Skip to main content

Posts

Saya Ingin Sekali Memelihara Anjing

Saya selalu ingin punya anjing. Keinginan ini ada dari saya masih kecil, bahkan ketika seekor anjing setinggi badan saya menggonggong keras dan menarik-narik celana saya dengan moncongnya saat saya belum usia sekolah, keinginan itu sudah ada. Saya membayangkan anjing super keren yang main di 'Joe Run Joe', film tv yang sempat diputar di TVRI tahun 70an. Lalu saya pun pernah membayangkan sebagai bagian dari Lima Sekawan, tentang empat bocah detektif dan seekor anjing bernama Timmy yang serialnya pernah ditayangkan TVRI awal 80-an. Lalu ada Lassie, lalu ada Boomer di tv. Keinginan saya tak pernah padam. Since we're moslems, anjing bukanlah binatang peliharaan di rumah. Saya pernah punya puluhan merpati dan belasan kelinci. Tapi mereka beda dengan anjing. Saya timbun keinginan itu, berharap kelak kalau sudah dewasa, saya ingin memilikinya. Tinggal dari rumah kos satu ke rumah kos lainnya, sangat mustahil saya wujudkan impian saya. Ketika saya bisa menempati sebuah rumah sendir...

Mencari Orang Kampungan di Jakarta

Menurut Anda, area mana di Jakarta Raya ini yang masih layak di sebuat kampung? Apakah wilayah-wilayah yang masih menggunakan kata 'kampung' seperti Kampung Melayu, Kampung Bali, Kampung Rambutan? Atau sebenarnya istilah kampung lebih tepat ditujukan pada masyarakat yang sikap, perilaku, dan pikirannya masih kedaerahan? Tak seorang pun mau dicap 'kampungan'. Karena kampungan, seseorang dianggap nyeleneh, 'beda' dari yang lain. Beberapa bulan terakhir, saya tinggal di sebuah wilayah bernama Cempaka Putih. Melewati sejumlah jalan empat meteran yang disesaki oleh parkiran, pedagang kaki lima, dan berbagai rongsokan seperti mobil tua, gerobak tua, pos kampling tua. Kesesakan itu, masih ditambah dengan mikrolet, bajaj, ojek, metromini, kendaraan pribadi, gerobak sampah, sepeda, dll. Sebetulnya, inilah potret Jakarta sesungguhnya. Cempaka Putih hanyalah sebagian sample saja. Bulan Agustus ini, saya banyak terkesima. Betapa sulitnya mencari jalan pulang! Sebagian jalan...

Suicide .Com

Membaca detikom, ada dua berita bunuh diri yang saya baca hari ini, Senin, 27 Agustus. Pertama, kasus Apartemen Ambasador. Seorang ibu yang melompat dari lantai 35 bersama seorang anaknya yang baru berusia 2 tahun. Kasus kedua menimpa Owen Wilson. Aktor Hollywood yang populer, ganteng, kaya. Namun Owen berhasil diselamatkan. Sebagian besar orang menghindari kematian karena hidup begitu besar artinya. Kita berjuang dari mara bahaya agar selamat. Kita berobat ketika sakit biar bisa sembuh. Kita berdoa setiap ulang tahun agar dipanjangkan umur. Kita berhati-hati setiap saat agar bisa survive. Namun, ada saja yang ingin menjemput kematian agar segera datang. Tak kunjung datang, jalan pintas-lah yang mereka ambil. Sebagian dari kita akan dengan mudah menghujat betapa bodohnya orang-orang yang ingin mengakhiri hidup dengan membunuh diri. Tentu saja karena kita memegang norma agama yang sejak kecil menjadi dogma. Saya tak pernah mengalami depresi yang sangat sehingga perlu mematikan diri send...

Indosat Sesat

Belum lama seorang perempuan muda (dari suaranya) menelpon. Memperkenalkan diri, mengaku dari Indosat Matrix. - Selamat siang. Nama saya ..., dari Indosat. Apakah Bapak bernama Usep Suhud? + Ya. - Apakah Bapak beralamaat di bla bla bla... + Ya. - Saya sedang melakukan pencocokan data, barangkali data Bapak ada yang berubah. + Silakan. - Apakah tanggal lahir Bapak masih tanggal ... bulan ... tahun ...? + Eit? Anda dari mana tadi? Apakah percakapan ini direkam? - Ya, Pak. - Pertanyaan aneh. Bilang kepada Supervisor atau Manager Anda, jangan pernah ajukan pertanyaan bodoh seperti itu. Sejak kapan ada orang punya tanggal lahir berubah-rubah? Saya tak percaya kepada Anda. [Saya curiga modus operandi seperti ini. Seseorang menelpon berlagak mencocokkan data kita. Biasanya pemilik data (contoh, Indosat) menjual data kepada pihak lain, seperti perusahaan asuransi, membership club atau hotel, kartu kredit, dll] - Jika Bapak tak percaya, silakan hubungi kami, Wisma Antara lantai 8, telpon 30070...

