Jika Anda memiliki account Twitter, beberapa hari ini mungkin tak bisa menghindari ramainya timeline akibat twitwar antara dua perempuan berupa elok yang sama-sama mengaku 'doktor' atau dengan kapital - D, O, C, T, O, R.
Perempuan pertama, seorang artis beken yang sejujurnya saya kagumi. Selain berbakat, dia memiliki minat terhadap ilmu pengetahuan yang amat tinggi. Dia, berdasar berbagai sumber informasi, kuliah di banyak kampus. Pasti uangnya banyak. Pasti waktunya banyak juga. Pasti pintar. Pasti, ujung-ujung jarinya kapalan karena keseringan ngetik tugas. A black sheep within her world. Sungguh beda dengan artis kebanyakan.
Karena keseringan kuliah, sangat wajar jika artis senior bersuamikan rocker ini memiliki gelar berderet. Salah satu dari gelar itu adalah 'doktor'. Untuk mendapat gelar doktor, seseorang harus bersekolah hingga S3. Saya makin kagum. Energinya untuk belajar pasti sangat tinggi, setinggi pelangi. Atau bisa jadi lebih tinggi dari satelit Palapa.
Nah, dunia persilatan yang semula ijo royo-royo damai indah tentram sentausa, terusik gara-gara twit seorang perempuan yang akunya juga seorang 'doktor'. Perempuan kedua ini, sedang dalam tahap mula menjadi seorang artis. Dia memiliki album rekaman lagu-lagu rohani. Rohani, tak ada hubungannya dengan Eni Rohaeni, teman SD saya. Entah apa motifnya, artis junior ini gembor-gembor tentang gelar doktor si artis senior yang katanya palsu. Si artis junior, dapat bocoran dari pejabat kampus tempat si artis senior kuliah.
Ah, kok bisa si artis junior ini mengusili si artis senior? Inisiatif sendiri atau karena dimanfaatkan orang-orang di sekitarnya (kalau benar dia bergaul dengan orang)?
Eh, kok bisa pejabat kampus buka-buka cerita internal kampus ke orang lain? Hell-ooo? Apa kata Mang Dudung pemilik komedi putar keliling di Kemayoran? Apa juga kata Bi Ipit tetangga di Bogor yang penjual pecel saat saya kecil? Oh-what-so unreliable. Kalau saya punya kolega semacam itu di kampus, akan saya gembok kantornya. Biarkan saja dia berkantor di mushola sampai dia bikin pengakuan dosa ke mamang-mamang pemukul bedug: "oh, father I have sinned".
Si artis senior meradang, menerjang. Lewat blog, dia protes. Tak terima tuduhan gelar yang ia peroleh dengan susah payah air mata darah itu dianggap bukan haknya. Iyalah. Saya bisa membayangkan.
Cyberwar dimulai. Awal tahun yang biasanya hujan resolusi dari orang-orang optimis untuk menjadikan hidup lebih baik, tergantikan oleh badai kata-kata penuh ejekan dan permusuhan. Bukan sekedar dari dua artis yang sedang berseteru ini saja, pun dari pemilik account Twitter lainnya yang jumlahnya jutaan.
Indonesia adalah the capital of Twitterland di Asia. Bayangkan jika sebagian besar penghuninya nimbrung dalam perang dua artis senior-junior ini. Tak heran, jika kasus ini jadi trending, tak hanya di tanah air tempat beta dilahirkan dan disusui bunda kanduang, tapi juga menjadi trending dunia, mengalahkan berita Beyonce yang lahiran atau Kang Mas Ibas yang oh-oh-siapa-dia.
