Skip to main content

Bila Korupsi Itu Wajib Hukumnya


Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan yang pernah menjabat dari tahun 2002 hingga 2004, baru saja resmi dijadikan tersangka kasus korupsi. Percayalah, jika beliau mendapatkan posisi itu berkat pengabdiannya sebagai perintis karir di pemerintahan, praktik korupsi yang dilakukannya karena kebiasan yang terus ia pelihara selama masa karirnya itu. Jika praktik korupsi itu baru saja beliau lakukan dan tertangkap, tak mungkin beliau akan memepertaruhkan hidup, sisa umur, keluarga, dan reputasinya sekedar demi uang.

Jika beliau berasal dari partai politik, besar dugaan karena partai tempatnya bernaung itu yang mendorongnya melakukan praktik korupsi. Beliau dan juga pejabat partai lainnya yang duduk di pemerintahan telah dijadikan tambang emas dan sapi perahan partai. Orang-orang ini memiliki keharusan untuk menyumbang pundi-pundi partai demi kelangsungan hidup partai. Orang-orang itu akan melakukannya sebagai bentuk terima kasih dan tanggung jawab. Kasihan. Kiranya para pejabat partai perlu juga diajukan sebagai saksi di pengadilan.

Seorang sahabat suatu ketika berbisik. Perusahaan tempatnya bekerja perlu menyediakan uang cash bermilyar-milyar agar proyeknya yang nyaris buntu agar terus berjalan. Agar terus berjalan ini perlu tanda tangan dari sebuah panita khusus yang dibentuk oleh DPRD. Bayangkan, jika jumlah panitia khusus saja lebih dari 20 orang sementara stiap orang meminta jatah 1 milyar, berapa besar uang yang harus digelontorkan? Dan jika mereka minta uang kontan agar sulit terlacak, berpa karung yang mesti disiapkan? Saya belum bisa membayangkan.

Sahabat saya yang lain, bercerita. Atasannya yang orang asing, bukan senang ketika mendapat sebuah proyek dari lembaga DPR. Ia justeru geram. Ia dan semua orang asing di kantornya, tak suka berbisnis dengan uang pelicin. Nilai kontrak yang diajukan, menggelembung berlapis-lapis, sejumlah lapis birokrasi yang ada di lembaga tertinggi itu.

Cerita sahabat saya itu, disambung oleh sahabat lainnya. Ia pernah berbisnis dengan lembaga kepolisian dan sebuah perguruan tinggi di kawasan Jakarta Barat. Kasus sama pun terjadi. Jika ingin bertahan dalan dunia bisnis, praktik korupsi menjadi wajib hukumnya.

Maka saya selalu bersyukur dahulu pernah berhenti menjadi tenaga pemasaran karena demi target penjualan, saya harus berkompromi dengan tikus-tikus rakus dari berbagai lembaga.

Comments

Popular posts from this blog

Billboard Udud

Pemprov DKI serius untuk menelikung para perokok aktif. Setelah mengeluarkan larangan merokok di beberapa kawasan, disusul dengan larangan beriklan bagi produsen rokok di jalan-jalan protokol. Mestinya, mulai Maret lalu, billboard iklan rokok yang semarak di sepanjang Sudirman, Gatot Subroto, dll itu tak sudah tak boleh lagi terpasang. Namun, pengecualian bagi pemasang iklan yang masa tayangnya belum habis, ditunggu hingga akhir masa kontrak. Sesederhana itukah? Seperti bisa ditebak, larangan-larangan apa pun yang diberlakukan pasti selalu diikuti sebuah koalisi kolusi. Tak ada hukuman bagi pengiklan iklan yang masih memasang billboardnya di sana walaupun tenggang waktu sudah terlewat. Yang terjadi adalah, adanya perpanjangan kontrak sebelum tenggang waktu itu habis. Sehingga iklan-iklan rokok itu akan terus terpasang selama masa kontrak yang diperpanjang. Jika perlu, kontrak untuk jangka waktu hingga masa kepemimpinan Sutiyoso berakhir. Sambil berharap, pemerintah provinsi yang baru a...

Payudara di Televisi Kita

Stasiun televisi kita, makin sering menampilkan program tv dengan bumbu payudara. Mungkin untuk menarik minat penonton. Semakin banyak penonton yang menyaksikan tayangan-tayangan mereka, rating acara akan membumbung, dan pengiklan datang. Namanya kompetisi, ya, bo. Tengok saja panggung dangdut, panggung penari, peragaan busana, hingga seserahan sambutan pun tak luput dari sajian payudara. Beberapa siaran langsung, lainnya siaran tunda. Katakan, 'munculnya' payudara di acara tersebut adalah sebuah insiden. Sangat maklum jika kejadian tersebut terjadi pada siaran langsung. Namun jika tayangan itu bukan langsung dan masih juga kecolongan? Please, deh. Jika peristiwa-peristiwa itu memang tak dikehendaki bersama, demi amannya, apa sebaiknya pihak stasiun membuat rambu-rambu khusus perihal busana seperti apa saja yang boleh digunakan oleh siapapun yang akan disorot kamera? Tentunya tanpa harus memasung demokrasi berekpresi.

Kuatir Kolesterol

Gara-gara makan daging giling yg saya buat camilan untuk dinner, tahu-tahu saya berasa pening. Leher bagian belakang cenut-cenut. Saya minum, lalu berhenti sebentar. Agak mendingan. Untuk memastikan itu disebabkan karena saya makan daging, saya kembali santap makanan ringan yang saya buat itu. Lagi, pening dan cenut-cenut. Langsung saya stop. Jangan-jangan kolesterol? Saya langsung mencari informasi apabila seseorang memiliki kolesterol tinggi. Kuatir dampaknya: stroke dan jantung. Menurut artikel yang saya baca, gejala yang saya alami menunjukkan tanda-tanda kelebihan kolesterol. Ngek ngok. Meskipun saya sudah sangat hati-hati menjaga makanan. Apalagi, saya sangat kurang berolah raga. Pekerjaan saya jalan kaki dari pagi sampai sore tiga hari seminggu, tapi apa itu cukup?  Saya harus mulai memperhatikan makanan yang saya santap supaya kesehatan saya tetap prima secara usia sudah tak lagi muda. Iya kalo pendek umur, bagaimana jika panjang umur tapi sakit-sakitan?