Saya sudah beberapa tahun terakhir tidak lagi pergi ke segela macam pesta, termasuk pesta perkawinan. Saya berniat untuk berhenti melakukannya. Dari pada setiap pergi membuat saya tidak nyaman, lebih baik tidak. Sejumlah undangan saya lewatkan dengan sengaja. Saya tak pikirkan apa yang ada di kepala para pengundang itu ketika tahu saya tak datang. Jika ditanya apa alasannya, saya tak akan bisa menjawab.
[Sebetulnya ada dua pesta perwainan yang tahun lalu saya datangi. Sebuah pesta di Bandung. Datang ke pestanya sepuluh menit, sisanya bisa wisata kuliner dan FO. Satunya lagi adalah pesta perkawinan kolega kerja. Itu pun karena saya harus mendokumentasikan acara].
Belum lama, mampirlah sebuah kartu undangan perkawinan seorang klien perusahaan ke kantor. Sangat jelas, nama boss saya tercantum di sana. Saya sendiri tidak mengenal klien ini. Tak perduli dengan undangan itu dan tak mau tahu. Saya merasa tak punya hubungan apa-apa.
Hari 'H', boss saya teriak. Setelah memeriksa kartu undangan lagi, ternyata pestanya dilangsungkan hari itu dan jam itu. Semua dibuat panik ketika boss tak mau pergi sendirian. Satu persatu karyawan diminta untuk menemani. Tak ada yang siap dan tak ada yang mau. Hari Jumat, tak ada satupun karyawan yang menggunakan pakaian layak pesta. Bahkan hari itu saya bercelana pendek. Pilihan terakhir jatuh ke saya. Saya yang teriak paling lantang untuk menolak. Tapi sepertinya sayalah satu-satunya orang yang paling memungkinkan untuk pergi menemani. Alasan saat itu bercelana pendek ditangkis. Rumah saya paling dekat ke kantor, saya dianjurkan untuk mampir pulang sambil menuju tempat pesta.
Saya tetap bersikukuh menolak. Seperti yang saya tulis di awal, saya sudah berhenti mengunjungi pesta perkawinan! Itu alasan pertama. Boss tak mau mengerti. Alasan kedua, saya bercelana pendek dan tak mungkin pulang karena kunci rumah di bawa adik saya bekerja, dimentahkan, karena tahu-tahu dia menemukan sebuah celana panjang di samping meja kerja saya. Yeah, saya memang selalu siaga dengan properti itu jika sewaktu-waktu ada meeting dadakan dengan klien. Kemeja casual, celana panjang casual, dan sneaker.
Maka siang itu adalah siang duka bagi saya. Saya harap cukup sopan berbusana untuk berkunjung ke sebuah pesta perkawinan adat Batak.
Saya pernah tak percaya diri ketika beberapa tahun lalu hendak pergi ke pesta perkawinan. Untuk berbusana saya pilih batik warna (satu-satunya yang saya punya) dan celana warna gelap. Karena pemilik pesta itu adalah kolega kantor, saya pergi ramai-ramai dengan sahabat-sahabat lainnya. Beberapa berkumpul di suatu tempat, lalu saya menjemputnya.
Tempat kumpul yang disepakati adalah lobi sebuah hotel. Kebelet pipis, saya mampir dulu ke toilet. Diluar malam sudah merambat turut. Ketika saya melintasi ruang benderang di lobi, saya baru sadar bahwa sebuah kekeliruan sudah saya lakukan. Rupanya saya tengah mengenakan kemeja batik coklat dengan pantalon biru!
Segera saya mengajak sahabat-sahabat untuk mampir ke rumah saya dulu. Saya merasa perlu berganti celana. Walaupun sahabat saya bilang 'it is okay', saya tetap tak tenang. Dia bisa santai bilang begitu, dia kan bukan model.
[Sebetulnya ada dua pesta perwainan yang tahun lalu saya datangi. Sebuah pesta di Bandung. Datang ke pestanya sepuluh menit, sisanya bisa wisata kuliner dan FO. Satunya lagi adalah pesta perkawinan kolega kerja. Itu pun karena saya harus mendokumentasikan acara].
Belum lama, mampirlah sebuah kartu undangan perkawinan seorang klien perusahaan ke kantor. Sangat jelas, nama boss saya tercantum di sana. Saya sendiri tidak mengenal klien ini. Tak perduli dengan undangan itu dan tak mau tahu. Saya merasa tak punya hubungan apa-apa.
Hari 'H', boss saya teriak. Setelah memeriksa kartu undangan lagi, ternyata pestanya dilangsungkan hari itu dan jam itu. Semua dibuat panik ketika boss tak mau pergi sendirian. Satu persatu karyawan diminta untuk menemani. Tak ada yang siap dan tak ada yang mau. Hari Jumat, tak ada satupun karyawan yang menggunakan pakaian layak pesta. Bahkan hari itu saya bercelana pendek. Pilihan terakhir jatuh ke saya. Saya yang teriak paling lantang untuk menolak. Tapi sepertinya sayalah satu-satunya orang yang paling memungkinkan untuk pergi menemani. Alasan saat itu bercelana pendek ditangkis. Rumah saya paling dekat ke kantor, saya dianjurkan untuk mampir pulang sambil menuju tempat pesta.
Saya tetap bersikukuh menolak. Seperti yang saya tulis di awal, saya sudah berhenti mengunjungi pesta perkawinan! Itu alasan pertama. Boss tak mau mengerti. Alasan kedua, saya bercelana pendek dan tak mungkin pulang karena kunci rumah di bawa adik saya bekerja, dimentahkan, karena tahu-tahu dia menemukan sebuah celana panjang di samping meja kerja saya. Yeah, saya memang selalu siaga dengan properti itu jika sewaktu-waktu ada meeting dadakan dengan klien. Kemeja casual, celana panjang casual, dan sneaker.
Maka siang itu adalah siang duka bagi saya. Saya harap cukup sopan berbusana untuk berkunjung ke sebuah pesta perkawinan adat Batak.
Saya pernah tak percaya diri ketika beberapa tahun lalu hendak pergi ke pesta perkawinan. Untuk berbusana saya pilih batik warna (satu-satunya yang saya punya) dan celana warna gelap. Karena pemilik pesta itu adalah kolega kantor, saya pergi ramai-ramai dengan sahabat-sahabat lainnya. Beberapa berkumpul di suatu tempat, lalu saya menjemputnya.
Tempat kumpul yang disepakati adalah lobi sebuah hotel. Kebelet pipis, saya mampir dulu ke toilet. Diluar malam sudah merambat turut. Ketika saya melintasi ruang benderang di lobi, saya baru sadar bahwa sebuah kekeliruan sudah saya lakukan. Rupanya saya tengah mengenakan kemeja batik coklat dengan pantalon biru!
Segera saya mengajak sahabat-sahabat untuk mampir ke rumah saya dulu. Saya merasa perlu berganti celana. Walaupun sahabat saya bilang 'it is okay', saya tetap tak tenang. Dia bisa santai bilang begitu, dia kan bukan model.
Comments
masa iya cuman dua wedding? wedding gw, ga dihitung wedding ya? hehehehe.... btw gw kok ga pernah lihat hasil foto-foto eloe itu di Immanuel, btw gw dah punya monditato.multiply.com. have a look ya, baru mulai kok, belum banyak diisi.
yudith
yudith