Skip to main content

God is (Perhaps) Calling Me to Leave

Tiba-tiba badan saya yang sedang terbaring terangkat begitu saja. Mengawang ringan hingga saya bingung apa yang sedang terjadi. Sebuah sensasi ganjil saya rasakan. Seolah badan saya menjadi kutub magnit yang siap menarik apa saja. Saya menoleh ke bawah. Pemandangan kota terhampar. Lalu pada ketinggian tertentu, gravitasi mulai bekerja. Sebelum saya terjerembab saya membalikkan badan berusaha untuk mengendalikan tubuh. Berhasil, badan saya mulai menaik lagi. Tak lama sebuah pemandangan putih benderang terhidang di depan mata. Terang namun tak menyilaukan. Saya tertelan dalam ruang penuh cahaya.
Ah, saya mimpi rupanya.

Mungkin saya akan 'berpulang'. Begitu saya menginterpresikan mimpi saya itu. Atau Tuhan akan memberi saya derajat yang lebih tinggi dari yang sekarang saya tempati. Ketika saya memberanikan diri untuk mencoba mengunyah interpretasi yang pertama, saya mengamati apa yang terjadi di otak dan hati. Ah, tak ada yang merisaukan. Sepertinya, kali ini saya lumayan siap dengan segala kemungkinan.

Saya teringat dengan pengalaman pernah dihampirmatikan saat terkena malaria. Apa mungkin 'peristiwa kematian yang trtunda' itu akan menemui waktunya? Akankah saya benar-benar akan pergi' kali ini?

Ganti waktu, dalam mimpi saya menghampiri Ibu dan Bapak (almarhum) yang sedang duduk bersisian di luar rumah. Bapak dengan pici dan sorban. Saya duduk bersimpuh dengan air mata terurai. Menyalami mereka satu per satu. Seperti memohon maaf. Seperti berpamitan.

Ya, Allah. Saya tak ingin berprasangka dengan segala rencana-Mu. Saya akan terus menjaga hati agar selalu disesaki oleh ijin-Mu. Kini atau nanti, saya pasrahkan. Kepada-Mu dan hanya untuk-Mu jiwa dan raga ini. Sucikan. Ampuni.

Comments

Popular posts from this blog

Out of The Box

Saya sedang tidak berminat berpaguyuban. Saya ingin banyak meluangkan waktu sendiri. Melakukan banyak hal yang berbeda dari biasanya, menemukan komunitas baru, dan lain sebagainya. Pelan-pelan saya melepaskan ketergantungan dari riuhnya pertemanan yang hiruk pikuk: bergerombol di cafe, bergerombol di club, bergerombol di bioskop. Waktu seperti menguap tanpa kualitas. Belakangan, saya jadi punya banyak waktu untuk mengecilkan lingkar perut, banyak waktu untuk membaca buku, membiarkan diri saya melebur dengan komunitas dan teman-teman baru, dan yang lebih penting, saya bisa punya waktu untuk mengamati diri saya. Sekedar merubah pola.

Billboard Udud

Pemprov DKI serius untuk menelikung para perokok aktif. Setelah mengeluarkan larangan merokok di beberapa kawasan, disusul dengan larangan beriklan bagi produsen rokok di jalan-jalan protokol. Mestinya, mulai Maret lalu, billboard iklan rokok yang semarak di sepanjang Sudirman, Gatot Subroto, dll itu tak sudah tak boleh lagi terpasang. Namun, pengecualian bagi pemasang iklan yang masa tayangnya belum habis, ditunggu hingga akhir masa kontrak. Sesederhana itukah? Seperti bisa ditebak, larangan-larangan apa pun yang diberlakukan pasti selalu diikuti sebuah koalisi kolusi. Tak ada hukuman bagi pengiklan iklan yang masih memasang billboardnya di sana walaupun tenggang waktu sudah terlewat. Yang terjadi adalah, adanya perpanjangan kontrak sebelum tenggang waktu itu habis. Sehingga iklan-iklan rokok itu akan terus terpasang selama masa kontrak yang diperpanjang. Jika perlu, kontrak untuk jangka waktu hingga masa kepemimpinan Sutiyoso berakhir. Sambil berharap, pemerintah provinsi yang baru a...

Payudara di Televisi Kita

Stasiun televisi kita, makin sering menampilkan program tv dengan bumbu payudara. Mungkin untuk menarik minat penonton. Semakin banyak penonton yang menyaksikan tayangan-tayangan mereka, rating acara akan membumbung, dan pengiklan datang. Namanya kompetisi, ya, bo. Tengok saja panggung dangdut, panggung penari, peragaan busana, hingga seserahan sambutan pun tak luput dari sajian payudara. Beberapa siaran langsung, lainnya siaran tunda. Katakan, 'munculnya' payudara di acara tersebut adalah sebuah insiden. Sangat maklum jika kejadian tersebut terjadi pada siaran langsung. Namun jika tayangan itu bukan langsung dan masih juga kecolongan? Please, deh. Jika peristiwa-peristiwa itu memang tak dikehendaki bersama, demi amannya, apa sebaiknya pihak stasiun membuat rambu-rambu khusus perihal busana seperti apa saja yang boleh digunakan oleh siapapun yang akan disorot kamera? Tentunya tanpa harus memasung demokrasi berekpresi.