan, tapi memilih yang tidak resmi. Lebih merdeka, bebas, tanpa protokoler. Jika sekarang bersedia tentu saja karena spirit saya untuk belajar segala sesuatu tentang Australia. Saya yakin suatu saat nanti akan berguna. Tiga hari pemilihan. Saat ini masih berlangsung. Tak banyak mahasiswa yang mau menyumbang suara ternyata. Mereka cuek saja dengan event ini. Salah satu tugas saya menyebarkan poster mengingatkan dan mengajak mereka untuk mau datang ke meja pemilihan. Urusan terpilih atau tidak, saya rasa tidak perlu dirisaukan. Saya hanya menjalani apa yang sudah saya mulai. Jika kelas jelas terpilih, baru saya pikirkan serius apa yang akan saya lakukan.

ECU Student Guild Voting

Sedang ada pemilihan ketua senat mahasiswa di kampus. Kebetulan saya lewat, saya sempatkan untuk berpartisipasi. Saya diminta untuk memilih dua dari lima kandidat yang tersedia. Setelah itu, kertas suara di masukkan ke dalam kotak. Meskipun saya tidak kenal satu pun dari para calon pemimpin itu, setidaknya saya punya pengalaman terlibat dalam pemilu gaya Australia, meskipun cuma setingkat kampus.

The Rainbow Flag

Ketika di Jakarta Q! Film Festival, acara pemutaran film bertema gay dan lesbian, dipersoalkan, di Perth, justeru bulan Oktober ini, yang disebut-sebut sebagai bulannya kaum gay dan lesbian dirayakan dengan dukungan banyak pihak. Tak tanggung-tanggung, empat universitas besar di Western Australia, seperti Edith Cowan University, Murdoch University, Curtin University, dan University of Western Australia, Selasa, 5 Oktober, secara serentak mengibarkan bendera pelangi sebagai simbol dukungan terhadap persamaan hak-hak kamu yang dianggap minoritas itu. Tak ada yang terusik. Mereka yang tak perduli, menganggap angin lalu. Mereka yang peduli, mungkin bersuka cita atau sekedar untuk tahu saja ada kegiatan itu. Tak harus jadi persoalan besar ternyata.

Halal Bihalal Muslim ECU

Kembali ke Kampus, Ganti Topik Penelitian

Kembali ke kampus setelah lebih dari satu bulan saya meninggalkan Australia, berjumpa buku dan jurnal, dan proposal yang baru saja saya ganti topiknya. Mulai dari nol lagi, tapi karena ini keputusan yang saya buat sendiri, saya pikir tak harus jadi beban. Saya harus sangat cermat memanfaatkan waktu karena konsentrasi saya otomatis terbagi karena keluarga sudah ada di Perth.

Lunch Bareng

Jarang-jarang punya waktu makan siang bareng dengan rekan-rekan sesama mahasiswa PhD asal Indonesia di ECU, di halaman kampus pula.

Ikuti Saran Supervisor Biar Tidak Linglung

Awalnya saya tidak sependapt dengan saran supervisor riset saya untuk mulai fokus bekerja pada satu topik. Saya tidak bisa bekerja dengan cara begitu. Saya lebih tertarik membaca banyak topik supaya bisa segera tahu permasalahan secara gamblang dan kemana riset saya akan diarahkan. Padahal tentu saja karena kurangnya pengalaman saya dalam membuat penelitian. Dua minggu hanya baca dan menulis satu topik benar-benar menyiksa. Dua minggu dari waktu yang dijadualkan, saya sama sekali tidak sungguh-sungguh mengerjakan apa yang seharusnya saya kerjakan. Tapi karena saya harus bertemu keesokan harinya, dengan sistem kebut semalam, syukurnya saya bisa datang dengan membawa progres. Bukan progres yang diarahkan beliau, melainkan progres sesuai dengan pola pikir saya. Saya anggap, ini projek saya, bagaimana saya bekerja, mestinya terserah saya, dong. Saat itu, supervisor saya menyerahkan sepenuhnya kepada saya. Apapun caranya, yang penting progres harus tetap ada. Dua minggu kedua, saya masih me...

ECU Suatu Sore

Biasanya, saya pulang kampus jika matahari sudah tidaktampak lagi. Kali ini karena bareng seorang sahabat, tidak ada salahnya pulang lebih awal. Sahabat saya ini dosen dari Universitas Brawijaya, kuliah S3 mendapat beasiswa dari Dikti. Sementara saya ke kampus tiap hari, dia cukup seminggu sekali. Terang saja, proposal yang dia buat sudah hampir jadi karena dia sudah berada di sini sejak satu semester lalu, jadinya bisa lebih santai.

Semester Pertama yang Berat

Mencari literature, baca, terus menuangkannya dalam tulisan untuk mendukung semua ide riset PhD rasanya bukan pekerjaan mudah buat saya. apalagi harus dalam bahasa Inggris dengan standar akademi global. Wuah... Serasa ingin jejeritan. Professor yang mestinya jadi supervisor saya sakit, lalu ditunjuklah seseorang yang lain. Ketika saya presentasi draf proposal, ada pergeseran kasus yang hendak diteliti. Karena pergeseran itu, saya harus membangun proposal dari awal lagi, dengan ide dan literatur baru. Exiting memang, tapi itu harus dibayar mahal dengan kerja tujuh hari seminggu berkutat dengan buku dan jurnal! Lalu saya berpikir ada baiknya juga belum membawa keluarga karena pasti mereka akan terabaikan. Fisik, pikiran, dan hati saya hanya untuk penelitian saat ini. Mungkin ketika memasuki semester kedua, mungkin akan lebih longgar. Tinggal mengumpulkan data dan mengolahnya. Tapi belum tahu juga. Saya menemukan sejumlah sahabat yang meskipun lebih dahulu satu semester dari saya, tapi ...

ECU Joondalup