Skip to main content

Posts

Move to Another Level

Saya mulai bisa mendeskripsikan level hidup apa yang hendak saya masuki. Saya ingin berganti kelas. Beberapa bulan terakhir saya secara sadar memasuki kelas tawakkal. Saya merasa telah berhasil melaluinya. Kelas tawakkal berisi pelajaran-pelajaran tentang bagaimana menerima dan melepaskan sesuatu dengan tingkat emosi dan perasaan yang balance. Tak duka berlebihan tak marah tak menyesal ketika kehilangan, tak gembira berlebihan tak jumawa. Sepuluh ribu di kantong, bisa saja sama nilainya dengan sejuta. Makan di pingir jalan, bisa saja sama nilainya dengan makan di hotel berbintang lima. Sendiri atau ditemani, pergi atau ditinggalkan, dikhianati atau dicintai. Hati saya akan baik-baik saja karena semua perasaan dan kejadian dan kepemilikan hanyalah titipan. Taka ada sesuatu hal pun abadi adanya. Alhamdulillah, syukur puji tuhan. Kelas itu telah membentuk pribadi saya yang baru. Kesederhanaan, karena tak ada yang sesungguhnya rumit. Keindahan, karena semuanya indah. Saya ingin berganti le...

Memahami Tuhan dengan Logika

Pelajaran tentang iman dan saya berpikir santai bahwa tuhan tak ada hubungannya dengan berbagai kejadian di dunia. Semua hal bisa terjadi karena adanya sebab akibat. Mengapa banjir kita tahu mengapa. Mengapa gempa bumi dan lalu tsunami kita pun tahu mengapa. Mengapa pecah perang Libanon pun kita tahu mengapa. Orang beragama akan percaya bahwa kita manusia sedang diuji. Katanya, manusia sedang diberi pelajaran karena dosa-dosanya. Dosa setiap orang berbeda banyaknya. Adilkah jika seorang bocah kecil yang malas bangun pagi mati tertimpa dinding rumah dihukum dengan dilenyapkan nyawanya? Adil pulakah seorang isteri yang malam sebelumnya tak melayani suaminya dengan baik diganjar dengan hukuman mati gelombang tsunami? Padahal para pejabat yang menelan milyaran uang negara masih uncang-uncang kaki di rumah mewahnya yang kuat dan kokoh. Tuhan penyayang. Jika melukakan, menghilangkan, merusakkan, mendukakan, apa nama pengganti dari kata sebutan penyayang? Well, bisa sejuta a...

Wherethe Destination is Still Under Construction

Belakangan ini hati saya diganggu sejumlah pertanyaan dari kanan kiri. What are you looking for then for your life? I need sometime to think about it. Yeah, what do i look for now? Money? Career? Both that I stop thinking about.  I need to move myself to other level. Which level? Then the question run after me. I said, a higher level in spiritual way, with full pocket, busy of traveling, and friends everywhere. Gees... Now, where am I? Moved my ass already?

Desperate Housewives

Baru kelar menonton komplit serial Desperate Housewives second season. Tontonan ibu-ibu, sih. But, who cares?

She Flash Cologne: She is So Rude

Pernah lihat TVC Sunsilk versi anak sekolahan (cewe-cewe) dan ibu gurunya yang segar itu? Iklan ini mengkampanyekan Sunsilk Class. Ya, urusan ceweklah. Ide membawa suasana kelas ke TVC belakangan ini, muncul juga di TVC She flash cologne. Para siswi tampak exited menggunakan cologne tersebut. Saking exitednya, sampai-sampai sang guru (kalo dilihat dari porfile-nya, mestinya sudah pensiun) kewalahan berkonsentrasi untuk menulis soal-soal aljabar di papan tulis. Jadi ingat masa sekolah dulu ngerjai guru di kelas. Ingat film-film Rano Karno. Belakangan ini, saya terlibat dalam pembuatan video dokumentasi tentang guru. The real guru, bukan guru dalam film atau iklan. Dalam sebuah kegiatan yang diikuti oleh guru dari berbagai provinsi di tanah air, saya mendengarkan kesaksian mereka tentang karir sebagai guru dan standar hidup yang harus mereka jalani. Miris sekali. Anda semua tahu, berapa gaji yang mereka terima setiap bulannya. Apalagi untuk gaji guru honor. Please, deh....

Kembali ke Sekolah

Sejak Senin lalu, anak sekolah kembali beraktivitas. Kelas baru, seragam baru, ...

Selamat Sore, Jakarta

I am so enjoying the town when the sun falls. No raining. No sweat.