Skip to main content

Berparasut di Tol

Mimpi. Saya lagi dalam perjalanan Bogor-Jakarta lewat tol Jagorawi.Saya mengendari sebuah sedan, dan anggota keluarga saya lengkap di dalamnya. Jalanan padat. Lalu saya menyadari bahwa mobil saya berparasut. Dalam pikiran saya, mobil yang saya kendarai tak akan bergerak jika tanpa parasust. Aneh, ya. 

Tiba-tiba, parasut tidak mengembang. Saya putuskan saya yang pegang parasut itu. Ini pun tidak bekerja dengan baik. bahkan parasut nyungsep ke pinggir tol. Tak lama saya mendengar suara benda berat terjatuh. Lewat kaca spion saya melihat ada pemotor yang tergeletak jatuh. Saya berpikiran sayalah yang menyebabkan motor dan pengendaranya jatuh. Lalu saya menepi. 

Kaget luar biasa. Saya menunggu perkembangan. Bingung juga apa saya yang benar-benar telah menyebabkan motor itu jatuh? Sementara itu, saya berusaha menarik dan merapikan parasut. Sambil itu, saya melihat sebuah lubang besar menganga, semacam galian industri untuk pengeboran minyak. Saya tidak terlalu memperhatikan lebih lanjut. Saya sedang panik dengan kecelakaan di belakang mobil saya yang sepertinya telah menarik perhatian banyak pengemudi lain itu. Lagian, sesal saya, sepeda motor kok masuk tol.

Begitu saya tiba di mobil, sambil membawa lipatan parasut, isteri bilang. Ada kabar, katanya, salah seorang keponakan saya meninggal. Sudah berkeluarga, beranak dua, masih muda. Plung, sayang terbangun. 

Comments

Popular posts from this blog

Billboard Udud

Pemprov DKI serius untuk menelikung para perokok aktif. Setelah mengeluarkan larangan merokok di beberapa kawasan, disusul dengan larangan beriklan bagi produsen rokok di jalan-jalan protokol. Mestinya, mulai Maret lalu, billboard iklan rokok yang semarak di sepanjang Sudirman, Gatot Subroto, dll itu tak sudah tak boleh lagi terpasang. Namun, pengecualian bagi pemasang iklan yang masa tayangnya belum habis, ditunggu hingga akhir masa kontrak. Sesederhana itukah? Seperti bisa ditebak, larangan-larangan apa pun yang diberlakukan pasti selalu diikuti sebuah koalisi kolusi. Tak ada hukuman bagi pengiklan iklan yang masih memasang billboardnya di sana walaupun tenggang waktu sudah terlewat. Yang terjadi adalah, adanya perpanjangan kontrak sebelum tenggang waktu itu habis. Sehingga iklan-iklan rokok itu akan terus terpasang selama masa kontrak yang diperpanjang. Jika perlu, kontrak untuk jangka waktu hingga masa kepemimpinan Sutiyoso berakhir. Sambil berharap, pemerintah provinsi yang baru a...

Payudara di Televisi Kita

Stasiun televisi kita, makin sering menampilkan program tv dengan bumbu payudara. Mungkin untuk menarik minat penonton. Semakin banyak penonton yang menyaksikan tayangan-tayangan mereka, rating acara akan membumbung, dan pengiklan datang. Namanya kompetisi, ya, bo. Tengok saja panggung dangdut, panggung penari, peragaan busana, hingga seserahan sambutan pun tak luput dari sajian payudara. Beberapa siaran langsung, lainnya siaran tunda. Katakan, 'munculnya' payudara di acara tersebut adalah sebuah insiden. Sangat maklum jika kejadian tersebut terjadi pada siaran langsung. Namun jika tayangan itu bukan langsung dan masih juga kecolongan? Please, deh. Jika peristiwa-peristiwa itu memang tak dikehendaki bersama, demi amannya, apa sebaiknya pihak stasiun membuat rambu-rambu khusus perihal busana seperti apa saja yang boleh digunakan oleh siapapun yang akan disorot kamera? Tentunya tanpa harus memasung demokrasi berekpresi.

Kuatir Kolesterol

Gara-gara makan daging giling yg saya buat camilan untuk dinner, tahu-tahu saya berasa pening. Leher bagian belakang cenut-cenut. Saya minum, lalu berhenti sebentar. Agak mendingan. Untuk memastikan itu disebabkan karena saya makan daging, saya kembali santap makanan ringan yang saya buat itu. Lagi, pening dan cenut-cenut. Langsung saya stop. Jangan-jangan kolesterol? Saya langsung mencari informasi apabila seseorang memiliki kolesterol tinggi. Kuatir dampaknya: stroke dan jantung. Menurut artikel yang saya baca, gejala yang saya alami menunjukkan tanda-tanda kelebihan kolesterol. Ngek ngok. Meskipun saya sudah sangat hati-hati menjaga makanan. Apalagi, saya sangat kurang berolah raga. Pekerjaan saya jalan kaki dari pagi sampai sore tiga hari seminggu, tapi apa itu cukup?  Saya harus mulai memperhatikan makanan yang saya santap supaya kesehatan saya tetap prima secara usia sudah tak lagi muda. Iya kalo pendek umur, bagaimana jika panjang umur tapi sakit-sakitan?