Skip to main content
Tiba-tiba, internet yang selama ini bisa dinikmati gratis di kompleks apartemen kami tak ada lagi. Rupanya, pemilik jaringan yang baik hati itu tidak lagi mengumbar wifi-nya. Karena internet dinilai sangat penting, terutama bagi isteri saya yang sepanjang hari harus di rumah, kami memutuskan untuk segera membeli alat yang bisa menyambungkan laptop dengan internet.

Satu per satu merek penyedia jasa internet kami datangi. Mencari peluang sebaik-baiknya dan semurah-murahnya. Pilihan jatuh pada Vodafone, wireless, dan post paid. Maka 24 jam kami sekarang bisa tersambung kembali dengan internet. Asal hemat, dengan pagu yang didapat, 12 giga per bulan, saya rasa bisa selamat.

Comments

Popular posts from this blog

Billboard Udud

Pemprov DKI serius untuk menelikung para perokok aktif. Setelah mengeluarkan larangan merokok di beberapa kawasan, disusul dengan larangan beriklan bagi produsen rokok di jalan-jalan protokol. Mestinya, mulai Maret lalu, billboard iklan rokok yang semarak di sepanjang Sudirman, Gatot Subroto, dll itu tak sudah tak boleh lagi terpasang. Namun, pengecualian bagi pemasang iklan yang masa tayangnya belum habis, ditunggu hingga akhir masa kontrak. Sesederhana itukah? Seperti bisa ditebak, larangan-larangan apa pun yang diberlakukan pasti selalu diikuti sebuah koalisi kolusi. Tak ada hukuman bagi pengiklan iklan yang masih memasang billboardnya di sana walaupun tenggang waktu sudah terlewat. Yang terjadi adalah, adanya perpanjangan kontrak sebelum tenggang waktu itu habis. Sehingga iklan-iklan rokok itu akan terus terpasang selama masa kontrak yang diperpanjang. Jika perlu, kontrak untuk jangka waktu hingga masa kepemimpinan Sutiyoso berakhir. Sambil berharap, pemerintah provinsi yang baru a...

Payudara di Televisi Kita

Stasiun televisi kita, makin sering menampilkan program tv dengan bumbu payudara. Mungkin untuk menarik minat penonton. Semakin banyak penonton yang menyaksikan tayangan-tayangan mereka, rating acara akan membumbung, dan pengiklan datang. Namanya kompetisi, ya, bo. Tengok saja panggung dangdut, panggung penari, peragaan busana, hingga seserahan sambutan pun tak luput dari sajian payudara. Beberapa siaran langsung, lainnya siaran tunda. Katakan, 'munculnya' payudara di acara tersebut adalah sebuah insiden. Sangat maklum jika kejadian tersebut terjadi pada siaran langsung. Namun jika tayangan itu bukan langsung dan masih juga kecolongan? Please, deh. Jika peristiwa-peristiwa itu memang tak dikehendaki bersama, demi amannya, apa sebaiknya pihak stasiun membuat rambu-rambu khusus perihal busana seperti apa saja yang boleh digunakan oleh siapapun yang akan disorot kamera? Tentunya tanpa harus memasung demokrasi berekpresi.

Kuatir Kolesterol

Gara-gara makan daging giling yg saya buat camilan untuk dinner, tahu-tahu saya berasa pening. Leher bagian belakang cenut-cenut. Saya minum, lalu berhenti sebentar. Agak mendingan. Untuk memastikan itu disebabkan karena saya makan daging, saya kembali santap makanan ringan yang saya buat itu. Lagi, pening dan cenut-cenut. Langsung saya stop. Jangan-jangan kolesterol? Saya langsung mencari informasi apabila seseorang memiliki kolesterol tinggi. Kuatir dampaknya: stroke dan jantung. Menurut artikel yang saya baca, gejala yang saya alami menunjukkan tanda-tanda kelebihan kolesterol. Ngek ngok. Meskipun saya sudah sangat hati-hati menjaga makanan. Apalagi, saya sangat kurang berolah raga. Pekerjaan saya jalan kaki dari pagi sampai sore tiga hari seminggu, tapi apa itu cukup?  Saya harus mulai memperhatikan makanan yang saya santap supaya kesehatan saya tetap prima secara usia sudah tak lagi muda. Iya kalo pendek umur, bagaimana jika panjang umur tapi sakit-sakitan?