Saya, yang biasanya tak begitu rajin membuka account twitter, jadi sangat rajin. Lebih rajin dari jadual sholat harian. Penyebabnya, karena si artis junior itu orang yang pernah sangat saya kenal. Saya pernah berkuliah bareng dengan dia di sebuah universitas yang sangat terpuji, meskipun tak pernah saling contek saat ujian. Yeah, saya terlalu senang duduk di barisan kursi muka berdampingan dengan seorang mahasiswi anak Kwitang yang saat itu sedang saya taksir. Sementara si artis junior kita, keseringan duduk di bagian belakang, duduk sejajar dengan rekan mahasiswa lain yang sedikit saja kepala mereka nempel dinding, langsung pulas. Maklum, kelas malam. Sehari-hari, mereka adalah white collars dengan baju-baju licin kena lilin Trika. Meski demikian, di luar kelas, kami kompak laksana perompak Somalia.
Saya lulus dan wisuda bareng. Jadi, ketika ada ribut-ribut kalau si artis junior tak tamat kuliah S2, oh-so-wrong.
Karena merasa terlanjur dekat terlanjur sayang, saya jadi prihatin dengan kasus yang melilitnya sekarang. Saya sudah ingatkan untuk keluar saja dari peperangan. Tak ada untungnya. Namun, si artis junior merasa sudah kepalang tanggung. Jepit rambut sudah di asah, lengan baju pun sudah digulung hingga tinggi sekali, hingga mungkin kita bisa menyaksikan rimbun-rimbun kerumunan di ujung atas tangannya. Apalagi, dia merasa mendapat gelombang dukungan. Dukungan yang rasanya lebih masif dibandingkan saat Adang Daradjatun mencalonkan diri jadi gubernur DKI lalu.
Saya angkat tangan. Bukan urusan saya lagi. Sebagai sahabat, saya merasa sudah mengingatkan.
Di luar itu, seseorang dari negeri kincir angin sibuk bergerilya mencari tahu latar belakang si artis junior yang menulis di website-nya lulus dari sebuah universitas di negeri dimana dia saat ini bermukim. Bakatnya sebagai peneliti, mendorong dia melakukan riset. Padahal, Bukan urusan dia juga turun ke kancah pergolakan antara dua artis ini. Tapi, dia bilang, dia tulus ingin menyumbangkan sesuatu bagi negeri yang tak lama lagi akan memiliki gedung tertinggi kelima di dunia ini, kalau jadi di bangun.
Pendek cerita, seseorang dari negeri kincir angin, yang ternyata saya kenal jua itu, menemukan bukti bahwa tak ada bukti bahwa si artis junior pernah terbukti bersekolah di sana.
Saya terkesiap. Ah, yang boneng? Serasa terkena hantaman topan pasir kaliki. Kepala saya pening. Mual. Serasa pengen dangdutan. Ubun-ubun saya kedat-kedut. Rasanya tak percaya.
Oh, darling. Apa yang sesungguhnya sedang terjadi? Benarkah yang dibicarakan orang dari kincir angin itu oh-so-true? Ah, ingin rasanya membeli tiket, pulang ke Jakarta, dan bersua dengan sahabat saya itu. Tapi harga tiket sedang mahal, kumaha atuh? Ingin rasanya, bicara empat mata di empat tempat. Sudah, hentikan saja peperangan. Tak ada untungnya bagi dia, bagi sesiapa pun. Jangan mau dimanfaatkan oleh orang lain. Tak perlu lagi sibuk mengurusi 'SaveUI' tempat dia berorganisasi saat ini. "Save yourself" yang utama.
Ingin saya katakan, "jika tak ingin menyelamatkan diri sendiri, minimal selamatkanlah rambut panjang teruraimu". Lumayan, bisa buat konde Jepang.
Andai saya bisa mengingatkan dia, menyelamatkan dia. We are only living on earth. Internet has shrunk it even smaller than your palms. Jika kita tak bisa menjaga nama baik di bumi, mau hidup di mana lagi? Di bulan? O, please. Neil Amstrong has returned decades ago. There is no car rental. Not even a spa. Siapa yang akan merawat tubuh indahnya?
"Promise me, you will be alright. Sudahi, minta maaf. Orang-orang Indonesia pemaaf semua, kok. Seperti saya yang selalu memaafkan setiap kamu menyakiti. Darling, whatever your sins, you would always be my friend."
