Tidak setiap hari saya terjebak macet Jakarta, karena alhamdulillah, rumah saya tak terlalu jauh dari kantor di Rawamangun. Dan selalu melawan arus macet begitu pergi dan pulang. Namun setiap Rabu saya mengajar di London School di Sudirman. Pergi pagi, pulang sore. Pas banget dengan ritme Jakarta yang sesungguhnya. Sore ini, saya ada janji bertemu seseorang di Plaza Indonesia seselesai mengajar. Jarak yang tak lebih dari dua kilometer ini memerlukan 60 menit berkendara! Sinting. Tapi kalau saya cerita ke orang lain tentang pengalaman saya ini, orang akan memandang saya aneh karena cerita saya bukan sesuatu yang aneh bagi orang kebanyakan. Tiba-tiba kangen Australia.
Pemprov DKI serius untuk menelikung para perokok aktif. Setelah mengeluarkan larangan merokok di beberapa kawasan, disusul dengan larangan beriklan bagi produsen rokok di jalan-jalan protokol. Mestinya, mulai Maret lalu, billboard iklan rokok yang semarak di sepanjang Sudirman, Gatot Subroto, dll itu tak sudah tak boleh lagi terpasang. Namun, pengecualian bagi pemasang iklan yang masa tayangnya belum habis, ditunggu hingga akhir masa kontrak. Sesederhana itukah? Seperti bisa ditebak, larangan-larangan apa pun yang diberlakukan pasti selalu diikuti sebuah koalisi kolusi. Tak ada hukuman bagi pengiklan iklan yang masih memasang billboardnya di sana walaupun tenggang waktu sudah terlewat. Yang terjadi adalah, adanya perpanjangan kontrak sebelum tenggang waktu itu habis. Sehingga iklan-iklan rokok itu akan terus terpasang selama masa kontrak yang diperpanjang. Jika perlu, kontrak untuk jangka waktu hingga masa kepemimpinan Sutiyoso berakhir. Sambil berharap, pemerintah provinsi yang baru a...
Comments