Menurut saya, perempuan yang menyusui bayinya adalah makhluk termulya di muka bumi ini. Bayangkan, dengan itu ia memberi kehidupan. Tuhan memberikan banyak dispensasi bagi Ibu yang menyusui, misalnya dengan tidak mengharuskan ia berpuasa.
Namun tugas mulya ini tak selalu bisa dilakukan oleh Ibu. Salah satu hambatannya adalah tubuh Ibu belum lancar memproduksi air susu. Air Susu Ibu diberitakan sangat baik untuk bayi agar bisa lebih imun dan dapat meningkatkan kecerdasan.
Memasuki hari keenam, Istri saya mendapati air susunya tak mengalir dengan baik. Hanya beberapa tetes saja hingga tak cukup memenuhi lambung si bayi. Tangisan bayi yang melengking membuat hati pilu.
Dengan sangat terpaksa akhirnya saya meluluskan permintaan istri, mencampur ASI dengan susu formula. Bukan karena issue bakteri yang belakangan ramai jadi topik berita, tapi karena memang saya lebih suka jika bayi-bayi mestinya hanya minum ASI saja. Apalagi bayi saya sendiri. Namun ternyata saya perlu kompromi.
Adalah hak bayi untuk mendapatkan yang terbaik bagi hidupnya. Karena ia belum berdaya menuntut, orang tualah yang mestinya memperjuangkannya. Betapa saya Bapak yang tak berguna. Inisiasi Menyusui Dini tak berhasil dilakukan. Kini ASI ekslusif juga gagal. Maafkan Bapakmu, Anakku.
Remeh temeh cerita sehari-sehari, prasasti bahwa saya pernah singgah di planet ini
Comments