Skip to main content

Memahami arti "Ketekunan"

Saya kira saya mendapat sebuah pelajaran berharaga dari kerja saya sebagai interviewer di sebuah perusahaan market research di Perth sini: ketekunan.

Dua hari pertama saya bekerja: masuk pemukiman, dimulai dari alamat tertentu yang sudah ditentukan. Pintu harus diketuk atau jika ada bel, tekan. Tunggu hingga satu atau dua menit, jika tidak ada balasan, artinya rumah kosong. Jika ada, berdoa saja semoga orang yang membukan pintu mau diwawancarai. Ternyata lebih banyak yang menolak. Rumah berikutnya begitu pula, hingga rumah terakhir dari sebuah blok, lalu pindah ke blok lain.

Matahari kadang terik, kadang sangat terik. Sesekali hujan. Tapi kuota empat orang dalam satu kawasan harus terpenuhi. Mulai dari jam 10 pagi hingga jam 4 sore. Dua hari pertama berlalu, perasaan pesimis mulai menipis. Sore itu semangat saya bekerja mulai berkibar. Padahal saya sempat kesal dengan diri saya mengapa saya lamar atau saya ambil pekerjaan yang tampaknya menyebalkan ini.

Hari ketiga, mestinya digunakan untuk hari cadangan jika kuota di hari pertama dan kedua tidak tercapai, baru hari ketiga saya turun lagi. Tapi karena kuota di dua kawasan sudah saya penuhi, saya tak perlu bekerja lagi. Seorang interviewer lain, dengan satu alasan meminta saya membantu dia. Jadilah saya turun ke lapangan lagi. Tak apa, mumpung saya sedang bersemangat. Luar biasa, hari ketiga ini saya cuma menghabiskan dua jam di lapangan! Hari-hari bertikutnya pun ternyata hanya memakan dua hingga tiga jama saja. Ha, ternyata saya mendapatkan progres yang luar biasa dalam mengefisiensi pekerjaan.

Ketekunan. Mungkin kata klise yang paling sering jadi buah nasehat orang tua atau orang sukses. Tapi saya benar-benar menyadari arti sesungguhnya dari kata itu setelah menjalani pekerjaan sekarang. Tekun. Tekun. Tekun. Terus saja mengetuk pintu: biarpun ditolak, biarpun cuaca sangat kurang bersahabat. Belum lagi salah-salah saat mengisi form, membuat laporan, dan dalam memilih responden yang tepat. Namun jika ada ketekunan, ternyata di sana ada jalan. Hadapi semua tantangan. Mengeluh boleh saja, namun jangan sampai menyurutkan langkah. Hidup adalah perjuangan. Bekerja juga bagian dari berjuang. Tidak menyerah. Jangan menyerah. Meskipun awalnya pekerjaan itu tidak saya suka, namun jika dengan ketekunan menjalaninya, alhamdulillah, saya bisa merasakan hasilnya. Setiap tengah minggu, saya bisa mendapatkan supply uang tambahan untuk mengurangi ketergantungan pada uang beasiswa yang ala kadanya.




Comments

Popular posts from this blog

Billboard Udud

Pemprov DKI serius untuk menelikung para perokok aktif. Setelah mengeluarkan larangan merokok di beberapa kawasan, disusul dengan larangan beriklan bagi produsen rokok di jalan-jalan protokol. Mestinya, mulai Maret lalu, billboard iklan rokok yang semarak di sepanjang Sudirman, Gatot Subroto, dll itu tak sudah tak boleh lagi terpasang. Namun, pengecualian bagi pemasang iklan yang masa tayangnya belum habis, ditunggu hingga akhir masa kontrak. Sesederhana itukah? Seperti bisa ditebak, larangan-larangan apa pun yang diberlakukan pasti selalu diikuti sebuah koalisi kolusi. Tak ada hukuman bagi pengiklan iklan yang masih memasang billboardnya di sana walaupun tenggang waktu sudah terlewat. Yang terjadi adalah, adanya perpanjangan kontrak sebelum tenggang waktu itu habis. Sehingga iklan-iklan rokok itu akan terus terpasang selama masa kontrak yang diperpanjang. Jika perlu, kontrak untuk jangka waktu hingga masa kepemimpinan Sutiyoso berakhir. Sambil berharap, pemerintah provinsi yang baru a...

Payudara di Televisi Kita

Stasiun televisi kita, makin sering menampilkan program tv dengan bumbu payudara. Mungkin untuk menarik minat penonton. Semakin banyak penonton yang menyaksikan tayangan-tayangan mereka, rating acara akan membumbung, dan pengiklan datang. Namanya kompetisi, ya, bo. Tengok saja panggung dangdut, panggung penari, peragaan busana, hingga seserahan sambutan pun tak luput dari sajian payudara. Beberapa siaran langsung, lainnya siaran tunda. Katakan, 'munculnya' payudara di acara tersebut adalah sebuah insiden. Sangat maklum jika kejadian tersebut terjadi pada siaran langsung. Namun jika tayangan itu bukan langsung dan masih juga kecolongan? Please, deh. Jika peristiwa-peristiwa itu memang tak dikehendaki bersama, demi amannya, apa sebaiknya pihak stasiun membuat rambu-rambu khusus perihal busana seperti apa saja yang boleh digunakan oleh siapapun yang akan disorot kamera? Tentunya tanpa harus memasung demokrasi berekpresi.

Out of The Box

Saya sedang tidak berminat berpaguyuban. Saya ingin banyak meluangkan waktu sendiri. Melakukan banyak hal yang berbeda dari biasanya, menemukan komunitas baru, dan lain sebagainya. Pelan-pelan saya melepaskan ketergantungan dari riuhnya pertemanan yang hiruk pikuk: bergerombol di cafe, bergerombol di club, bergerombol di bioskop. Waktu seperti menguap tanpa kualitas. Belakangan, saya jadi punya banyak waktu untuk mengecilkan lingkar perut, banyak waktu untuk membaca buku, membiarkan diri saya melebur dengan komunitas dan teman-teman baru, dan yang lebih penting, saya bisa punya waktu untuk mengamati diri saya. Sekedar merubah pola.