Skip to main content

Casualties in Travelling: Buang Gas

Dalam setiap trip yang saya ikuti, selalu saja ada cerita lucu. Kali ini soal kentut.

Selama perjalanan pulang dari pendakian gunung Merbabu tahun lalu, kaki saya menjadi sangat lemas dari biasanya. Bukan karena sudah terlalu lelah. Bayangkan, hampir semua kawan sependakian berjalan berbaris di parit kecil yang tak mulus sambil kentut bersahut-sahutan! Padahal jarak kami sangat berdekatan dan baunya..., please, deh.

Masih seputar kentut. Pada acara Jungle Trek lalu juga, hal lucu terjadi ketika acara snorkling. Saya sudah kembali ke kapal dan mengeringkan badan. Ada dua orang peserta cerah ceria timbul tenggelam menikmati pemandangan bawah laut di sekitar kapal. Tiba-tiba saya dikejutkan oleh suara dentuman keras. Saya menoleh ke bawah. Tiba-tiba terlihat gelembung udara besar-besar dari balik celana salah seorang penyelam itu. Oh, itu rupanya. Saya lega, kirain ada ikan buntal meletus.

Comments

Popular posts from this blog

Billboard Udud

Pemprov DKI serius untuk menelikung para perokok aktif. Setelah mengeluarkan larangan merokok di beberapa kawasan, disusul dengan larangan beriklan bagi produsen rokok di jalan-jalan protokol. Mestinya, mulai Maret lalu, billboard iklan rokok yang semarak di sepanjang Sudirman, Gatot Subroto, dll itu tak sudah tak boleh lagi terpasang. Namun, pengecualian bagi pemasang iklan yang masa tayangnya belum habis, ditunggu hingga akhir masa kontrak. Sesederhana itukah? Seperti bisa ditebak, larangan-larangan apa pun yang diberlakukan pasti selalu diikuti sebuah koalisi kolusi. Tak ada hukuman bagi pengiklan iklan yang masih memasang billboardnya di sana walaupun tenggang waktu sudah terlewat. Yang terjadi adalah, adanya perpanjangan kontrak sebelum tenggang waktu itu habis. Sehingga iklan-iklan rokok itu akan terus terpasang selama masa kontrak yang diperpanjang. Jika perlu, kontrak untuk jangka waktu hingga masa kepemimpinan Sutiyoso berakhir. Sambil berharap, pemerintah provinsi yang baru a...

Bertemu Yesus

Sambil menunggu tukang yang akan bekerja di rumah, saya terlelap. Dua orang perempuan yang wajahnya sangat saya ingat mengetuk pintu. Mereka memperkenalkan diri sebagai murid-murid kajian Al Kitab dari sekte Saksi Yehua. Sejujurnya, nama itu baru saya dengar. Mungkin karena saya berada di luar komunitas kristiani, makanya tak terlalu perhatian pada hal demikian. Dua orang tukang datang dan dengan berisiknya bekerja. Saya tetap menerima dua tamu yang katanya mau mengabarkan berita gembira kepada siapapun. Ah, namanya tamu, tentu saya akan menerimanya dengan senang hati. Saya tak ingin berburuk sangka dengan apa yang mereka lakukan. Kristenisasi? Injilisasi? Saya tak mau apriori. Saat ini saya merasa telah menemukan kembali iman saya setelah bertahun-tahun menyublim. Lama saya telah bertualang dari satu keyakinan ke keyakinan lainnya. Jadi meskipun saya mendengar satu dua ayat tentang apapun dari pengabar manapun, insyaallah, tak akan menggoyahkan iman. Mulailah dua perempuan itu berceri...

Now Banderas

What do you expect when the media keep broadcasting peope failing to stay healthy?