Lirikan Si Buta

Kerap kali kita menjuluki orang lain dengan ciri-ciri fisik yang mereka miliki: Pitak, Panjul, Gendut, Gepeng, Pesek, Item, Dekil, Kucai, Kribo, Bule, Bencong, Pincang, Jereng, Jenong, Ginong, Petet. Bahkan ada seorang sahabat yang karena sudah sangat besar tak juga disunat kami namai Si Kulup. Atau memplesetkan nama-nama sahabat kita menjadi sebuah nama baru yang menurut kita lucu. Apalagi jika ditambah dengan sifat-sifat atau tindakan konyol yang pernah dilakukan atau terjadi oleh sahabat kita itu. Rinjud: Rini Judes, Ema Pelit, Suteja: Suka Tete Janda, Santi Suge: Susu Gede. Atau kita memanggil mereka dengan nama orang tuanya. Seusia sekarang, saya betul-betul menghindari tindakan-tindakan yang mungkin bisa berdampak buruk bagi diri saya sendiri maupun orang lain. Saya masih sering mendengar, entah untuk lucu-lucuan, enatah untuk mengakrabkan diri, entah sengaja untuk menyakiti perasaan, beberapa dari sahabat saya memanggil sahabat lainnya tidak dengan nama sesuangguhnya. Waktu keci...

A Lesson Named Vietnam

Traveling ke luar negeri telah menjadi agenda tahunan saya. Bahkan kadang setahun bisa dua kali. Bukan karena banyak uang seperti banyak orang sangkakan. Kalau sudah menjadi kebutuhan, siapa pun akan setuju bahwa kebiasaan ini memang perlu terus dilakukan. Bukan traveling dengan gaya kelas atas, cukup backpacking. Jika dibandingkan dengan turis-turis di Jakarta, tak jauh seperti yang terlihat di Jalan Jaksa. Perjalanan yang penuh dengan kesederhanaan. Seringnya pergi sendiri. Pernah pergi berdua dengan sahabat, pernah pergi dengan banyak sahabat. Namun sendirian memiliki kemerdekaan yang berbeda. Lebih sedap. Lebih pol. Namun kali ini saya pergi tidak sendiri. Saya memilih istri saya sebagai travelmate. Saya bukan menikahi seorang polwan dengan segala kecekatannya. Saya bukan menikahi seorang pecinta wisata alam yang selalu siap dengan segala cuaca dan kondisi. Bersama para perempuan yang pada tahun-tahun terakhir ini telah menjadi sahabat yang amat diandalkan, yang pernah melew...

For A Reason, for A Season, Forever

Mestinya saya punya hubungan baik dengan Bapak. Tapi saya terlalu 'membalas' kekakuan Bapak. Hubungan kami jadi aneh. Saya menilai mestinya Bapak yang membuat hubungan bapak-anak menjadi mesra, bukan saya. Mestinya ia tak perlu terlalu sok menjadi seorang bapak sehingga semuanya mesti ia yang mengatur, ia yang memutuskan. Ia tak perlu menjadi sok melindungi, sok memilihkan. Beberapa tahun setelah meninggalnya Bapak, saya baru berpikir. Mengapa bukan saya saja yang mengalah? Mengapa bukan saya saja yang berinisiatif memulai semua percakapan? Tanya tentang apa saja. Bisa yang serius atau sekedar basa basi. Misalnya: Apakah air irigasi lancar? Kapan panen okra lagi? Bagaimana harga pupuk sekaran? Apa kabarnya Oom Anwar, ya? Kapan terakhir ke dokter, perlu diantar untuk medical check up? Bla bla bla. Saya tak lagi punya kesempatan bermanis-manis seperti itu terhadap Bapak. Tak akan pernah lagi. Tinggal Ibu yang kini menjadi orang tua. Saya tak mau penilaian saya kembali sala...