Skip to main content

Posts

Showing posts with the label The Philippines

Back to Jakarta

Saatnya pulang, kembali ke Jakarta. Penerbangan jam sembilan, tapi belum jam enam sudah tiba di bandara Ninoy Aquino. Tak apa, daripada telat. Wow. Alhamdulillah, tuan rumah baik sekali. Mereka tak sekedar menyiapkan mobil dan sopirnya untuk mengantar saya ke bandara, tapi juga ikut mengantar. Luar biasa. Kadang says ragu bagaimana bisa membalas segala kebaikan mereka.

Kongres

Lupa, Lupa, Lagi

Musuh utama saya jika sedang berpergian bukanlah penjahat yang mungkin mau merampok, tapi sifat lupa. Dua hari sebelum berangkat ke Inggris, saya lupa meninggalkan harddisc di sebuah warnet di gedung Sarinah. Besok paginya saya datangi, benda itu sudah hilang entah kemana. Padahal banyak data penting ada di sana. Di hostel pertama yang saya inapi di Oxford, sabun tertinggal. Di Bath, saya beli sabun baru. Tertinggal juga. Di London beberapa hari mandi tidak pakai sabun, cukup pakai sampo saja. Tiba di Manchester, saya baru ngeh kalau adapter listrik tertinggal di London. Repot benar jika barang yang satu ini hilang. Beli baru bukanlah persoalan mudah. Selain mahal, pun mesti menunggu waktu toko buka yang kadang sangat siang dan buka sangat cepat. Untung ada teman sekamar yang bisa dipinjami dan sangat pas dengan kebutuhan saya. Semoga tidak ada barang-barang lagi yang tertinggal.

Sajak Manila

Hujan tak turun di Manila, mestinya, seharusnya, menurutku. Padahal desember telah melesak hingga ke ujung. Botol-botol champaigne telah disiapkan. Petasan telah disuarakan. Orang-orang bergegas menyiapkan pesta. Angin dengan bau puring terawang membalut dahagaku. Masih delapan persimpangan harus aku temui untuk segera tiba di kamar sewa. Seorang lelaki dengan tato ikan pari di kakinya. menengadah ketika langit tiba-tiba redup namun hujan tak juga turun di Manila. Manila adalah segerombolan jeepneys yang turun serentak di jalan-jalan ibarat pawai paskah di negeri-negeri latin. Menggerung mencabuti penumpang satu per satu dari segala arahan ke segala arah. Kabel-kabel telepon menjuntai kelelahan mencumbui kembang sepatu. Seorang perempuan dengan sol sepatu tebal bergegas. Di tangannya pita-pita berwarna emas dan sekeranjang cinta. Di persimpangan keempat atau kelima perjalananku menuju kamar sewa, yang pada satu bagiannya digenangi air namun bukan oleh hujan karena hujan tak tu...

Meeting New Friends at Fort Beneficio

Saya punya seorang kontak di Manila: Jun Nenada. Ini teman online saya dari Multiply. Dia penggemar fotografi dan olah digital. Karya-karya sangat menarik. Jun mengundang saya bertemu, kebetulan dia punya jadual bertemu dengan sejumlah kawannya, sama-sama penggemar bahkan ada yang berprofesi sebagai fotografer, dan mereka juga anggota dari Multiply. Pertemuannya di sebuah restoran di Fort Beneficio, kawasan di luar Makati. Kami bersepuluh. Meskipun restoran casual, tapi keamanan di sana ketat sekali. Seperti juga di semua tempat di Manila. Lebih-lebih dari Jakarta saya rasa. Tempat ini berisi kafe-kafe dengan beragam tema dan menu. Ngobrol sampai larut dengan berbotol-botol bir, ciri khas hang out mereka. Demi menghormati tuan rumah, saya ikut menenggak bir. Tapi belom separuh botol saja kepala sudah berasa kleyengan.

Manila Bay

Teluk Manila tidak sangat indah. Kotor, sama sekali tidak sedap dipandang mata. Tapi pemerintah setempat mengemasnya menjadi sesuatu yang bisa dijual. Setiap sore hingga malam, di sepanjang bibir teluk yang bertrotoar lebar, para pedagang makanan berjajar membuat suasana pesta sepanjang malam. Live band dan berbagai pertunjukan. Layaknya pasar malam. Di teluk itu pula berdiri bangunan Kedubes Amerika. Sayang, saya tak selalu berkesempatan untuk datang ke sana. Apalagi setelah terjadi penahanan terhadap diri saya oleh Kedubes Amerika, saya jadi paranoid.

