Bubar dari gathering dengan sebuah komunitas pencinta alam pada suatu malam di sekitar Sarinah Square, dengan beberapa sahabat, saya masih melanjutkan perbincangan. Kami memutuskan untuk pulang setelah melihat jam sudah lewat dari jam 1 am, dengan tujuan dan cara pulang masing-masing.
Banyak taksi ngetem. Saya memilih untuk menarik taksi yang sedang melaju. Batin saya, jika saya mengambil taksi dari antrian yang ngetem, si sopir harus membayar sejumlah uang untuk diberikan kepada preman yang mengorganisir kawasan itu. Preman tersebut tak saja petugas yang mengatur antrian dan menagih uang kepada para sopir, juga pihak-pihak lain yang 'invisible' seperti oknum polisi. Seperti yang terjadi di hampir semua area terbuka di perkotaan.
Saya paling tak kompromi dengan pemerasan. Sekecil apapun. Sebisa mungkin saya menghindar. Risih saja. Dalam kasus ini, para sopir mungkin tak merasa diperas karena dengan suka rela ia menyerahkan sejumlah uang yang menjadi 'tarif' ngetem di sana. Namun tetaplah, seharusnya tak perlu ada praktek 'minta-meminta' seperti itu.
Setelah taksi berhenti, saya melompat masuk. Belum selesai si sopir pindah gigi, seorang lelaki bermuka buruk menghadang, menjulurkan tangan ke arah sopir. Saya tahu siapa dia. "Apa-apaan. nih?"
"Saya timer. " Si Buruk Rupa memperkenalkan diri. Sikunya berlipat di kaca jendela yang separuh terbuka.
"Ngga pake," kata saya ketus.
"Biasa, pak."
Saya berpikir sehat, menarik nafas, duduk bersandar. Tak penting menanggapi ulah dia. Apa yang saya lakukan saya kira hanya spontan karena melihat perilaku pemeras itu. Tangan si preman terus menjulur ke arah sopir. Sejumlah uang telah beralih tangan. Taksi siap melaju.
"Ngga terima, ya? Sini, turun!" Si preman terlihat bernyali menginstruksikan sopir untuk menepi.
Saya membaca situasi. Lalu kepada sopir saya bilang, "terus jalan. Kunci pintu."
Sangat jelas preman itu bicara lantang.
"Anjing loe!"
Ketika dia teriak itu, saya justeru melihat wajah preman itu telah berubah menjadi seekor bulldog.
Naif sekali jika saya harus terpancing hingga bertindak lebih lanjut karena mengikuti emosi. Saya tidak mau jadi terlihat bodoh karena melakukannya. Para preman berani menggertak karena bagi mereka dengan begitu ia ingin menunjukkan 'taring'. Padahal jika digertak balik pun mereka biasanya keder juga. Asal kita siaga dan tak menunjukkan rasa takut.
Ketika remaja dulu, saya dan sahabat saya sedang mengincar sepasang gadis kembar yang tinggal masih satu desa dengan kami. Saya mendekati sang kakak, sahabat saya mendekati adiknya. Walaupun kelak tak satu pun dari kami mendapatkan salah satunya.
Malam itu entah kenapa listrik mati. Padahal tidak hujan atau gledek. Menjelang tengah malam kami pamit pulang. Karena tak terlalu jauh dari rumah, kami memilih berjalan kaki. Jalanan gelap. Rumah si kembar terletak agak masuk gang.
Ketika pulang melewati mulut gang, ada dua orang pria dewasa menghadang. Salah satunya menghampiri kami. Orang itu mengacungkan sebilah golok ke arah sahabat saya. "Heh! Ngapain loe kemari?!" Kami kaget. "Jangan coba-coba cari masalah loe di sini, ya?!"
Melihat sahabat saya mematung ketakutan, saya mendorong tubuhnya menjauh. Gantian, preman kampung itu memilih leher saya untuk dijadikan sasaran. Ia mengalungkan goloknya hingga saya dapat merasakan rasa dingin di kulit leher. Saking dekatnya, saya mencium bau Anggur Obat dari mulutnya. Orang mabuk mana yang bisa berpikir jernih? Pikir saya. Saya harus lebih waras dari dia.
Seketika, saya mencengkeram keras tangan yang dipakainya untuk memegang golok. Tangan saya lainnya menarik dan menekan kuat dagu dia. "Loe yang jangan macam-macam!"
Preman itu berdiri terbengong. Tangannya masih mengacungkan golok, tapi leher saya sudah tak di sana lagi. Jika Anda pikir saya pemberani, sebetulnya tidak. Saya cuma bisa menggertak. Jikapun orang itu menyerang dengan membabi buta, yang saya bisa lakukan mungkin lari terbirit-birit.
