Skip to main content

Anak Perawanku Mengandung

Menikah secara mendadak bisa menimbulkan berbagai spekulasi. Hamil, misalnya. Seorang sahabat isteri saya bertanya sambil bisik-bisik sebelum hari pernikahan. "Hamil, ya?" Bahkan salah seorang anggota keluarganya menanyakan hal yang sama.

Saya sempat sangat bersyukur karena tak sampai ada yang bertanya-tanya seperti itu langsung ke saya. Selain tak siap dengan jawabannya, saya memang tak terpikirkan akan ada orang yang benar-benar tega mengajukan pertanyaan demikian. Saya berasumsi, keluarga dan sahabat-sahabat saya yang sangat terbuka itu tak memiliki prasangka ke arah itu.

Namun setelah hari pernikahan, seorang sahabat saya menghampiri. Sambil mengucapkan selamat, ia juga bertanya apakah mendadaknya acara pernikahan saya karena kehamilan Untung saja mood saya sangat baik waktu itu.

Ah, saya tak perlu buang energi untuk melayani prasangka-prasangka. Jika benar hal itu terjadi, Ibu saya mungkin akan sangat terpukul. Sambil ia akan merintih membacakan puisi seperti berikut:

anak perawanku mengandung dan aku linglung
serasa membubur tulang di sekujur tubuh
tak hingga udara di paru-paru
anak perawanku mengandung dan aku malu
berapa tinggi wajah dapat kutengadahkan
berapa lebar jendela rumah dapat kubentangkan
anak perawanku mengandung bumiku pilu
langit sewarna jelaga mentari terkubur perdu
betapa indah kado yang kau berikan padaku gusti
betapa istimewa derajat kau limpahi

Comments

Popular posts from this blog

Billboard Udud

Pemprov DKI serius untuk menelikung para perokok aktif. Setelah mengeluarkan larangan merokok di beberapa kawasan, disusul dengan larangan beriklan bagi produsen rokok di jalan-jalan protokol. Mestinya, mulai Maret lalu, billboard iklan rokok yang semarak di sepanjang Sudirman, Gatot Subroto, dll itu tak sudah tak boleh lagi terpasang. Namun, pengecualian bagi pemasang iklan yang masa tayangnya belum habis, ditunggu hingga akhir masa kontrak. Sesederhana itukah? Seperti bisa ditebak, larangan-larangan apa pun yang diberlakukan pasti selalu diikuti sebuah koalisi kolusi. Tak ada hukuman bagi pengiklan iklan yang masih memasang billboardnya di sana walaupun tenggang waktu sudah terlewat. Yang terjadi adalah, adanya perpanjangan kontrak sebelum tenggang waktu itu habis. Sehingga iklan-iklan rokok itu akan terus terpasang selama masa kontrak yang diperpanjang. Jika perlu, kontrak untuk jangka waktu hingga masa kepemimpinan Sutiyoso berakhir. Sambil berharap, pemerintah provinsi yang baru a...

Payudara di Televisi Kita

Stasiun televisi kita, makin sering menampilkan program tv dengan bumbu payudara. Mungkin untuk menarik minat penonton. Semakin banyak penonton yang menyaksikan tayangan-tayangan mereka, rating acara akan membumbung, dan pengiklan datang. Namanya kompetisi, ya, bo. Tengok saja panggung dangdut, panggung penari, peragaan busana, hingga seserahan sambutan pun tak luput dari sajian payudara. Beberapa siaran langsung, lainnya siaran tunda. Katakan, 'munculnya' payudara di acara tersebut adalah sebuah insiden. Sangat maklum jika kejadian tersebut terjadi pada siaran langsung. Namun jika tayangan itu bukan langsung dan masih juga kecolongan? Please, deh. Jika peristiwa-peristiwa itu memang tak dikehendaki bersama, demi amannya, apa sebaiknya pihak stasiun membuat rambu-rambu khusus perihal busana seperti apa saja yang boleh digunakan oleh siapapun yang akan disorot kamera? Tentunya tanpa harus memasung demokrasi berekpresi.

Bertemu Yesus

Sambil menunggu tukang yang akan bekerja di rumah, saya terlelap. Dua orang perempuan yang wajahnya sangat saya ingat mengetuk pintu. Mereka memperkenalkan diri sebagai murid-murid kajian Al Kitab dari sekte Saksi Yehua. Sejujurnya, nama itu baru saya dengar. Mungkin karena saya berada di luar komunitas kristiani, makanya tak terlalu perhatian pada hal demikian. Dua orang tukang datang dan dengan berisiknya bekerja. Saya tetap menerima dua tamu yang katanya mau mengabarkan berita gembira kepada siapapun. Ah, namanya tamu, tentu saya akan menerimanya dengan senang hati. Saya tak ingin berburuk sangka dengan apa yang mereka lakukan. Kristenisasi? Injilisasi? Saya tak mau apriori. Saat ini saya merasa telah menemukan kembali iman saya setelah bertahun-tahun menyublim. Lama saya telah bertualang dari satu keyakinan ke keyakinan lainnya. Jadi meskipun saya mendengar satu dua ayat tentang apapun dari pengabar manapun, insyaallah, tak akan menggoyahkan iman. Mulailah dua perempuan itu berceri...