Skip to main content

Posts

JJS - Jalan Jumat Sore

Pemain sirkus di Hay St Pameran AC/DC di WA Museum Sebuah patung di depan WA Gallery Matahari sore di depan State Library Sekelompok turis menyaksikan jam gadang di depan London Court Jembatan penghubung Perth Station dan Myer Salah satu jurnal yang saya baca Akhirnya cita-cita kecil saya kesampean : menjenguk kota. Sudah lama rasanya tidak melihat suasana kota. Karena jalan sendiri, saya bebas kemana saja menentukan mau kemana. Diawali dengan makan siang yang telat di Taka restoran, saya lanjutkan dengan leyeh-leyeh di depan WA Museum. Lumayan ada beberapa jurnal yang bisa saya lahap di sana.  Menjelang museum tutup, saya menyelinap ke sana. Ada pameran AC/DC yang layak untuk diintip. Sejarah perjalanan grup musik itu sangat menarik untuk disajikan. Karena tak boleh membuat dokumentasi foto, saya membuat catatan saja. Siapa tahu kelak saya bisa membuat hal serupa di tanah air.  Setelah itu, seperti tujuan semula, saya keluyuran saj...

Mencari Rumah Dekat Kampus

Begitu selesai inspeksi rumah, saya lihat pelangi di atas atap. Ah, pertanda baik ini. Semoga. Rumah yang saya lamar, ketiga dari kiri Karena saya berencana membawa istri dan anak saya tinggal di Perth mulai Juni nanti, saya sudah ambil ancang-ancang mencari rumah sewa, tidak tinggal di shared house seperti sekarang.Saya sengaja mencari yang tidak terlalu jauh dari kampus, biar tidak buang waktu di jalan. Meskipun Joondalup jauh dari kota, tapi hampir semua rumah di kawasan ini baru. Makanya harganya tidak ada yang murah. Salah satu yang saya lihat, harga sewa per minggunya 240 dolar. Tetap saja bagi saya masih mahal jika melihat ke jumlah uang beasiswa yang saya terima tiap bulan. Namun jika harus mencari yang lebih murah dari itu, rasanya malah sangat sulit.  Rumah yang saya lihat Kamis sore itu, letaknya di bagian utara kampus, sekitar 1 km. Dekat dengan pusat perbelanjaan dan transportasi umum. Sayangnya, cuma apartemen studio. However, saya sudah melamar ke...

Nawaitu, Beli Tiket ke NY

Suatu ketika di bulan November 2010, saya membuat satu keinginan: bepergian ke New York. Agak heran juga, padahal Amerika bukanlah negara yang ingin saya kunjungi sangat. Namun saat itu tiba-tiba saja ide itu terbersit. Karena tak mungkin pergi ke sana hanya sekedar untuk jalan-jalan, saya harus punya alasan cerdas, yaitu mengikuti sebuah konferensi ilmiah. Mulailah saya berburu konferensi yang akan diselenggarakan tahun 2011 ini di kota New York, yang thema kegiatannya sesuai dengan topik penelitian saya. Ah, ada!  Saya memiliki sebuah draft penelitian tentang volunteerism dan social media. Pada paruh semester kedua tahun lalu, nama Tifatul Sembiring sangat populer di Twitter karena beberapa perilakunya yang agak abnormal. Misalnya, menyatakan bahwa bencana itu adalah azab dari Tuhan. Lain kalin dia bilang bahwa salaman dengan isteri Obama adalah hal yang keliru. Di waktu lain lagi, dia mengumumkan aturan akan mencekal Blackberry melalui Twitter dari pada press release ...

Scream 4

Nonton film horor? Yakin, tidak yakin. Tapi ketika 'Scream 4' mulai tayang, segera saya iyakan ketika diajak sejumlah sahabat untuk menonton. Nomat, 10 dolar.  Bagi saya, menonton film ini ibarat melakukan pilgrim ke masa lalu, ketika hampir setiap minggu dengan teman-teman kantor ke bioskop: Kelapa Gading, TIM, atau Megaria. Cari yang murah saja. Sementara jalan cerita dan segala tetek bengek teknik film, saya abaikan. Tak bagus soalnya. 