(maklumi jika tulisan saya acakadul. tanpa suntingan, diketik hanya dengan satu jari)
Perempuan pertama, seorang artis beken yang sejujurnya saya kagumi. Selain berbakat, dia memiliki minat terhadap ilmu pengetahuan yang amat tinggi. Dia, berdasar berbagai sumber informasi, kuliah di banyak kampus. Pasti uangnya banyak. Pasti waktunya banyak juga. Pasti pintar. Pasti, ujung-ujung jarinya kapalan karena keseringan ngetik tugas. A black sheep within her world. Sungguh beda dengan artis kebanyakan.
Karena keseringan kuliah, sangat wajar jika artis senior bersuamikan rocker ini memiliki gelar berderet. Salah satu dari gelar itu adalah 'doktor'. Untuk mendapat gelar doktor, seseorang harus bersekolah hingga S3. Saya makin kagum. Energinya untuk belajar pasti sangat tinggi, setinggi pelangi. Atau bisa jadi lebih tinggi dari satelit Palapa.
Nah, dunia persilatan yang semula ijo royo-royo damai indah tentram sentausa, terusik gara-gara twit seorang perempuan yang akunya juga seorang 'doktor'. Perempuan kedua ini, sedang dalam tahap mula menjadi seorang artis. Dia memiliki album rekaman lagu-lagu rohani. Rohani, tak ada hubungannya dengan Eni Rohaeni, teman SD saya. Entah apa motifnya, artis junior ini gembor-gembor tentang gelar doktor si artis senior yang katanya palsu. Si artis junior, dapat bocoran dari pejabat kampus tempat si artis senior kuliah.
Ah, kok bisa si artis junior ini mengusili si artis senior? Inisiatif sendiri atau karena dimanfaatkan orang-orang di sekitarnya (kalau benar dia bergaul dengan orang)?
Eh, kok bisa pejabat kampus buka-buka cerita internal kampus ke orang lain? Hell-ooo? Apa kata Mang Dudung pemilik komedi putar keliling di Kemayoran? Apa juga kata Bi Ipit tetangga di Bogor yang penjual pecel saat saya kecil? Oh-what-so unreliable. Kalau saya punya kolega semacam itu di kampus, akan saya gembok kantornya. Biarkan saja dia berkantor di mushola sampai dia bikin pengakuan dosa ke mamang-mamang pemukul bedug: "oh, father I have sinned".
Si artis senior meradang, menerjang. Lewat blog, dia protes. Tak terima tuduhan gelar yang ia peroleh dengan susah payah air mata darah itu dianggap bukan haknya. Iyalah. Saya bisa membayangkan.
Cyberwar dimulai. Awal tahun yang biasanya hujan resolusi dari orang-orang optimis untuk menjadikan hidup lebih baik, tergantikan oleh badai kata-kata penuh ejekan dan permusuhan. Bukan sekedar dari dua artis yang sedang berseteru ini saja, pun dari pemilik account Twitter lainnya yang jumlahnya jutaan.
Indonesia adalah the capital of Twitterland di Asia. Bayangkan jika sebagian besar penghuninya nimbrung dalam perang dua artis senior-junior ini. Tak heran, jika kasus ini jadi trending, tak hanya di tanah air tempat beta dilahirkan dan disusui bunda kanduang, tapi juga menjadi trending dunia, mengalahkan berita Beyonce yang lahiran atau Kang Mas Ibas yang oh-oh-siapa-dia.
Saya, yang biasanya tak begitu rajin membuka account twitter, jadi sangat rajin. Lebih rajin dari jadual sholat harian. Penyebabnya, karena si artis junior itu orang yang pernah sangat saya kenal. Saya pernah berkuliah bareng dengan dia di sebuah universitas yang sangat terpuji, meskipun tak pernah saling contek saat ujian. Yeah, saya terlalu senang duduk di barisan kursi muka berdampingan dengan seorang mahasiswi anak Kwitang yang saat itu sedang saya taksir. Sementara si artis junior kita, keseringan duduk di bagian belakang, duduk sejajar dengan rekan mahasiswa lain yang sedikit saja kepala mereka nempel dinding, langsung pulas. Maklum, kelas malam. Sehari-hari, mereka adalah white collars dengan baju-baju licin kena lilin Trika. Meski demikian, di luar kelas, kami kompak laksana perompak Somalia.
