Jumat, 2/6. Tiba saatnya meninggalkan Bath yang saya cintai, menuju London. Perjalanan akan saya tempuh dengan kereta ke Bristol, terus dilanjutkan dengan bis. Tadinya mau naik kereta langsung ke London. Tapi setelah melihat harga tiket yang luar biasa tinggi karena saya tidak pesan jauh-jauh hari, saya batalkan. Teman sekamar saya, anak muda dari Croatia, jadi pemandu. Kebetulan banyak sekali jadual yang saya buat kembar dengan punya dia, jadi kami langsung dekat satu sama lain. Misalnya, sebelum ke Bath kami sama-sama ke Oxford dulu. Setalah dari Bath, kami juga sama-sama ke London. Selama di Bath, saya ke Stone Hence, eh, dia juga. Meskipun dari semua jadual itu, tak satu pun berbarengan waktunya kecuali yang ke London ini.
Jumat, 2/6. Tiba saatnya meninggalkan Bath yang saya cintai, menuju London. Perjalanan akan saya tempuh dengan kereta ke Bristol, terus dilanjutkan dengan bis. Tadinya mau naik kereta langsung ke London. Tapi setelah melihat harga tiket yang luar biasa tinggi karena saya tidak pesan jauh-jauh hari, saya batalkan. Teman sekamar saya, anak muda dari Croatia, jadi pemandu. Kebetulan banyak sekali jadual yang saya buat kembar dengan punya dia, jadi kami langsung dekat satu sama lain. Misalnya, sebelum ke Bath kami sama-sama ke Oxford dulu. Setalah dari Bath, kami juga sama-sama ke London. Selama di Bath, saya ke Stone Hence, eh, dia juga. Meskipun dari semua jadual itu, tak satu pun berbarengan waktunya kecuali yang ke London ini.
Comments