Skip to main content

Airasia, My First


















Sabtu, 23 Desember, penerbangan Cengkareng ke Kuala Lumpur. Ini pertama kali saya menggunakan Airasia. Tak seperti yang saya risaukan mengenai penerbangan murah. Semua tampak baik.

Mulai hari ini hingga tanggal 3 Januari kelak, saya berencana mengunjungi Malaysia dan Philippines. Tujuan utama sebetulnya adalah Philippines. Malaysia hanya tempat untuk transit.Maklum saja karena tak ada penerbangan Airasia dari Jakarta langsung ke Manila.

Tiba di Cengkareng, saya tak tahu mesti ke terminal berapa. Sopir taksi yang mengantar saya pun tidak tahu. Saya sampai harus menelpon seorang sahbat yang baru beberapa minggu lalu ke Vietnam dengan Airasia. Katanya: Terminal 1B.

Maka melajulah taksi ke terminal yang disebut. Tapi tak ada tanda-tanda bahwa pesawat mendarat di sana. Ketika saya beranya sama seorang satpam di sana, tahunya Airasia menempati terminal 1A. Maka taksi harus berputar.

Saya harus divonis keliru lagi karena ternyata, saya harus pergi ke terminal 2 untuk penerbangan luar negeri! Padahal tinggal 60 menit lagi menuju jam keberangkatan! Saya harus bergegas mencari tumpangan. Mana satpam melarang saya menggunakan taksi. Dia malah menyarankan saya untuk mengambil bis Damri saja. Oh, mana mungkin. Saya perlu cepat!

Maka setelah sedikit berargumen, permintaan saya diluluskan untuk menggunakan taksi. Semua orang ikut panik. Dari mulai satpam, penjaga tiket, hingga petugas check in. Untunglah, semua lancar.

Comments

Popular posts from this blog

Billboard Udud

Pemprov DKI serius untuk menelikung para perokok aktif. Setelah mengeluarkan larangan merokok di beberapa kawasan, disusul dengan larangan beriklan bagi produsen rokok di jalan-jalan protokol. Mestinya, mulai Maret lalu, billboard iklan rokok yang semarak di sepanjang Sudirman, Gatot Subroto, dll itu tak sudah tak boleh lagi terpasang. Namun, pengecualian bagi pemasang iklan yang masa tayangnya belum habis, ditunggu hingga akhir masa kontrak. Sesederhana itukah? Seperti bisa ditebak, larangan-larangan apa pun yang diberlakukan pasti selalu diikuti sebuah koalisi kolusi. Tak ada hukuman bagi pengiklan iklan yang masih memasang billboardnya di sana walaupun tenggang waktu sudah terlewat. Yang terjadi adalah, adanya perpanjangan kontrak sebelum tenggang waktu itu habis. Sehingga iklan-iklan rokok itu akan terus terpasang selama masa kontrak yang diperpanjang. Jika perlu, kontrak untuk jangka waktu hingga masa kepemimpinan Sutiyoso berakhir. Sambil berharap, pemerintah provinsi yang baru a...

Payudara di Televisi Kita

Stasiun televisi kita, makin sering menampilkan program tv dengan bumbu payudara. Mungkin untuk menarik minat penonton. Semakin banyak penonton yang menyaksikan tayangan-tayangan mereka, rating acara akan membumbung, dan pengiklan datang. Namanya kompetisi, ya, bo. Tengok saja panggung dangdut, panggung penari, peragaan busana, hingga seserahan sambutan pun tak luput dari sajian payudara. Beberapa siaran langsung, lainnya siaran tunda. Katakan, 'munculnya' payudara di acara tersebut adalah sebuah insiden. Sangat maklum jika kejadian tersebut terjadi pada siaran langsung. Namun jika tayangan itu bukan langsung dan masih juga kecolongan? Please, deh. Jika peristiwa-peristiwa itu memang tak dikehendaki bersama, demi amannya, apa sebaiknya pihak stasiun membuat rambu-rambu khusus perihal busana seperti apa saja yang boleh digunakan oleh siapapun yang akan disorot kamera? Tentunya tanpa harus memasung demokrasi berekpresi.

Kuatir Kolesterol

Gara-gara makan daging giling yg saya buat camilan untuk dinner, tahu-tahu saya berasa pening. Leher bagian belakang cenut-cenut. Saya minum, lalu berhenti sebentar. Agak mendingan. Untuk memastikan itu disebabkan karena saya makan daging, saya kembali santap makanan ringan yang saya buat itu. Lagi, pening dan cenut-cenut. Langsung saya stop. Jangan-jangan kolesterol? Saya langsung mencari informasi apabila seseorang memiliki kolesterol tinggi. Kuatir dampaknya: stroke dan jantung. Menurut artikel yang saya baca, gejala yang saya alami menunjukkan tanda-tanda kelebihan kolesterol. Ngek ngok. Meskipun saya sudah sangat hati-hati menjaga makanan. Apalagi, saya sangat kurang berolah raga. Pekerjaan saya jalan kaki dari pagi sampai sore tiga hari seminggu, tapi apa itu cukup?  Saya harus mulai memperhatikan makanan yang saya santap supaya kesehatan saya tetap prima secara usia sudah tak lagi muda. Iya kalo pendek umur, bagaimana jika panjang umur tapi sakit-sakitan?