Saya lulus dan wisuda bareng. Jadi, ketika ada ribut-ribut kalau si artis junior tak tamat kuliah S2, oh-so-wrong.
Karena merasa terlanjur dekat terlanjur sayang, saya jadi prihatin dengan kasus yang melilitnya sekarang. Saya sudah ingatkan untuk keluar saja dari peperangan. Tak ada untungnya. Namun, si artis junior merasa sudah kepalang tanggung. Jepit rambut sudah di asah, lengan baju pun sudah digulung hingga tinggi sekali, hingga mungkin kita bisa menyaksikan rimbun-rimbun kerumunan di ujung atas tangannya. Apalagi, dia merasa mendapat gelombang dukungan. Dukungan yang rasanya lebih masif dibandingkan saat Adang Daradjatun mencalonkan diri jadi gubernur DKI lalu.
Saya angkat tangan. Bukan urusan saya lagi. Sebagai sahabat, saya merasa sudah mengingatkan.
Di luar itu, seseorang dari negeri kincir angin sibuk bergerilya mencari tahu latar belakang si artis junior yang menulis di website-nya lulus dari sebuah universitas di negeri dimana dia saat ini bermukim. Bakatnya sebagai peneliti, mendorong dia melakukan riset. Padahal, Bukan urusan dia juga turun ke kancah pergolakan antara dua artis ini. Tapi, dia bilang, dia tulus ingin menyumbangkan sesuatu bagi negeri yang tak lama lagi akan memiliki gedung tertinggi kelima di dunia ini, kalau jadi di bangun.
Pendek cerita, seseorang dari negeri kincir angin, yang ternyata saya kenal jua itu, menemukan bukti bahwa tak ada bukti bahwa si artis junior pernah terbukti bersekolah di sana.
Saya terkesiap. Ah, yang boneng? Serasa terkena hantaman topan pasir kaliki. Kepala saya pening. Mual. Serasa pengen dangdutan. Ubun-ubun saya kedat-kedut. Rasanya tak percaya.
Oh, darling. Apa yang sesungguhnya sedang terjadi? Benarkah yang dibicarakan orang dari kincir angin itu oh-so-true? Ah, ingin rasanya membeli tiket, pulang ke Jakarta, dan bersua dengan sahabat saya itu. Tapi harga tiket sedang mahal, kumaha atuh? Ingin rasanya, bicara empat mata di empat tempat. Sudah, hentikan saja peperangan. Tak ada untungnya bagi dia, bagi sesiapa pun. Jangan mau dimanfaatkan oleh orang lain. Tak perlu lagi sibuk mengurusi 'SaveUI' tempat dia berorganisasi saat ini. "Save yourself" yang utama.
Ingin saya katakan, "jika tak ingin menyelamatkan diri sendiri, minimal selamatkanlah rambut panjang teruraimu". Lumayan, bisa buat konde Jepang.
Andai saya bisa mengingatkan dia, menyelamatkan dia. We are only living on earth. Internet has shrunk it even smaller than your palms. Jika kita tak bisa menjaga nama baik di bumi, mau hidup di mana lagi? Di bulan? O, please. Neil Amstrong has returned decades ago. There is no car rental. Not even a spa. Siapa yang akan merawat tubuh indahnya?
"Promise me, you will be alright. Sudahi, minta maaf. Orang-orang Indonesia pemaaf semua, kok. Seperti saya yang selalu memaafkan setiap kamu menyakiti. Darling, whatever your sins, you would always be my friend."
(maklumi jika tulisan saya acakadul. tanpa suntingan, diketik hanya dengan satu jari)
Comments