Sri Lankans call it 'metered taxi', or 'tuktuk'. We say it's 'bajaj'. Bentuknya sama persis dengan bajaj yang banyak di Jakarta, namun suaranya sangat halus dan mereka punya argometer. Tiap naik, harga minimum yang harus dibayar adalah 50 Rupee. Apakah tidak ada taxi sedan atau yang mirip sedan? Saya hampir berpikir demikian. Soalnya, selama dua hari saya tinggal di Colombo, saya belum pernah lihat taxi yang benar-benar taxi pada umumnya. Namun tadi malam sepulang dari konferensi, saya melihat satu sedan mini dengan karakterisitk taxi masuk halaman hotel. Mungkin memang jarang.
Pemprov DKI serius untuk menelikung para perokok aktif. Setelah mengeluarkan larangan merokok di beberapa kawasan, disusul dengan larangan beriklan bagi produsen rokok di jalan-jalan protokol. Mestinya, mulai Maret lalu, billboard iklan rokok yang semarak di sepanjang Sudirman, Gatot Subroto, dll itu tak sudah tak boleh lagi terpasang. Namun, pengecualian bagi pemasang iklan yang masa tayangnya belum habis, ditunggu hingga akhir masa kontrak. Sesederhana itukah? Seperti bisa ditebak, larangan-larangan apa pun yang diberlakukan pasti selalu diikuti sebuah koalisi kolusi. Tak ada hukuman bagi pengiklan iklan yang masih memasang billboardnya di sana walaupun tenggang waktu sudah terlewat. Yang terjadi adalah, adanya perpanjangan kontrak sebelum tenggang waktu itu habis. Sehingga iklan-iklan rokok itu akan terus terpasang selama masa kontrak yang diperpanjang. Jika perlu, kontrak untuk jangka waktu hingga masa kepemimpinan Sutiyoso berakhir. Sambil berharap, pemerintah provinsi yang baru a...
Comments