Kampanye Erwin Aksa

Perhatian saya tertumpu pada sebuah iklan online di Detik.com dan Vivanews.com, seserorang bernama Erwin Aksa berniat melakukan reformasi dalam tubuh PSSI. Dia mau jadi ketua umum PSSI. Siapa dia?  Gampang. Saya tinggal mengetikkan nama dia di Google. Voila... O, dia presiden Hipmi. O, dia juga CEO sebuah grup perusahaan besar. O, dia kelahiran tahun 1975. O, dia berasal dari Sulawesi Selatan. Banyak O yang dia buat. Tentu saja, karena mata dan telinga saya kurang begitu akrab dengan nama dia. Pasti dia orang hebat. Jadi CEO dan ketua HIPMI saja sudah dipastikan membuat dia sibuk. Jika masih mau bersibuk-sibuk di organisasi sekelas PSSI, pastilah dia orang hebat (tahan nafas...).  Karena saya tidak tinggal di Indonesia, saya tidak tahu persis apa dia juga pasang iklan di media lain selain internet. Pertanyaan saya: untuk mencalonkan diri sebagai ketua PSSI saja harus beriklan di media, ya? Bukankah pemilik suara hanya orang-orang terntentu yang memang berkecimpun...

Apa Rencana Setelah Selesai S3?

Salah seorang mantan mahasiswa saya bertanya, setelah selesai kuliah ini, apa rencana saya. Saya jawab belum tahu, yang membuat dia kaget. "Udah kuliah jauh-jauh, masak belum tahu rencana setelah selesai mau apa?" Saya tertegun sejenak. Buru-buru saya meralat.  Pertanyaan yang menyengat. Menyadarkan saya bahwa saya harus selalu punya rencana dan cita-cita jelas. Sejujurnya, andai saya bebas memutuskan setelah kuliah S3 ini selesai saya mau apa, mungkin saya akan sangat bersenang hati. Nyatanya, sebagai dosen di sebuah perguruan tinggi negeri yang berangkat kuliah karena beasiswa dari uang pinjaman kampus ke pihak lain, tentu diharapkan saya harus kembali ke kampus, mengabdi di sana. Keinginan untuk menjajal kemampuan mengajar atau bekerja di luar negeri mestinya dihapus. Tentu, saya punya sejumlah ambisi pribadi, sudah saya rencanakan. Selain mengajar, misalnya, saya ingin melakukan banyak penelitian dan menulis buku. Saat ini, menjalani peran sebagai mahasiswa P...

Mengapa Artikel Kompas.com Banyak Dikomentari Pembacanya?

Sebagai orang Indonesia, tentu saya tak mau kehilangan informasi tentang keadaan tanah air. Lalu saya dengan setia membaca portal-portal asal tanah air, seperti misalnya Kompas.com dan Tempointeraktif.com. Mengikuti berita dari negeri sendiri membuat perasaan dan ikatan emosi saya terhadap Ibu Pertiwi tetap terjaga. Selain berita yang disajikan, kadang saya juga melirik komentar dari para pembaca. Lalu saya membandingkan dengan yang terjadi pada artikel-artikel yang ditulis kedua portal berita online tersebut. Mengapa setiap artikel Kompas.com selalu dibanjiri komentar oleh para pembacanya sementara Tempointeraktif.com tidak?  Setelah sekian lama mengamati, saya menduga bahwa kelompok pembaca kedua portal itu berbeda. Jelas jurnalisme Tempointeraktif.com lebih mendalam dan matang, lebih lengkap, cover both side , dan cerdas. Sementara Kompas.com, lebih menyerupai koran kuning. Dan kita tahu siapa pembaca koran kuning. Kompas.com seringkali menurunkan berita sepotong-sepoto...