Kembang Sepatu @Manila

Kembang sepatu atau sesuatu yang mirip dengan kembang sepatu, menjadi ikon bagi Metro Manila. Di setiap jengkal kota, image kembang sepatu dimunculkan dengan berbagai bentuk.

Post Office @Manila

Kantor Pos Besar Manila.

Teatro @Manila

Gedung teater ini bersebrangan dengan Kantor Pos Pusat Manila. Sayang sudah tak berfungsi lagi.

City Identity

Salah satu identitas kota, tutup drainage. Ini menunjukan saya sedang berada di mana: Manila.

Patung Kuda di SCBD Makati

Hampir di setiap sudut Metro Manila, bahkan Makati, patung-patung dengan thema atau yang menggambarkan tokoh tertentu dibangun untuk menyeimbangkan antara seni, sejarah negeri, dan dinamika kota.

Paco Park & Cemetary

Ini taman pekuburan, dipagari tembok tinggi berbentuk lingkaran seperti stadion bola. Sayang tak punya kesempatan masuk ke dalam taman ini. Sepertinya bagus. Hari itu, ada pesta pernikahan. Seharian penuh, taman di- booking .

Mesjid di Kawasan Muslim Manila

Di sebuah perkampungan kumuh di jantung Manila, sebuah mesjid berdiri. Di depan mesjid, merupakan pusat penjualan berbagai DVD dan VCD bajakan.

Sleeping Men @Manila

Banyak orang yang tak punya rumah di Manila. Bahkan mereka tidur di mana saja mereka mau, di kawasan dimana tak diusir oleh petugas keamanan.

Pasig River @Manila

Dengan sungai selebar ini, mestinya Manila bisa memiliki transportasi air untuk mengurasi ketergantungan masyarakatnya menggunakan jalan raya. Setidaknya, untuk konsumsi turis. Jika ada upaya ke arah sana, satu persatu usaha untuk membuat sungai dan kawasan di sepanjang sungai bersih dan indah akan dilakukan. Tentunya supaya turis suka dan senang berwisata. Apalagi sungai ini membiliki sejarah panjang tentang perjuangan bangsa Filipina. Saat ini, sungai dikotori oleh banyak eceng gondok. Sungai Pasig membelah kota Manila dan bermuara di teluk Manila. Salah satu daerah tujuan turis yang terletak di bibir sungai Pasig ini adalah Intramuros.

Eleven Minutes

Pada malam pertama tiba di Metro Manila, saya sempat jalan-jalan ke salah satu mal terbesar di Philippines, yang kokon, terbesar juga di Asia. Namanya Mall of Asia. Letaknya tak jauh dari hostel yang saya tinggali. Saya menemukan salah satu buku terbaru dari Paulo Coelho: Eleven Minutes. Sambil jika lelah jalan kaki berkeliling kota Manila, saya akan duduk di sebuah taman atau pedestrian yang lebar dan bersih. Melahap Coelho.

Move In to Malate

Saya pindah ke sebuah guesthouse di daerah Malate, Manila. Namanya Friendly Guesthouse di jalan Jose Nakpil. Ini benar-benar Manita City. Kawasan turis sejati. Banyak hotel dari yang mahal hingga kelas backpackers. Tempat makan, hiburan, mall. Karena dari sini emang sangat dekat kemana-mana. Tinggal jalan kaki saja. Dekat dermaga, dekat statsiun kereta. Saya ambil dorm, dengan 5 tempat tidur susun. Jika terisi penuh akan ada 10 tamu dalam satu kamar. Who cares? Yang penting kan murah. Saya hanya membayar P250 per malam.

Intramuros

Sebuah nama jalan yang berada di kawasan Intramuros. Intramuros adalah sebuah benteng kota tua Manila yang berumur tua. Didirikan oleh Spanyol. Namun benteng ini kemudian dihancurkan oleh tentara Jepang pada jaman Perang Dunia kedua.

Carolina Townhouse @Manila

Guesthouse di kawasan Baclaran, Roxas Blv. Saya pesan melalui internet dengan tarif sekitar 17 USD per malam. Tempat ini lebih dekat ke Ninoy Aquino Airport. Jauh dari mana-mana sehingga kalau mau kemana-mana mesti pakai taksi. Atas pertimbangan ini, setelah tiga malam menginap di sana saya putuskan untuk mencari hotel yang lebih murah. Seorang tamu dari Jerman memberi tahukan saya hotel di kawasan Malate. Ketika saya ditangkap di depan keduataan Amerika di Manila karena menenteng kamera, mereka sempat menghubungi hotel yang saya sebutkan ini. Saya dianggap berbohong karena nama saya tak terdaftar di sana. Tentu saja saya berang telah dituduh berbohong.

Jeepneys @Manila