Skip to main content

Posts

Bujang Gendut!

Belum kawin juga? Inget umur! Gendut. Olah raga, dong! Masih indekos? Kapan punya rumah? Kayaknya loe bau, deh. Jorok! Heran. Kok bisa, sih, loe ngga suka jazz? Bagaimana bisa berwibawa kalo makanan pedas aja nggak suka? Dear, oh, dear. Bersyukurlah dengan apa yang kalian miliki sekarang. Pegang erat-erat supaya bisa kalian miliki selama kalian kehendaki: pasangan hidup, kekayaan, kesohoran, pangkat, selera tentang musik, makanan, ... Seakan mereka akan abadi menjadi milik kalian. Seakan semua itulah yang membahagian kalian. Namun apakah yang menjadi patokan tentang status sosial dan standar moral yang kalian miliki bisa juga menjadi patokan bagi saya? Dengan itukah kemudian kalian merasa punya hak untuk menghakimi dan menjalimi saya yang tidak seberuntung kalian? Karena saya masih bujang? Karena saya berperut gendut? Karena saya belum punya rumah? Karena badan saya tidak wangi? Karena saya lebih suka new age ? Karena saya tak memilih camu-camu? Ah, saya marah, ya?

Dilayani Ibu

Saya mengunjungi ibu. Kabarnya baik. Rambut putihnya bertambah lima helai dari terakhir saya bertemu. Kerut di wajahnya juga bertambah lima garis. Namun cahaya yang terpancang makin bersinar lima ribu kali lebih terang dari biasanya. Ibu bertanya tentang kabar saya. Saya bercerita tentang pekerjaan, atasan saya, klien-klien saya, mantan-mantan atasan saya, tentang sahabat-sahabat saya, tentang prinsip 'mengalir' yang sedang saya pelajari. Ibu bertanya tentang perjalanan saya ke luar kota pekan lalu. Saya bercerita tentang Sukabumi, tentang Bandung. Lalu ibu bercerita tentang dua sepupu yang dalam waktu dekat akan menikah. Ibu bercerita tentang jalan tol Cipularang yang amblas. Ibu bercerita tentang Betti La Fea, Armando, dan Marcella. Ibu bercerita tentang Cut Memey dan kawin siri. Ibu menyiapkan saya makan siang. Saya melahap buku. Ibu menyiapkan saya kamar untuk tidur siang. Saya meniduri buku. Saya membiarkan Ibu melayani. Kata Ibu suatu ketika, "Melayani anak juga ibad...

Senandung Bandung

Saya tak pernah bilang, 'ya, saya pasti ikut' untuk setiap ajakan yang terima. biasanya saya akan bilang, 'saya tertarik, saya akan usahakan ikut.' mendekati waktunya, ketika dipastikan saya betul-betul bisa, baru saya akan katakan bisa.' saya tak ingin banyak berjanji. For some people, the way i respond can be annoying karena terkesan menggantung. mungkin saja begitu. tapi tentu saja bukan maksud saya seperti itu. Saya hanya ingin menjalankan prinsip hidup mengalir. jika kemudian, misalnya, atas berbagai alasan saya harus tidak disertakan dalam ajakan tersebut, saya ambil resiko. Saya tak perlu kecewa. Saya mencoba merasa tak terlalu dibutuhkan atau terlalu tak dihiraukan. silakan. Sombong? N ot at all. i just, here i am. You'll see i am in my presence, only. So, ketika mendapat ajakan beberapa minggu sebelumnya untuk join pada trip [seorang teman menikah] ke bandung hari minggu lalu, saya katakan hal yang sama di atas. Saya percaya...

Saturdary Solidarity

ketika saya selalu berharap: please god just find me good environments and people, salah satu jawabannya adalah saya dipertemukan dengan yudhistira juwono, lelaki saleh yang bertanggung jawab atas penggalangan dana dari penjualan gelang merah ' solidaritas kebersamaan '. last saturday was my first time i met him. walaupun hanya dalam hitungan menit saya bergaul, saya merasa begitu yakin bahwa orang yang saya temui adalah manusia pilihan berhati malaikat. dia curahkan jiwa, raga, ide, waktu, tenaga, untuk melayani banyak orang. orang-orang asing yang tak ia kenal bahkan. kami bersama dalam rangka peresmian sekolah dasar yang berhasil direnovasi, sd cirampo, jampang tengah, jawa barat. jika tiga bulan sebelumnya pihak sekolah tidak dipertemukan dengan pemilik yayasan tunas cendekia ini, mungkin bangunan sekolah itu masih akan menjadi onggokan bangunan rubuh. dana yang digelontorkan, tentu saja hasil dari penjualan gelang merah yang hingga awal tahun ini telah ...

Prasangka

yes. kadang kita berprasangka untuk sesuatu yang kita tidak tahu pasti. prasangka membuat hati dan pikiran kita tertutup dari kebenaran. melihat ke belakang, tak ada suatu kejadian apapun y ang bisa dijadikan sebuah tonggak. tak ada perselisihan, tak ada percekcokan. tentu saja membingungkan. hingga beberapa hari lalu saya beranikan mengiriminya sebuah email. saya mulai bertanya. apa yang terjadi? sebuah email jawaban datang keesokan harinya. panjang sekali. sebuah kumulatif perasaan yang dia ditimbun rupanya. saya kaget, sedih, terharu. ketaksukaan dari sebuah prasangka yang sesungguhnya tak berhubungan dengan saya sama sekali. ada seorang teman saya yang lain, saya sebut joe, melakukan sebuah perbuatan yang merugikan eddi. karena eddi menilai kalau saya sangat dekat joe, eddi berasumsi saya tahu perbuatan joe, mungkin turut mendukung atau bahkan berkonspirasi. ah, terjawab sudah kebingungan saya itu. mudah-mudahan saya selalu berprasangka baik terhadap apa pun dan siapa pun.

memanggil jiwa

kesal. ketika mengharap orang-orang di sekitar saya melakukan seperti yang saya inginkan namun kenyataannya mereka mengabaikan. padahal tentu saja hal ini bukan untuk kepentingan saya pribadi. namun ketika ketika saya dan orang-orang itu berada pada tingkat kesadaran berbeda, tidak perlu kaget jika hasilnya tak akan maksimal. lalu, ketika kemarahan tak bisa tersalurkan, saya memanggil mereka. bukan, bukan fisik mereka. saya memanggil jiwa mereka. saya ajak mereka bicara. saya omeli mereka. hingga unek-unek saya keluar semua. plong.

berseteru dengan ibu

seorang sahabat mengeluh berkali-kali tentang hubungan dengan ibunya yang tak harmonis. menurutnya, ada saja hal yang selalu diangkat ibunya untuk dijadikan masalah. selain itu, dia merasa ibunya lebih perhatian dan sayang sama saudara-saudaranya yang lain. well, perasaan dia sajakah? saya menemukan ini bukan cerita pertama yang saya dengar. beberapa teman lain pun ada yang punya kasus serupa. ketika sahabat saya itu meminta saran saya, tentu saja saya bingung. saya tidak tahu pasti persoalannya. apakah benar ibunya yang menjengkelkan atau sahabat saya itu yang memang trouble maker. yang jelas, saya tak punya pengalaman seburuk itu. ibu saya baik-baik saja kepada semua anaknya. tak pernah beliau memberikan kasih sayangnya berbeda dari satu anak ke anak lainnya. namun akhirnya saya memberinya perumpamaan. anggap saja ibu adalah yang paling benar. anggap saja ibu yang paling sempurna. anggap saja ibu sedang mendidik kita. anggap kita anak kecilnya (terus). anggap kita memang selalu sal...