Skip to main content

Tersesat di Subway

Begitu memasuki Grand Central Station, saya bertanya pada seorang bapak. Saya juga bertanya lagi pada bagian informasi, sebelum memasuki jalur agar lebih pasti. Jadi, saya boleh ambil subway nomor 4,5 atau 6, turun di 96th Station. Sebelumnya, saya sudah membeli MetroCard, tiket yang bisa saya gunakan selama saya berada di New York dengan deposit sejumlah nilai uang.

Semuanya terkesan sangat mudah: keluar bandara, ke stasiun, lalu ke hostel. Tapi, ternyata tidak begitu kejadiannya. Sebuah 'kecelakaan' pertama terjadi ketika saya menyadari bahwa saya keliru ambil kereta. Kereta yang saya naiki malah menjauhi tujuan. Saya salah mengambil jalur. 

Turun, lalu menyebrang ke jalur sebaliknya. Ketika siap-siap mau turun di stasiun tujuan, ternyata kereta tak berhenti. Saya turun lagi, ganti arah, ambil kereta lagi. Kata seorang ibu yang saya tanya, saya bisa ambil kereta express yang langsung berhenti di 96th Station atau bisa juga ambil yang lokal, tapi berhenti di tiap stasiun. Karena pertimbangan sudah malam, saya memilih kereta express. Eh, tenyata. Kereta ini tak juga berhenti di stasiun yang saya mau. Namun saya tak mau kebablasan lagi. Biarlah saya keluar, lalu saya jalan kaki saja.

Akhirnya, sepuluh blok harus saya lalui dengan berjalan kaki demi mencapai hostel. Langit masih benderang kendati sudah mendekati jam 9 malam. Well, this is summer. Matahari lebih lama beredar.

Mengantri kereta di Jalur 5

Setelah bablas, balik arah

Sepi. "Apa di sini aman?" tanya saya ke seorang ibu

Oops... terlewat jauh

Kali ini benar...

Comments

Popular posts from this blog

Billboard Udud

Pemprov DKI serius untuk menelikung para perokok aktif. Setelah mengeluarkan larangan merokok di beberapa kawasan, disusul dengan larangan beriklan bagi produsen rokok di jalan-jalan protokol. Mestinya, mulai Maret lalu, billboard iklan rokok yang semarak di sepanjang Sudirman, Gatot Subroto, dll itu tak sudah tak boleh lagi terpasang. Namun, pengecualian bagi pemasang iklan yang masa tayangnya belum habis, ditunggu hingga akhir masa kontrak. Sesederhana itukah? Seperti bisa ditebak, larangan-larangan apa pun yang diberlakukan pasti selalu diikuti sebuah koalisi kolusi. Tak ada hukuman bagi pengiklan iklan yang masih memasang billboardnya di sana walaupun tenggang waktu sudah terlewat. Yang terjadi adalah, adanya perpanjangan kontrak sebelum tenggang waktu itu habis. Sehingga iklan-iklan rokok itu akan terus terpasang selama masa kontrak yang diperpanjang. Jika perlu, kontrak untuk jangka waktu hingga masa kepemimpinan Sutiyoso berakhir. Sambil berharap, pemerintah provinsi yang baru a...

Payudara di Televisi Kita

Stasiun televisi kita, makin sering menampilkan program tv dengan bumbu payudara. Mungkin untuk menarik minat penonton. Semakin banyak penonton yang menyaksikan tayangan-tayangan mereka, rating acara akan membumbung, dan pengiklan datang. Namanya kompetisi, ya, bo. Tengok saja panggung dangdut, panggung penari, peragaan busana, hingga seserahan sambutan pun tak luput dari sajian payudara. Beberapa siaran langsung, lainnya siaran tunda. Katakan, 'munculnya' payudara di acara tersebut adalah sebuah insiden. Sangat maklum jika kejadian tersebut terjadi pada siaran langsung. Namun jika tayangan itu bukan langsung dan masih juga kecolongan? Please, deh. Jika peristiwa-peristiwa itu memang tak dikehendaki bersama, demi amannya, apa sebaiknya pihak stasiun membuat rambu-rambu khusus perihal busana seperti apa saja yang boleh digunakan oleh siapapun yang akan disorot kamera? Tentunya tanpa harus memasung demokrasi berekpresi.

Kuatir Kolesterol

Gara-gara makan daging giling yg saya buat camilan untuk dinner, tahu-tahu saya berasa pening. Leher bagian belakang cenut-cenut. Saya minum, lalu berhenti sebentar. Agak mendingan. Untuk memastikan itu disebabkan karena saya makan daging, saya kembali santap makanan ringan yang saya buat itu. Lagi, pening dan cenut-cenut. Langsung saya stop. Jangan-jangan kolesterol? Saya langsung mencari informasi apabila seseorang memiliki kolesterol tinggi. Kuatir dampaknya: stroke dan jantung. Menurut artikel yang saya baca, gejala yang saya alami menunjukkan tanda-tanda kelebihan kolesterol. Ngek ngok. Meskipun saya sudah sangat hati-hati menjaga makanan. Apalagi, saya sangat kurang berolah raga. Pekerjaan saya jalan kaki dari pagi sampai sore tiga hari seminggu, tapi apa itu cukup?  Saya harus mulai memperhatikan makanan yang saya santap supaya kesehatan saya tetap prima secara usia sudah tak lagi muda. Iya kalo pendek umur, bagaimana jika panjang umur tapi sakit-sakitan?