Skip to main content

Bicara dengan Bahasa yang Sama




Walaupun bukan yang paling penting, namun bergaul dengan orang-orang yang memiliki latar belakang yang sama adalah penting. Jika kau merasa bodoh, bergaullah dengan kelompok orang bodoh. Jika kau miskin, bergaulah dengan kelompok orang miskin. Jika kau tidak setia pada pasangan, bergaulah dengan kelompok orang yang tidak setia pada pasangan.

Jika kau memiliki kekayaan berlimpah dibandingkann orang-orang dalam kelompokmu, sementara kau ingin bergaul dengan orang-orang yang untuk hidup saja pas-pasan, maka turunkan standarmu. Kau tak bisa mengajak teman-temanmu fine dine setiap kali makan malam, bukan? Terang saja teman-temanmu akan malu untuk sekedar bilang tak punya uang, ia akan merogoh uang sama banyaknya denganmu untuk membayar makan malamnya. Buatmu, uang sebanyak itu hanya recehan. Tapi buat teman-temanmu, itu sewa kamar bulan depan!

Kau orang yang mengagungkan kesetiaan sementara kau ingin bergaul dengan orang-orang berselingkuh, maka turunkan standar moralmu supaya bisa memahami dan mengerti mengapa orang-orang itu berselingkuh tanpa kau harus setuju dengan cara-cara hidup yang dijalani orang-orang itu. Jika kau merasa mereka najis, jauhi saja. Tanpa harus melukai. Jangan kau seolah simpati, namun dibelakang kau mencibir.

Jika kau pintar, sementara kau ingin bergaul dengan orang-orang yang tidak pintar, turunkan standarmu. Kau tak bisa sepanjang pertemuan mendominasi percakapan hingga orang-orang berkesimpulan bahwa dengan keahlian bicara mestinya kau mendapatkan kehidupan yang lebih layak dari apa yang kau miliki sekarang.

Kau seorang homoseks ingin bergaul dengan orang-orang heteroseks, maka simpan homoseksualitasmu. Karena di saat kau sedang bersama mereka, orang-orang hetero itu, akan jijik mendengar cerita cinta sejenismu. Jika pun mereka seolah tertarik mendengarkan, mereka hanya ingin mendapatkan informasi tentang kau hingga mereka mendapatkan bahan menarik untuk mereka bicarakan selagi kau tidak ada. Mereka akan berpikir kau makhluk termalang yang pernah dilahirkan. Sambil kemudian melihat diri sendiri, betapa beruntung dirinya walaupun usia menjelang senja belum berumah tangga namun terlahir sebagai heteroseks.

Kau memiliki jabatan tinggi di kantormu, ingin bergaul dengan teman-teman yang jabatannya biasa saja. Maka kau harus turunkan standarmu. Teman-temanmu bukan anak buahmu. Mereka tak bisa kau perlakukan semena-mena.

Kau cantik, sementara teman-temanmu buruk rupa. Maka kau harus turunkan standarmu. Kau tak bisa bicarakan harga kosmetikmu yang berdigit-digit sementara teman-temanmu lebih mementingkan inner beauty.

Maka bicaralah dengan bahasa yang sama. Supaya jurang perbedaan tak lebar meregang. Jika perbedaan itu diperlukan ada, dewasalah.

Comments

Popular posts from this blog

Billboard Udud

Pemprov DKI serius untuk menelikung para perokok aktif. Setelah mengeluarkan larangan merokok di beberapa kawasan, disusul dengan larangan beriklan bagi produsen rokok di jalan-jalan protokol. Mestinya, mulai Maret lalu, billboard iklan rokok yang semarak di sepanjang Sudirman, Gatot Subroto, dll itu tak sudah tak boleh lagi terpasang. Namun, pengecualian bagi pemasang iklan yang masa tayangnya belum habis, ditunggu hingga akhir masa kontrak. Sesederhana itukah? Seperti bisa ditebak, larangan-larangan apa pun yang diberlakukan pasti selalu diikuti sebuah koalisi kolusi. Tak ada hukuman bagi pengiklan iklan yang masih memasang billboardnya di sana walaupun tenggang waktu sudah terlewat. Yang terjadi adalah, adanya perpanjangan kontrak sebelum tenggang waktu itu habis. Sehingga iklan-iklan rokok itu akan terus terpasang selama masa kontrak yang diperpanjang. Jika perlu, kontrak untuk jangka waktu hingga masa kepemimpinan Sutiyoso berakhir. Sambil berharap, pemerintah provinsi yang baru a...

Payudara di Televisi Kita

Stasiun televisi kita, makin sering menampilkan program tv dengan bumbu payudara. Mungkin untuk menarik minat penonton. Semakin banyak penonton yang menyaksikan tayangan-tayangan mereka, rating acara akan membumbung, dan pengiklan datang. Namanya kompetisi, ya, bo. Tengok saja panggung dangdut, panggung penari, peragaan busana, hingga seserahan sambutan pun tak luput dari sajian payudara. Beberapa siaran langsung, lainnya siaran tunda. Katakan, 'munculnya' payudara di acara tersebut adalah sebuah insiden. Sangat maklum jika kejadian tersebut terjadi pada siaran langsung. Namun jika tayangan itu bukan langsung dan masih juga kecolongan? Please, deh. Jika peristiwa-peristiwa itu memang tak dikehendaki bersama, demi amannya, apa sebaiknya pihak stasiun membuat rambu-rambu khusus perihal busana seperti apa saja yang boleh digunakan oleh siapapun yang akan disorot kamera? Tentunya tanpa harus memasung demokrasi berekpresi.

Out of The Box

Saya sedang tidak berminat berpaguyuban. Saya ingin banyak meluangkan waktu sendiri. Melakukan banyak hal yang berbeda dari biasanya, menemukan komunitas baru, dan lain sebagainya. Pelan-pelan saya melepaskan ketergantungan dari riuhnya pertemanan yang hiruk pikuk: bergerombol di cafe, bergerombol di club, bergerombol di bioskop. Waktu seperti menguap tanpa kualitas. Belakangan, saya jadi punya banyak waktu untuk mengecilkan lingkar perut, banyak waktu untuk membaca buku, membiarkan diri saya melebur dengan komunitas dan teman-teman baru, dan yang lebih penting, saya bisa punya waktu untuk mengamati diri saya. Sekedar merubah pola.