Sahabat saya masih mengingat kejadian ini dengan jelas. Saya justeru yang diingatkan olehnya tentang peristiwa ini.
Banyak taksi ngetem. Saya memilih untuk menarik taksi yang sedang melaju. Batin saya, jika saya mengambil taksi dari antrian yang ngetem, si sopir harus membayar sejumlah uang untuk diberikan kepada preman yang mengorganisir kawasan itu. Preman tersebut tak saja petugas yang mengatur antrian dan menagih uang kepada para sopir, juga pihak-pihak lain yang 'invisible' seperti oknum polisi. Seperti yang terjadi di hampir semua area terbuka di perkotaan.
Saya paling tak kompromi dengan pemerasan. Sekecil apapun. Sebisa mungkin saya menghindar. Risih saja. Dalam kasus ini, para sopir mungkin tak merasa diperas karena dengan suka rela ia menyerahkan sejumlah uang yang menjadi 'tarif' ngetem di sana. Namun tetaplah, seharusnya tak perlu ada praktek 'minta-meminta' seperti itu.
Setelah taksi berhenti, saya melompat masuk. Belum selesai si sopir pindah gigi, seorang lelaki bermuka buruk menghadang, menjulurkan tangan ke arah sopir. Saya tahu siapa dia. "Apa-apaan. nih?"
"Saya timer. " Si Buruk Rupa memperkenalkan diri. Sikunya berlipat di kaca jendela yang separuh terbuka.
"Ngga pake," kata saya ketus.
"Biasa, pak."
Saya berpikir sehat, menarik nafas, duduk bersandar. Tak penting menanggapi ulah dia. Apa yang saya lakukan saya kira hanya spontan karena melihat perilaku pemeras itu. Tangan si preman terus menjulur ke arah sopir. Sejumlah uang telah beralih tangan. Taksi siap melaju.
"Ngga terima, ya? Sini, turun!" Si preman terlihat bernyali menginstruksikan sopir untuk menepi.
Saya membaca situasi. Lalu kepada sopir saya bilang, "terus jalan. Kunci pintu."
Sangat jelas preman itu bicara lantang.
"Anjing loe!"
Ketika dia teriak itu, saya justeru melihat wajah preman itu telah berubah menjadi seekor bulldog.
Naif sekali jika saya harus terpancing hingga bertindak lebih lanjut karena mengikuti emosi. Saya tidak mau jadi terlihat bodoh karena melakukannya. Para preman berani menggertak karena bagi mereka dengan begitu ia ingin menunjukkan 'taring'. Padahal jika digertak balik pun mereka biasanya keder juga. Asal kita siaga dan tak menunjukkan rasa takut.
Ketika remaja dulu, saya dan sahabat saya sedang mengincar sepasang gadis kembar yang tinggal masih satu desa dengan kami. Saya mendekati sang kakak, sahabat saya mendekati adiknya. Walaupun kelak tak satu pun dari kami mendapatkan salah satunya.
Malam itu entah kenapa listrik mati. Padahal tidak hujan atau gledek. Menjelang tengah malam kami pamit pulang. Karena tak terlalu jauh dari rumah, kami memilih berjalan kaki. Jalanan gelap. Rumah si kembar terletak agak masuk gang.
Ketika pulang melewati mulut gang, ada dua orang pria dewasa menghadang. Salah satunya menghampiri kami. Orang itu mengacungkan sebilah golok ke arah sahabat saya. "Heh! Ngapain loe kemari?!" Kami kaget. "Jangan coba-coba cari masalah loe di sini, ya?!"
Melihat sahabat saya mematung ketakutan, saya mendorong tubuhnya menjauh. Gantian, preman kampung itu memilih leher saya untuk dijadikan sasaran. Ia mengalungkan goloknya hingga saya dapat merasakan rasa dingin di kulit leher. Saking dekatnya, saya mencium bau Anggur Obat dari mulutnya. Orang mabuk mana yang bisa berpikir jernih? Pikir saya. Saya harus lebih waras dari dia.
Seketika, saya mencengkeram keras tangan yang dipakainya untuk memegang golok. Tangan saya lainnya menarik dan menekan kuat dagu dia. "Loe yang jangan macam-macam!"
Preman itu berdiri terbengong. Tangannya masih mengacungkan golok, tapi leher saya sudah tak di sana lagi. Jika Anda pikir saya pemberani, sebetulnya tidak. Saya cuma bisa menggertak. Jikapun orang itu menyerang dengan membabi buta, yang saya bisa lakukan mungkin lari terbirit-birit.
Sahabat saya masih mengingat kejadian ini dengan jelas. Saya justeru yang diingatkan olehnya tentang peristiwa ini.
Comments