Skip to main content

Posts

Basil mengamati satu tumbuhan semak berdaun putih Bagi Basil, apapun asal bikin senang
Beres menjemput Basil dari kindie, giliran menjemput istri di stasiun.
Pelangi pagi hari Sepatu sudah bolong kiri kanan Kantor cleaner Pagi-pagi, pulang kerja sudah disuguhi pelangi. Pemandangan yang jarang terjadi.

The 400 Blows

Film Prancis buatan tahun 1957. Masih hitam putih. Tentang seorang anak SD yang tanpa disadarinya, melakukan transformasi dari sekedar anak polos, menjadi anak asuhan negara karena kriminalitas yang dibuatnya, hingga ia harus menghuni penjara anak. Dengan akting yang wajar, editing, dan alur cerita yang mengalir deras, film ini, menurut saya berhasil  menyampaikan pesan moral.  Rupanya, faktor orang tua, guru di kelas, dan teman bermain, bisa menentukan kemana nasib seseorang. Bahkan itu terjadi pada seorang anak. Poster DVD Suasana kelas Ayah yang pemarah Tertangkap mencuri mesin tik Sahabat yang menjerumuskan Ibu yang selingkuh Guru yang pemarah dan sok disiplin 

Doodle - Mother's Day

My Online Survey

Alhamdulillah, hingga hari ke 30 ini, saya sudah mendapatkan 276 responden yang mengisi kuesioner online untuk projek PhD saya. Tinggal 24 orang lagi. Mudaha-mudahan dalam tiga hari ke depan, angka 300 bisa tercapai.  Sebetulnya, jika menurut teori, 200 responden saja sudah cukup. Tapi supervisor maunya 300. Baiklah. Setelah melihat sebaran dari mana saja para responden itu berasal, sepertinya saya masih akan terus mencari, hingga angka 300 itu hanya ditempati oleh orang-orang yang sedang berdomisili di Australia saja. Tapi tentu saja ini bukan harga mati. Jika bisa, ayo. Jika mentok, tak apa-apa. Saya targetkan hingga akhir Juni nanti. Membuat survey secara online ternyata mudah tapi susah. Saya sempat kelabakan ketika dua minggu pertama, tak banyak respon yang saya terima dari target sample yang saya harapkan, yaitu orang-orang yang berdomisili di Australia. Akhirnya, untuk menghibur diri, saya sebarkan juga ke teman-teman di Indonesia, dan sejumlah negara lain. Kembali ...

FPI, Lady Gaga, dan Lucifer

FPI tak henti-hentinya menunjukkan sebagai organisasi dengan cedera otak tingkat tinggi. Setelah dengan sangat memalukan mendemo orang-orang yang sedang menuntut ilmu di Salirara, Jakarta, dengan menggunakan alasan asal, berikutnya dengan galak menolak konser Lady Gaga. Pun dengan alasan tak masuk akal.  Tokoh FPI percaya bahwa Lady Gaga penganut aliran Lucifer, penyembah setan, orang-orang yang telah menjual jiwanya kepada setan, demi mendapat kedigjayaan di bumi. Itu mengapa organisasi yang bermarkas di Tanah Abang itu keukeuh untuk menolah penyanyi Amerika ini tampil di Indonesia. Rada aneh alasan preman berjubah ini. Sebelumnya, mereka bilang, Lady Gaga tak layak tampil di tanah air karena sering menggunakan busana minim di panggung. Tak perlu repot berdemo kalau begitu, tinggal kirim surat ke penyelenggara acara saja untuk menyarankan agar si artis berbusana tertutup. Sekarang alasannya bertambah: karena Lady Gaga penyembah setan. Saya sudah mengetahui berit...